Gunung di Pulau Halhamera yang mestinya sudah ditutup untuk pendakian sejak 2024 itu meletus pada pagi hari. Ada warga asing yang melakukan pendakian.
WWW.JERNIH.CO -Pihak berwenang Indonesia saat ini tengah berupaya keras melacak keberadaan tiga pendaki yang hilang pascaerupsi hebat Gunung Dukono di Pulau Halmahera, Maluku Utara, pada Jumat (8 Mei 2026) pagi.
Upaya pencarian dilakukan setelah tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi 17 orang lainnya yang sempat terjebak di area puncak saat ledakan vulkanik terjadi. Dari total 20 pendaki yang terlibat, komposisi kelompok tersebut terdiri dari 11 warga negara Indonesia dan 9 warga negara Singapura yang diduga melakukan pendakian di tengah status gunung yang tidak stabil.
Erupsi tercatat terjadi tepat pada pukul 07.41 WIT dengan kekuatan yang cukup besar, di mana kolom abu vulkanik membumbung tinggi hingga 10 kilometer ke angkasa. Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), rekaman visual menunjukkan adanya awan panas masif yang menyelimuti lereng gunung sesaat setelah letusan.
Meskipun 17 orang telah dinyatakan selamat, kepolisian setempat menyebutkan adanya laporan saksi terkait tiga korban jiwa, termasuk dua warga Singapura, namun informasi ini masih menunggu konfirmasi resmi dari pihak Basarnas.
Terkait prosedur keselamatan, Kapolres Erlichson Pasaribu menegaskan bahwa aktivitas pendakian ke Gunung Dukono sebenarnya telah dilarang secara resmi sejak erupsi sebelumnya pada awal tahun 2024.

Saat ini, otoritas telah menetapkan zona bahaya dalam radius 4 kilometer dari kawah aktif untuk menghindari jatuhan material vulkanik. Selain ancaman erupsi susulan, masyarakat dan tim pencari juga diminta mewaspadai potensi banjir lahar dingin yang dapat dipicu oleh intensitas hujan lebat di sekitar puncak gunung.
Secara geografis, Gunung Dukono merupakan gunung api kompleks yang terletak di Kecamatan Tobelo, Kabupaten Halmahera Utara. Gunung dengan ketinggian 1.185 meter di atas permukaan laut ini memiliki karakteristik unik karena memiliki beberapa kawah aktif, dengan Kawah Malupang Warirang sebagai pusat aktivitas saat ini.
Meskipun lokasinya cukup terpencil dan jarang dibicarakan dibandingkan gunung api lain di Indonesia, Dukono memegang peranan penting dalam pengamatan vulkanologi di wilayah Maluku Utara.
Keaktifan Gunung Dukono tercatat sangat persisten, di mana gunung ini hampir terus-menerus mengalami letusan skala kecil hingga sedang sejak tahun 1933. Hal ini menyebabkan status tingkat aktivitasnya sering berada pada Level II (Waspada) hingga Level III (Siaga).
Karakteristik letusan yang terus-menerus ini membuat tumpukan material vulkanik di sekitar kawah menjadi sangat tidak stabil, sehingga sangat berisiko bagi siapa pun yang nekat mendekati area puncak tanpa izin otoritas terkait.
Sebagai bagian dari jalur Pacific Ring of Fire, aktivitas vulkanik di Indonesia seperti yang terjadi pada Gunung Dukono merupakan pengingat akan tingginya risiko tektonik di wilayah ini. Pemerintah terus mengimbau agar para pendaki maupun wisatawan mematuhi regulasi setempat demi keselamatan jiwa.
Hingga saat ini, fokus utama tim penyelamat adalah menyisir titik-titik terakhir keberadaan tiga pendaki yang hilang sembari terus memantau fluktuasi aktivitas vulkanik yang masih berlangsung di kawah Dukono.(*)
BACA JUGA: Misteri ‘Jalan Tol’ Semeru, Mengapa Erupsi Selalu Mengarah ke Lumajang?