- Kelompok Handala mengeklaim aksi ini sebagai balasan atas serangan militer AS terhadap sebuah sekolah di Iran.
- Mereka membidik Stryker, kontraktor utama Departemen Pertahanan AS dengan nilai kontrak Rp7,61 triliun.
JERNIH – Perang antara Amerika Serikat dan Iran kini berpindah ke ruang siber dengan dampak yang sangat nyata bagi dunia medis global. Kelompok peretas pro-Iran, Handala, dilaporkan berhasil melumpuhkan operasional Stryker, raksasa teknologi medis asal Michigan, AS.
Serangan ini bukan sekadar pencurian data biasa, melainkan operasi penghancuran masif yang mengganggu pengiriman produk medis ke 61 negara, termasuk infrastruktur kesehatan vital.
Berbeda dengan serangan ransomware yang meminta tebusan, Handala menggunakan taktik destruktif yang mengerikan. Berdasarkan laporan kepada Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) AS, para peretas berhasil mencuri 50 Terabyte data sensitif perusahaan. Peretas juga menghapus sistem secara masif yang menyasar perangkat berbasis Windows.
Peneliti siber Kevin Beaumont mengungkap peretas diduga masuk melalui Active Directory dan menyalahgunakan fitur Microsoft Intune. Mereka mengirim perintah “hapus data” jarak jauh ke ratusan ribu server, komputer, hingga ponsel pribadi karyawan (Bring-Your-Own-Device).
Kelompok Handala mengeklaim aksi ini sebagai balasan atas serangan militer AS terhadap sebuah sekolah di Iran. Mereka membidik Stryker bukan tanpa alasan. Stryker adalah kontraktor utama Departemen Pertahanan AS dengan nilai kontrak fantastis mencapai US$450 juta (Rp7,61 triliun). Perusahaan ini memiliki jejak bisnis kuat di Israel, termasuk akuisisi produsen ortopedi OrthoSpace pada 2019.
Merespons kekacauan ini, pemerintah Amerika Serikat melalui FBI resmi menyita domain dan infrastruktur digital milik Handala pada Kamis (26/3/2026). Pengumuman penyitaan kini terpampang di situs publikasi mereka, menyatakan bahwa domain tersebut digunakan untuk memfasilitasi aktivitas siber berbahaya atas nama aktor negara asing.
“Pemerintah Amerika Serikat telah mengambil kendali atas domain ini untuk mengganggu operasi siber yang sedang berlangsung,” tulis pengumuman resmi tersebut dilansir dari TechCrunch.
Dampak Global bagi Pasien
Stryker, yang memiliki 56.000 karyawan, mengonfirmasi bahwa gangguan sistem ini menghambat proses pesanan, manufaktur, dan pengiriman alat medis ke berbagai rumah sakit di seluruh dunia.
Steve Povolny, Vice President di Exabeam, menyebut ini sebagai bentuk respons asimetris. “Kelompok seperti Handala mengaburkan garis antara aktivisme dan operasi negara. Perusahaan yang dulu merasa aman kini menjadi target geopolitik karena keterkaitan mereka dengan kepentingan militer Barat,” ujarnya.
Meskipun infrastruktur utama telah disita FBI, para ahli memperingatkan bahwa kebocoran data (50 TB) kemungkinan besar akan tetap berlanjut melalui kanal media gelap (dark web) yang berafiliasi dengan negara. Saat ini, Stryker bekerja sama dengan Gedung Putih dan CISA (Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur) untuk menentukan mitigasi jangka panjang.
