Di balik dinding rahasia yang tak pernah tersentuh matahari,
aku mengunci ribuan lembar duka dan logam-logam mati.
Semua ini adalah upeti malam dari jalanan seberang,
juga serpihan cemas dari anak buah yang patuh menyembah,
serta harga sebuah keadilan yang sengaja kuperas hingga kandas.
Aku tersenyum menatap kilau emas yang membakar sepi,
dalam sadar, pelan-pelan aku sedang menenun kain kafanku sendiri. (*)
BACA JUGA: 5 PUISI SILVIA IKHSAN
