Tanpa strategi keluar yang jelas, kebijakan tekanan maksimum AS terhadap Iran dinilai berujung bumerang. Senator Chris Murphy membongkar empat indikator utama yang menunjukkan mengapa Amerika Serikat justru makin terisolasi di panggung global.
WWW.JERNIH.CO – Saat ekskalasi ketegangan dan krisis militer antara Amerika Serikat dan Iran berada di titik tak jelas, Senator Demokrat Chris Murphy melontarkan kritik pedas terhadap strategi luar negeri Presiden Donald Trump. Dalam perdebatan politik dan wawancara media nasional, Murphy secara terbuka menyatakan bahwa Amerika Serikat berada di posisi yang dirugikan dan Trump pada dasarnya telah “kalah” dalam perang serta konfrontasi dengan Tehran.
Christopher Scott Murphy sendiri adalah seorang politisi senior Partai Demokrat yang menjabat sebagai Senator Amerika Serikat mewakili negara bagian Connecticut sejak tahun 2013. Sebagai anggota berpengaruh di Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS (Senate Foreign Relations Committee), Murphy dikenal luas sebagai salah satu pakar kebijakan luar negeri utama di Kongres yang konsisten mengkritik intervensi militer AS di Timur Tengah serta mengadvokasi jalur diplomasi.
Dalam keterangannya di acara Meet the Press NBC serta berbagai forum kebijakan luar negeri, Murphy menyampaikan penilaian ringkas namun menohok dengan menegaskan bahwa Donald Trump telah kalah dalam perang ini, yang membuat Amerika menjadi lebih lemah sementara Iran justru menjadi lebih kuat.
Murphy mengategorikan konflik militer dan strategi tekanan terhadap Iran sebagai salah satu bencana kebijakan luar negeri terbesar bagi AS dalam 20 tahun terakhir. Menurutnya, pemerintahan Trump terjerat dalam konfrontasi tanpa strategi keluar yang jelas, yang pada akhirnya hanya merugikan posisi geopolitik dan ekonomi Amerika Serikat.
BACA JUGA: Dr. Abdul El-Sayed yang Bikin Donald Trump Ngamuk
Murphy memaparkan sejumlah alasan utama mengapa intervensi dan strategi militer Trump dianggap gagal total, dimulai dari kegagalan mencapai tujuan strategis di mana serangan militer dan tekanan maksimum gagal menghentikan ambisi nuklir Iran maupun menggulingkan pemerintahan di Tehran.
Selain itu, terdapat keterjebakan dalam perang tanpa akhir, di mana operasi militer AS yang berfokus pada penghancuran pabrik drone dan rudal tidak menyelesaikan akar masalah karena Iran dapat segera membangun kembali kapasitasnya. Kondisi ini juga memicu hilangnya pengaruh dan daya tawar diplomasi AS hingga terpaksa mempertimbangkan melonggarkan sanksi minyak demi membuka jalur pelayaran vital, serta menguntungkan rival geopolitik seperti Rusia dan Cina yang memanfaatkan penyedotan sumber daya militer AS di Timur Tengah.
Untuk mendukung klaimnya, Senator Murphy membeberkan beberapa indikator terukur di lapangan, salah satunya krisis Selat Hormuz yang memicu lonjakan harga bensin dan inflasi barang di AS akibat ketidakmampuan armada militer mengamankan jalur perdagangan minyak dunia tersebut.
Indikator lainnya adalah kemajuan pesat program nuklir Iran; setelah Trump membatalkan Perjanjian Nuklir (JCPOA), waktu yang dibutuhkan Iran untuk membuat senjata nuklir menyusut drastis dari satu tahun menjadi hitungan bulan atau minggu. Ditambah lagi dengan ketangguhan kelompok proksi Iran seperti Hizbullah yang tetap aktif melancarkan serangan, serta terjadinya isolasi sekutu dan keretakan koalisi internasional akibat tindakan sepihak AS.
Berdasarkan indikator-indikator tersebut, Murphy menyimpulkan bahwa melanjutkan konflik militer hanya akan memperbesar kerugian AS, sehingga langkah terbaik bagi Washington adalah segera menghentikan perang dan kembali ke jalur diplomasi.(*)
BACA JUGA: Hanya 35% Warga AS Dukung Perang Iran, Popularitas Trump Terancam Jelang Pemilu Sela
