Bisnis pengiriman instan di India adalah fenomena global yang luar biasa. Melayani 430 juta kelas menengah yang haus akan efisiensi, pasar ini telah bertransformasi menjadi industri senilai $11,5 miliar (sekitar Rp181 triliun).
JERNIH – India baru saja mengeluarkan instruksi keras bagi perusahaan raksasa pengiriman online yakni hentikan janji pengiriman di bawah 10 menit. Keputusan ini diambil setelah gelombang protes nasional dan rentetan kecelakaan fatal yang menimpa para kurir gig worker demi mengejar target waktu yang mustahil.
Namun, di balik meja-meja eksekutif di Noida dan Bengaluru, pertanyaan besarnya tetap sama, apakah bisnis yang dibangun di atas fondasi kecepatan ini benar-benar bisa melambat tanpa kehilangan keuntungan?
Himanshu Pal (21) masih ingat betul saat ia harus melihat rekan kerjanya, Ankush, tewas di jalanan Noida pada hari pertamanya bekerja. Ankush, remaja 18 tahun yang baru lulus SMA, datang jauh-jauh dari desa di Bihar demi mencari peruntungan di kota besar.
Sial bagi Ankush, pesanan pertamanya mengharuskan ia sampai di lokasi dalam 10 menit. Di tengah kemacetan India yang semrawut, ia harus membagi fokus antara layar ponsel, jalanan berlubang, dan telepon dari pelanggan yang tidak sabar. Detik berikutnya, sebuah mobil menghantamnya. Ia tewas seketika demi mengantar bahan makanan yang mungkin tidak terlalu mendesak.
Ledakan Bisnis Quick Commerce India
Bisnis pengiriman instan di India adalah fenomena global yang luar biasa. Melayani 430 juta kelas menengah yang haus akan efisiensi, pasar ini telah bertransformasi menjadi industri senilai $11,5 miliar (sekitar Rp181 triliun).
Beberapa pemain kunci yang mendominasi pasar ini antara lain Swiggy (Instamart) dan Zomato (Blinkit) sebagai pionir yang telah beroperasi lebih dari satu dekade. Ada juga Zepto, perusahaan rintisan yang akan segera IPO dengan pertumbuhan sangat agresif. Amazon (Tez), raksasa global baru masuk Desember 2024 dengan janji pengiriman 15 menit.
Pada tahun fiskal terakhir, sektor ini mencatat lonjakan pesanan hingga $7 miliar, tumbuh 142% sejak 2022. Kesuksesan ini didorong oleh model “Dark Stores“—gudang kecil di tengah pemukiman elit yang memungkinkan barang sampai ke tangan konsumen secepat kilat.
Intervensi pemerintah di awal Januari 2026 memaksa perusahaan menghapus label “10 Menit” dari materi pemasaran mereka. Namun, para ahli menilai ini hanya perubahan estetika (optics), bukan perubahan model bisnis.
Hal ini disebabkan masalah struktural yang masih bertahan. Misalnya:
- Sistem Insentif: Algoritma tetap menghitung pendapatan berdasarkan jumlah pesanan. Kurir dipaksa mengebut demi mengejar “streak” agar bonus tidak hangus.
- Rating Bintang: Nasib kurir ditentukan oleh rating pelanggan. Hal ini membuat kurir tidak berdaya menghadapi pelanggan yang kasar atau menuntut waktu cepat.
- Ketimpangan Sosial: “Kelas menengah India secara harfiah menunggangi punggung orang miskin,” ujar Vandana Vasudevan, penulis buku OTP Please!. Biaya rendah pengiriman ini dimungkinkan karena upah rendah dan ketiadaan jaminan sosial bagi kurir.
Para kurir mulai melawan melalui aksi kolektif. Federasi Transportasi Berbasis Aplikasi India (IFAT) menuntut transparansi algoritma dan penghapusan sistem pemblokiran ID sepihak.
Meskipun pemerintah mulai merancang undang-undang ketenagakerjaan baru yang mengakui hak gig workers, realita di lapangan masih pahit. “Apa arti kami bagi perusahaan? Hanya robot di atas motor,” ujar Pankaj Kumar, seorang kurir yang tetap bekerja meski bahunya retak akibat kecelakaan. “Bagi mereka, apa ruginya jika satu motor hilang dari jalanan?”
Bisnis quick commerce kini menghadapi dilema besar. Menghapus janji 10 menit mungkin meredakan ketegangan politik, namun selama konsumen tetap menuntut kepuasan instan dan perusahaan tetap memuja pertumbuhan di atas keselamatan, jalanan India akan tetap menjadi arena balap maut bagi para kurirnya.
