Di tengah kebuntuan diplomatik, Iran menawarkan jalan pintas untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali jalur minyak dunia.
WWW.JERNIH.CO – Di tengah kebuntuan diplomatik yang kian meruncing, Iran dilaporkan telah mengajukan proposal baru kepada Amerika Serikat untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri peperangan. Langkah mengejutkan ini menarik perhatian karena Teheran mengusulkan agar negosiasi nuklir ditunda ke tahap berikutnya, menurut keterangan seorang pejabat AS dan dua sumber terkait.
Diplomasi antara kedua negara saat ini sedang berada dalam titik nadir. Kepemimpinan di Iran sendiri dikabarkan terbelah mengenai konsesi nuklir apa yang bisa mereka berikan. Dengan mengajukan proposal ini, Iran mencoba mencari jalan pintas untuk mencapai kesepakatan cepat tanpa harus terjebak dalam perdebatan alot mengenai isu nuklir yang sensitif.
Namun, tawaran ini menjadi dilema bagi Gedung Putih. Mengakhiri perang dan mencabut blokade berarti menghilangkan “kartu as” Presiden Trump. Pasalnya, tekanan ekonomi dan militer saat ini adalah alat utama Trump untuk memaksa Iran memusnahkan stok uranium serta menghentikan pengayaan uranium—dua tujuan utama AS dalam konflik ini.
Dalam sebuah wawancara dengan Fox News, Presiden Trump memberikan sinyal kuat bahwa ia lebih memilih untuk melanjutkan blokade angkatan laut yang mencekik ekspor minyak Iran. Trump meyakini bahwa dalam beberapa minggu ke depan, Iran akan menyerah dengan sendirinya.
“Ketika Anda memiliki minyak dalam jumlah besar yang mengalir melalui sistem… jika karena alasan tertentu jalur itu ditutup karena Anda tidak bisa memasukkannya ke kapal, jalur itu akan meledak dari dalam. Mereka bilang hanya punya waktu sekitar tiga hari sebelum itu terjadi,” ujar Trump.
Krisis ini semakin dalam setelah kunjungan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, ke Pakistan berakhir tanpa kemajuan signifikan. Trump bahkan membatalkan rencana pengiriman utusannya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, ke Islamabad karena sikap Iran yang dianggap tidak berkomitmen.
“Saya tidak melihat gunanya mengirim mereka dalam penerbangan 18 jam dalam situasi saat ini. Terlalu lama. Kami bisa melakukannya lewat telepon. Pihak Iran bisa menelepon kami jika mereka mau,” tegas Trump.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Araghchi menyampaikan rencana untuk melewati isu nuklir ini kepada mediator dari Pakistan, Mesir, Turki, dan Qatar. Fokus utama proposal tersebut adalah; pembukaan Selat Hormuz dengan memulihkan jalur perdagangan vital dunia. Lalu, penghentian blockade dengan menghidupkan kembali ekonomi Iran yang tercekik.
Termasuk gencatan senjata permanen guna mengakhiri status perang secara jangka panjang. Sementara pembicaraan nuklir baru akan dimulai hanya setelah blokade dicabut dan stabilitas pulih, pun dilakukan secara bertahap.
Gedung Putih telah menerima proposal tersebut, namun masih enggan memberikan kepastian. Juru bicara Gedung Putih, Olivia Wales, menyatakan bahwa AS tidak akan bernegosiasi melalui pers.(*)
