Situasi terbaru tengah Maret 2026 membuktikan bahwa supremasi militer konvensional Amerika Serikat menemui batasnya saat berhadapan dengan negara yang memiliki kedalaman strategis dan kemampuan perang asimetris.
WWW.JERNIH.CO – Memasuki pertengahan Maret 2026, Presiden Donald Trump terus mengklaim melalui platform media sosialnya bahwa militer Amerika Serikat telah “menghancurkan” kemampuan tempur Iran.
Data dari lapangan memang menunjukkan bahwa serangan udara AS dan Israel telah mendegradasi aset angkatan laut, situs rudal balistik, dan infrastruktur pertahanan udara Iran secara signifikan.
Namun, di balik retorika kemenangan tersebut, fakta di lapangan menunjukkan realitas yang berbeda. Meskipun infrastruktur militer Iran rusak berat, mereka berhasil meluncurkan serangan balasan yang melumpuhkan ekonomi global: penutupan de facto Selat Hormuz.
Penutupan jalur ini telah mendongkrak harga minyak dunia hingga melampaui $105 per barel per 16 Maret 2026, menciptakan guncangan inflasi yang tidak terduga bagi pemerintahan Trump.
Langkah terbaru Trump yang paling mencolok adalah desakannya kepada negara-negara NATO dan sekutu Asia (seperti Jepang dan Korea Selatan) untuk mengirimkan kapal perang guna mengawal tanker minyak di Selat Hormuz.
Trump secara terang-terangan menyatakan bahwa kegagalan anggota NATO untuk membantu di Hormuz akan berdampak “sangat buruk bagi masa depan NATO.” Ini menunjukkan bahwa AS tidak lagi bersedia atau mungkin tidak lagi mampu menanggung beban keamanan sendirian.
BACA JUGA: Iran Kini Gunakan Rudal Sijjil Siap Ratakan Israel
Inggris (di bawah PM Keir Starmer), Prancis, dan Jepang secara diplomatis menolak permintaan ini. Mereka menegaskan bahwa misi tersebut tidak seharusnya berada di bawah payung NATO. Penolakan ini mencerminkan keraguan sekutu terhadap strategi “perubahan rezim” yang diusung Trump.
Ironisnya, Trump juga mendesak China untuk ikut serta mengamankan selat tersebut dengan alasan bahwa Beijing adalah importir minyak terbesar dari kawasan itu. Upaya meminta bantuan kepada rival geopolitik utama adalah indikator kuat bahwa dominasi maritim AS di Teluk Persia sedang goyah.
Analisis militer mendalam menunjukkan bahwa meski AS unggul dalam teknologi udara, mereka menghadapi jalan buntu dalam mengakhiri konflik. Ada beberapa faktor data yang mendasari hal ini, salah satunya laporan dari Washington Institute yang mencatat bahwa stok rudal pencegat (interseptor) AS dan sekutu mulai menipis akibat frekuensi serangan drone dan rudal Iran yang terus-menerus. Iran menggunakan strategi “atrisi” (peperangan yang menguras sumber daya) yang sangat efektif.
Trump tetap bersikeras menghindari pengerahan pasukan darat (boots on the ground), menyadari trauma politik dari perang Irak dan Afghanistan. Tanpa serangan darat, mustahil untuk benar-benar menghentikan unit-unit gerilya IRGC dan Basij yang berjumlah lebih dari 1,2 juta personel. Walaupun kemudian diam-diam pasukan marinir juga sedang dipersiapkan.
Sementara Iran membuktikan bahwa mereka tidak perlu memenangkan pertempuran udara untuk memenangkan perang ekonomi. Cukup dengan menargetkan beberapa tanker atau memasang ranjau di jalur sempit, mereka mampu menyandera ekonomi dunia. Itulah perlawanan dalam perang asimetris.
Meskipun Trump menyatakan bahwa Iran “memohon untuk bernegosiasi,” laporan intelijen menunjukkan posisi sebaliknya. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara tegas menolak gencatan senjata dan menyatakan kesiapan untuk berperang dalam jangka panjang.
Trump kini terjepit di antara dua pilihan sulit: meningkatkan eskalasi yang berisiko memicu perang regional total (melibatkan Hizbullah di Lebanon dan milisi di Irak) atau mencari jalan keluar diplomatis yang tampak seperti pengakuan atas kegagalan militer. Pernyataan kontradiktif Trump di Air Force One pada 15 Maret—bahwa “mungkin kita seharusnya tidak berada di sana sama sekali karena kita punya banyak minyak sendiri”—menunjukkan keraguan internal atas efektivitas operasi militer ini.(*)
BACA JUGA: Hujan Drone Iran Kembali Gempur Arab Saudi, Teluk Memanas di Tengah Penangguhan Bandara Dubai
