Site icon Jernih.co

Chip ‘Otak Manusia’ dari Inggris, Revolusi AI 2.000 Kali Lebih Hemat Energi

Foto: Getty

Revolusi kecerdasan buatan (AI) selama ini terbentur pada satu masalah besar: konsumsi energi yang rakus. Namun, sebuah terobosan dari daratan Inggris baru saja mengubah peta permainan.

JERNIH – Bayangkan sebuah perangkat kecerdasan buatan yang mampu bekerja ribuan kali lebih efisien daripada superkomputer saat ini, namun dengan konsumsi daya yang setara dengan lampu bohlam kecil. Itulah masa depan yang sedang dirancang oleh para peneliti di Loughborough University, Inggris.

Dipimpin oleh Pavel Borisov, tim peneliti ini berhasil mengembangkan chip semikonduktor baru yang terinspirasi langsung dari arsitektur paling kompleks di alam semesta: otak manusia. Hasilnya? Chip ini diklaim mampu menjalankan tugas tertentu hingga 2.000 kali lebih hemat energi dibandingkan sistem konvensional.

Rahasia kehebatan chip ini terletak pada komponen bernama memristor berbahan niobium oksida. Berbeda dengan chip silikon biasa yang kaku, memristor ini memiliki struktur mikroskopis dengan pori-pori acak.

Struktur unik ini meniru jaringan neuronal di otak manusia yang membentuk koneksi secara masif dan tampak acak. “Kami terinspirasi oleh cara otak membentuk koneksi di antara neuronnya,” ujar Borisov, dilansir dari Interesting Engineering, Senin (6/4/2026).

Selama ini, sistem AI bergantung pada perangkat lunak (software) yang harus “berkomunikasi” bolak-balik dengan prosesor. Chip Inggris ini mendobrak aturan itu. Ia mampu memproses data yang berubah seiring waktu langsung di dalam perangkat kerasnya (hardware).

Metode ini menghilangkan hambatan komunikasi antara software dan hardware, yang secara otomatis memangkas konsumsi energi dan meningkatkan kecepatan pemrosesan secara drastis.

Keandalan chip ini diuji menggunakan model matematika rumit yang dikenal sebagai Lorenz-63 system—sebuah sistem yang menggambarkan “Efek Kupu-Kupu” (Butterfly Effect). Dalam pengujian tersebut, chip ini terbukti mampu memprediksi pola jangka pendek dengan akurasi tinggi, merekonstruksi data yang hilang dari sebuah pola acak, mengenali angka dari gambar berpiksel serta menjalankan operasi logika dasar dalam satu perangkat tunggal.

Inovasi yang didukung oleh Engineering and Physical Sciences Research Council ini membuka jalan bagi pengembangan elektronik neuromorfik. Ini adalah jenis perangkat yang dirancang sepenuhnya untuk menyerupai cara kerja otak dalam memproses sinyal waktu secara efisien.

“Dengan menggunakan proses fisik alih-alih sepenuhnya bergantung pada perangkat lunak, kita dapat secara dramatis mengurangi energi yang dibutuhkan untuk jenis tugas AI modern,” tambah Borisov.

Exit mobile version