JERNIH – Konglomerat media milik Presiden AS Donald Trump, Trump Media & Technology Group (TMTG), melaporkan kerugian bersih fantastis mencapai $238 juta (sekitar Rp3,7 triliun) pada kuartal kedua tahun 2026. Angka kerugian membengkak ini sangat kontras jika dibandingkan dengan pendapatan perusahaan yang hanya mengantongi $1,7 juta.
Berdasarkan berkas laporan resmi ke Badan Pengawas Pasar Modal AS (SEC) pada Senin (10/8/2026), TMTG membeberkan bahwa biang kerok utama kerugian jumbo ini berasal dari penurunan nilai (unrealised losses) aset digital dan sekuritas ekuitas yang mencapai $190,4 juta.
Selain kerugian pada aset digital, pembukuan TMTG makin merah akibat beberapa pos pengeluaran lainnya. Bunga berjalan (accreted interest) mencapai $11,7 juta untuk bunga pinjaman tak terbayar yang ditambahkan ke pokok utang.
Kompensasi berbasis saham menyerap dana sebesar $8,1 juta. Dari total $1,7 juta pendapatan kuartal ini, mayoritas disumbang dari sektor media—termasuk $1,43 juta dari iklan dan $179,500 dari pelanggan (subscription).
Meski TMTG mengklaim pendapatan kuartal April–Juni ini naik 89 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, laju kerugian terbukti jauh melompati pemasukan. Secara akumulatif, kerugian bersih TMTG sepanjang semester pertama (Januari–Juni) 2026 telah menembus $644 juta, berbanding terbalik dengan total pendapatan yang hanya $2,5 juta.
Dampaknya, saham TMTG yang diperdagangkan di bursa NASDAQ dengan kode “DJT” langsung merosot 8 persen pada penutupan perdagangan Senin.
Portofolio bisnis TMTG saat ini menaungi platform media sosial Truth Social, layanan streaming Truth+, serta lini fintech Truth.Fi. Perusahaan juga mulai merambah sektor kripto dan layanan intelijen pasar baru bernama Truth API yang diluncurkan per 1 Agustus.
Layanan Truth API menjual akses super cepat bagi para investor untuk membaca postingan Trump di Truth Social—tempat ia kerap melontarkan pengumuman sensitif yang menggerakkan pasar, seperti kebijakan tarif impor hingga eskalasi perang AS-Israel lawan Iran.
Interim CEO TMTG, Kevin McGurn, mengungkapkan bahwa 10 perusahaan telah mendaftar layanan berbiaya $60.000 hingga $100.000 per bulan tersebut. Kendati mendatangkan angin segar bagi kas perusahaan, skema ini langsung memicu kritik tajam terkait potensi benturan kepentingan (conflict of interest).
Meski setiap unggahan Trump memiliki pengaruh besar secara politik dan ekonomi, platform Truth Social sendiri masih kalah jauh dibanding rival utamanya seperti X (Twitter) dan Facebook sejak diluncurkan pada 2022.
Berdasarkan data lembaga pemantau web Similarweb yang dikutip The New York Times, jumlah pengunjung (visitors) ke Truth Social pada bulan Juli 2026 melorot tajam lebih dari sepertiga (33%) dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
