Hanya 35% Warga AS Dukung Perang Iran, Popularitas Trump Terancam Jelang Pemilu Sela

JERNIH – Lima bulan pasca-dimulainya operasi militer bersama Israel terhadap Iran, kebijakan luar negeri Presiden Donald Trump menuai reaksi negatif dari publik domestik. Hasil survei nasional terbaru yang dirilis Reuters/Ipsos menunjukkan hanya 35% warga Amerika Serikat yang mendukung pertempuran tersebut, sementara mayoritas publik mengkhawatirkan dampaknya terhadap stabilitas kawasan dan ekonomi global.
Sebanyak 50% responden memprediksi aksi militer AS justru akan memperburuk destabilisasi di Timur Tengah dalam satu tahun ke depan. Angka ini bertolak belakang dengan 17% responden yang meyakini perang akan membawa stabilitas.
Penyegelan dan gangguan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz oleh pihak Iran memicu lonjakan harga bahan bakar (BBM) di pasar internasional. Kondisi ini berimbas langsung pada sentimen publik AS yang kian pesimis terhadap prospek ekonomi.
Sebanyak 58% responden memperkirakan harga bahan bakar di AS akan terus memburuk, sementara hanya 15% yang optimistis akan membaik. Selain itu potensi gangguan jalur pelayaran setelah eskalasi konflik yang meluas hingga Laut Merah akibat ancaman kelompok Houthi Yaman di kawasan Bab al-Mandeb, serta rentetan serangan rudal dan drone yang memicu pertempuran di Lebanon.
Selain itu, konflik yang dimulai akhir Februari 2026 ini diperkirakan telah menelan anggaran negara setidaknya US$37,5 miliar, menewaskan 18 prajurit AS, serta merenggut ribuan nyawa warga Iran.
Hasil polling ini menciptakan risiko politik signifikan bagi Partai Republik jelang pemilu sela (midterm elections) pada November mendatang. Kebijakan perang ini dinilai berlawanan dengan janji kampanye Trump yang bersumpah menghindarkan AS dari “stupid wars” pasca-era invasi pasca-11 September 2001.
Meskipun 80% pemilih Republikan masih menyetujui kinerja Trump secara umum, hanya 41% dari internal Partai Republik yang percaya perang ini akan membawa stabilitas di Timur Tengah.
“Perang ini tidak populer sejak hari pertama diluncurkan, dan kini semakin tidak populer,” ujar Justin Logan, Direktur Studi Pertahanan dan Kebijakan Luar Negeri di Cato Institute.
Logan menilai Trump menghadapi dilema berat: menetapkan target ambisius untuk memusnahkan kapabilitas rudal dan nuklir Iran, tetapi di saat yang sama berusaha menekan korban jiwa prajurit AS dan konsekuensi politik domestiknya.
Selain isu Timur Tengah, publik AS mengkhawatirkan potensi pecahnya perang baru di belahan dunia lain. Sebanyak 58% responden khawatir konflik perang Rusia-Ukraina di Eropa Timur akan semakin memburuk.
Sebanyak 55% responden juga merasa cemas akan potensi konfrontasi militer antara Tiongkok dan Taiwan. Ada pula 48% responden yang mengkhawatirkan bentrokan antara Rusia dan negara Eropa lainnya, sementara 37% cemas AS terseret keterlibatan militer terkait isu Greenland.
Survei Reuters/Ipsos ini berlangsung selama enam hari hingga awal Agustus 2026, melibatkan 4.505 responden dewasa di seluruh penjuru Amerika Serikat dengan tingkat margin of error sebesar 2 poin persentase.






