Site icon Jernih.co

Akhir Persidangan Soal OpenAI, Elon Musk Kalah Telak oleh Sam Altman

Senin kelabu bagi Elon Musk, hari kemenangan bagi Sam Altman. Dengan gugatan hukum yang resmi digugurkan, OpenAI kini melenggang bebas tanpa beban untuk menguasai dunia teknologi.

WWW.JERNIH.CO –  Perseteruan Elo Musk dengan Sam Altman akhirnya mencapai babak final. Juri federal di Oakland, California, secara resmi menjatuhkan kekalahan telak bagi Elon Musk dalam gugatan hukumnya melawan OpenAI dan CEO-nya, Sam Altman.

Keputusan yang diambil hanya dalam waktu kurang dari dua jam penasihatan juri ini menjadi pukulan telak bagi Musk, sekaligus memberikan lampu hijau bagi OpenAI untuk melanjutkan ambisi komersial bernilai triliunan dolar mereka.

Akar dari persidangan ini adalah gugatan hukum yang dilayangkan oleh Elon Musk pada tahun 2024. Musk, yang ikut mendirikan OpenAI pada tahun 2015 sebagai organisasi nirlaba (non-profit), menuduh Sam Altman dan Presiden OpenAI, Greg Brockman, telah melakukan pelanggaran kontrak pendirian (breach of contract) dan pelanggaran kepercayaan amal.

Dalam dokumen gugatannya, Musk mengklaim bahwa ia telah diperdaya untuk menyumbangkan dana sekitar 38 juta dolar demi misi awal OpenAI: mengembangkan Kecerdasan Buatan Umum (Artificial General Intelligence/AGI) yang bersifat sumber terbuka (open-source) demi kemaslahatan umat manusia, bukan keuntungan pribadi.

Namun, perseteruan pecah ketika OpenAI mendirikan cabang berorientasikan keuntungan (for-profit) pada tahun 2019 dan menerima investasi masif dari Microsoft. Musk menuduh Altman dan kroninya telah “mencuri sebuah yayasan amal” demi memperkaya diri sendiri dan investor komersial, serta mengubah teknologi yang harusnya terbuka menjadi komoditas eksklusif. Musk menuntut ganti rugi hingga 150 miliar dolar dan meminta Altman dicopot dari kepemimpinannya.

Di sisi lain, pihak OpenAI membela diri dengan membeberkan bukti bahwa sejak tahun 2017, Musk sebenarnya mengetahui dan bahkan mendukung rencana transisi OpenAI menjadi entitas komersial demi menggalang dana lebih cepat. Kesaksian di persidangan juga mengungkap bahwa Musk sempat bersikeras ingin memegang kendali penuh atas OpenAI, bahkan mengusulkan agar OpenAI dilebur di bawah naungan Tesla—sebuah ambisi pribadi yang akhirnya ditolak oleh para pendiri lainnya sebelum Musk keluar dari dewan direksi pada tahun 2018.

Penentuan akhir dari persidangan dramatis yang berlangsung selama tiga minggu ini jatuh pada hari Senin, 18 Mei 2026.

Uniknya, juri tidak memutuskan apakah OpenAI bersalah secara substansi moral karena telah berubah menjadi perusahaan komersial. Kekalahan Musk murni terjadi karena faktor teknikal hukum, yaitu melewati batas waktu kedaluwarsa gugatan (statute of limitations).

Juri sebulat suara menyatakan bahwa Musk sudah mengetahui rencana perubahan struktur komersial OpenAI sejak beberapa tahun lalu (setidaknya sejak 2021), namun ia baru mengajukan gugatan pada 2024. Berdasarkan hukum yang berlaku, batas waktu tiga tahun untuk menggugat telah habis, sehingga seluruh tuntutan Musk dinyatakan kedaluwarsa dan tidak sah.

Hakim Distrik AS, Yvonne Gonzalez Rogers, langsung menyetujui rekomendasi juri tersebut dan menggugurkan kasus Musk di tempat.

Kemenangan mutlak Sam Altman ini menjadi angin segar bagi OpenAI. Tanpa bayang-bayang tuntutan ratusan miliar dolar dari Musk, OpenAI kini memiliki jalan yang bersih untuk melakukan Penawaran Saham Perdana (IPO) akhir tahun ini, dengan valuasi perusahaan yang diperkirakan mendekati 1 triliun dolar.

Sementara itu, meskipun Elon Musk menyatakan akan mengajukan banding, keputusan per 18 Mei 2026 ini mempertegas dominasi model AI terpusat komersial di atas model open-source yang selama ini dikampanyekan oleh Musk lewat perusahaan AI tandingannya, xAI.(*)

BACA JUGA: Skandal OpenAI, Antara Shivon Zilis dan Tahta Elon Musk

Exit mobile version