Site icon Jernih.co

Spanyol Juara Piala Dunia 2026 Sabet Rp895 Miliar, Paman Sam Siap ‘Pajaki’ Bonus Pemain

JERNIH — Pesta kemenangan Tim Nasional Spanyol usai menumbangkan juara bertahan Argentina 1-0 di laga final Piala Dunia 2026 New Jersey ternyata menyisakan kerumitan finansial tersendiri. Di balik euforia trofi dan hadiah fantastis senilai US$50 juta (sekitar Rp825 miliar hingga Rp895,7 miliar) dari FIFA, para pemain dan staf La Furia Roja kini dihadapkan pada bayang-bayang potongan pajak jumbo dari otoritas fiskal Amerika Serikat.

Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) memang menikmati status bebas pajak federal AS atas total uang hadiah yang disalurkan oleh FIFA. Namun, aturan berbeda berlaku begitu dana tersebut dicairkan sebagai bonus individu untuk pemain, pelatih, hingga staf tim.

Internal Revenue Service (IRS)—lembaga pajak AS—mengkategorikan bonus partisipasi dan kemenangan selama bertanding di wilayah Amerika Serikat sebagai penghasilan bersumber dari AS (US-sourced income). “Tidak ada bedanya siapa yang memenangkan pertandingan, IRS tetap akan mendapat bagiannya,” ujar Robert Raiola, Direktur Grup Olahraga dan Hiburan di firma akuntansi dan penasihat pajak PKF O’Connor Davies.

Akibat aturan tersebut, para bintang lapangan Spanyol terancam dikenai pemotongan pajak penghasilan (withholding tax) hingga sebesar 30 persen oleh IRS.

Tak berhenti di situ, karena laga pamungkas digelar di New Jersey, sebagian bonus pemain juga menjadi objek jock tax—yaitu PPh khusus atlet profesional yang dihitung berdasarkan lokasi atau tempat mereka bertanding. Jock tax daerah ini tetap wajib dilunasi meski sang pemain nantinya memperoleh keringanan di tingkat pajak federal.

Tingkat kerumitan regulasi pajak pada edisi Piala Dunia kali ini bahkan mendapat skor 8 dari 10 oleh Manajer Senior Praktik Pajak Nasional KPMG di Washington, Rob Fagan.

“Hanya karena federasinya kebal pajak, bukan berarti pemain, pelatih, atau staf yang menerima bayaran juga otomatis bebas pajak AS. Itu adalah kesalahpahaman yang sangat umum,” tegas Fagan. “Pemain top mungkin didampingi tim ahli keuangan untuk menavigasi labirin pajak ini. Namun bagi pemain muda yang baru pertama merasakan sorotan global, mereka pasti kaget.”

Labirin ‘Tax Treaty’ dan Domisili Klub Pemain

Bagi para pemain Spanyol, salah satu celah untuk menekan beban pemotongan pajak ini adalah dengan memanfaatkan Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (tax treaty / P3B) antara AS dan negara domisili mereka. Amerika Serikat sendiri tercatat sudah memiliki tax treaty resmi dengan Spanyol.

Namun, penyelesaiannya tidak sesederhana itu. Direktur Grup Pajak Internasional PKF O’Connor Davies, Christopher Hall, menjelaskan bahwa perlakuan pajak pada tiap pemain di dalam satu skuad bisa berbeda-beda tergantung status domisili pajak individualnya.

Seorang pemain berkebangsaan Spanyol yang berkarier dan membayarkan pajaknya di Inggris (Premier League) atau Italia (Serie A), misalnya, akan tunduk pada aturan tax treaty yang berbeda dibanding rekannya yang bermain di La Liga Spanyol.

“Bahkan di dalam satu tim yang sama, bisa jadi ada pemberlakuan pajak yang berbeda-beda untuk setiap pemain. Anda harus membedah dan melihat satu per satu,” papar Hall.

Hadiah US$50 juta yang diraih Spanyol sebenarnya hanyalah bagian kecil dari total pundi-pundi turnamen Piala Dunia 2026 yang disiapkan FIFA mencapai US$655 juta.

Untuk mengantisipasi kerumitan alokasi potensi pajak raksasa dari turnamen yang berlangsung selama 39 hari ini, IRS bahkan telah berkoordinasi khusus dengan otoritas pajak Kanada dan Meksiko guna menyepakati pembagian hak pemajakan di masing-masing yurisdiksi tuan rumah.

Bagi skuad Timnas Spanyol, setelah perjuangan panjang mengangkat trofi di lapangan, perjuangan berikutnya kini bergeser ke meja birokrasi dan dokumen perpajakan Paman Sam.

Exit mobile version