Kita sering “tersesat” di ribuan video YouTube. Namun kini kita bisa “ngobrol” dengan YouTube untuk mencari tahu isi video tanpa harus nonton dari awal sampai habis.
JERNIH – Pernah merasa malas menonton video berdurasi satu jam hanya untuk mencari satu informasi spesifik? YouTube baru saja merilis solusi cerdas. Platform video milik Google ini tengah menguji coba fitur pencarian berbasis AI (Kecerdasan Buatan) terbaru bernama ‘Ask YouTube’.
Bukan sekadar kolom pencarian biasa, fitur ini memungkinkan pengguna berinteraksi layaknya sedang berkirim pesan dengan asisten pribadi untuk membedah jutaan jam konten secara kilat.
Dengan “Ask YouTube”, hasil pencarian tidak lagi hanya berupa deretan video. Pengguna akan mendapatkan ringkasan teks yang merangkum isi video secara menyeluruh.
Sebagai contoh, jika Anda bertanya tentang sejarah pendaratan bulan Apollo 11, AI tidak hanya memberikan daftar video, tetapi langsung menuliskan ringkasan sejarahnya lengkap dengan timestamp (penanda waktu) pada bagian video yang paling relevan.
Kecanggihan fitur ini juga terlihat saat digunakan untuk tugas kompleks. Pengguna bisa memasukkan perintah untuk merencanakan perjalanan mudik. Sistem secara otomatis akan menyajikan, ringkasan informasi rute dan tips, video utama yang relevan, galeri video pendek (Shorts) yang berkaitan dengan topik tersebut serta esempatan untuk mengajukan pertanyaan lanjutan guna pendalaman materi.
Tak hanya di aplikasi utama, YouTube juga menyuntikkan AI ke layanan lainnya. Seperti YouTube Music (Beyond the Beat) yang memberikan detail mendalam soal lagu yang sedang didengar. Ada juga VibeCheck, alat bantu berbasis AI bagi para kreator Shorts untuk mengecek kualitas dan “vibes” konten mereka sebelum diunggah.
Fitur canggih ini saat ini masih berstatus eksperimen di YouTube Labs hingga 8 Juni mendatang. Untuk sementara, akses terbatas bagi pelanggan YouTube Premium di Amerika Serikat yang berusia di atas 18 tahun.
Pihak YouTube mengakui bahwa meski sangat membantu, AI ini terkadang masih mengalami hallucination atau memberikan data yang kurang akurat secara faktual. Oleh karena itu, masukan dari pengguna Premium sangat diperlukan sebelum fitur ini diluncurkan secara global.
Jika pengujian di Amerika Serikat sukses dan mendapatkan respon positif, besar kemungkinan fitur ini akan segera diperluas ke negara lain, termasuk Indonesia. Langkah ini dipandang sebagai strategi Google untuk membuat pelanggan Premium semakin betah dan ketergantungan pada ekosistem mereka.
