Namanya muncul sebagai kandidat pengganti Destry Damayanti. Aida tergolong orang lama di tubuh BI. Bahkan pernah di posisi penting IMF.
WWW.JERNIH.CO – Nama Aida S. Budiman pun mencuat ke permukaan publik keuangan nasional sebagai kandidat kuat Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) untuk melanjutkan estafet posisi Desty Damayanti. Sebagai sosok teknokrat senior yang telah melintasi berbagai pasang surut krisis ekonomi, hadirnya Aida di bursa calon pimpinan BI tak sekadar membawa angin segar, tetapi juga kepastian navigasi moneter agar benteng stabilitas Rupiah tetap kokoh berdiri.
Lahir di Bogor pada tahun 1965, Aida S. Budiman bukanlah nama baru dalam lanskap perbankan sentral Indonesia. Ia mengabdikan kariernya di Bank Indonesia selama lebih dari tiga dekade sejak pertama kali bergabung pada tahun 1991.
Latar belakang pendidikannya sangat solid di bidang ekonomi. Aida meraih gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Padjadjaran pada tahun 1989, dilanjutkan gelar Master of Science in Economics dari University of Southern California pada tahun 1996, serta gelar Doctor of Philosophy (Ph.D.) in Economics dari Claremont Graduate University, Amerika Serikat, pada tahun 2002.
Sepanjang kariernya di Bank Indonesia, Aida dipercaya memegang berbagai posisi krusial yang bersentuhan langsung dengan perumusan kebijakan makroekonomi dan hubungan internasional. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter (DKEM), di mana ia bertugas mengawal analisis serta perumusan arah suku bunga dan kebijakan nilai tukar Rupiah.
Selain itu, sebagai Kepala Departemen Internasional, Aida memimpin diplomasi ekonomi BI di forum global sekaligus mengelola hubungan dengan lembaga keuangan internasional seperti IMF, Bank Dunia, dan BIS. Rekam jejak kepemimpinannya makin lengkap saat menjabat Kepala Departemen Manajemen Strategis dan Tata Kelola untuk memastikan efektivitas tata kelola internal bank sentral.
Di kancah internasional, ia pernah dipercaya sebagai Direktur Eksekutif International Monetary Fund (IMF) mewakili konstituensi Asia Tenggara pada periode 2012–2014. Berbagai pencapaian tersebut mengantarkan Aida resmi dilantik menjadi Deputi Gubernur BI untuk masa jabatan 2022–2027 setelah lulus uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) di DPR RI pada awal 2022.
Sebagai seorang ekonom teknokratik, kontribusi Aida berfokus pada penguatan stabilitas harga, efektivitas transmisi kebijakan moneter, dan pengawasan sektor keuangan makroprudensial. Salah satu peran pentingnya adalah menjadi tokoh kunci di balik efektivitas Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP). Pendekatan sinergis antara BI, pemerintah pusat, dan daerah yang ia dorong berhasil menekan inflasi gejolak harga pangan di tengah ketidakpastian rantai pasok global.
Selain itu, saat Indonesia menghadapi tekanan inflasi global dan gejolak nilai tukar pascapandemi COVID-19, Aida berperan aktif merumuskan bauran kebijakan yang terintegrasi antara instrumen suku bunga, stabilisasi nilai tukar Rupiah, serta pendalaman pasar uang. Pengalamannya di IMF dan Departemen Internasional BI juga menjadikannya figur tangguh dalam diplomasi ekonomi, khususnya dalam memperkuat kerja sama transaksi mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT) di kawasan ASEAN dan negara mitra utama.
Dukungan terhadap Aida S. Budiman untuk melanjutkan kepemimpinan sebagai Deputi Gubernur BI didasari oleh rekam jejaknya yang teruji, integritas tinggi, serta pemahaman mendalam atas dinamika ekonomi domestik maupun global. Pengalaman panjangnya menjadi fondasi kuat bagi BI dalam menjaga stabilitas Rupiah dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.(*)
BACA JUGA: Destry Damayanti Diusulkan Prabowo Jadi Gubernur BI
