JERNIH – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi mendeklarasikan status Darurat Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional (Public Health Emergency of International Concern) pada hari Minggu. Langkah ini diambil setelah wabah Ebola varian mematikan kembali mengganas di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) dan menewaskan puluhan orang dalam waktu singkat.
Status ini merupakan tingkat kewaspadaan tertinggi kedua di bawah peraturan kesehatan internasional. Berdasarkan data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC), sejauh ini sedikitnya 88 orang dinyatakan meninggal dunia dan 336 kasus suspek telah tercatat dalam wabah demam berdarah yang sangat menular ini.
Hal yang paling mengkhawatirkan dari gelombang wabah kali ini adalah jenis virus yang menyerang. Menteri Kesehatan RD Kongo, Samuel-Roger Kamba, memperingatkan bahwa wabah ini disebabkan oleh Ebola varian Bundibugyo, yang hingga saat ini belum memiliki vaksin maupun metode pengobatan spesifik.
Sebagai catatan, vaksin Ebola yang ada saat ini hanya efektif untuk menangani varian Zaire (pertama kali diidentifikasi tahun 1976). “Varian Bundibugyo ini memiliki tingkat kematian (lethality rate) yang sangat tinggi, di mana tingkat fatalitasnya bisa mencapai 50 persen,” tegas Kamba.
Mengingat cepatnya penyebaran virus, lembaga kemanusiaan medis dunia Doctors Without Borders (MSF) mengumumkan bahwa mereka tengah menyiapkan respons skala besar dan menyebut situasi lapangan saat ini “sangat mengkhawatirkan.”
Wabah ini secara resmi terkonfirmasi pada hari Jumat di Provinsi Ituri, wilayah timur laut RD Kongo yang berbatasan langsung dengan Uganda dan Sudan Selatan. Menurut Menkes Kamba, Pasien Zero (pasien pertama) yang teridentifikasi dalam wabah ini adalah seorang perawat.
Perawat tersebut mulai mencari pengobatan di fasilitas kesehatan Kota Bunia (Ibu Kota Provinsi Ituri) pada 24 April setelah menunjukkan gejala khas Ebola seperti demam tinggi, muntah-muntah, dan pendarahan hebat.
Kondisi di lapangan dilaporkan sangat memprihatinkan karena minimnya fasilitas isolasi. “Kami melihat orang-orang berjatuhan dan meninggal selama dua minggu terakhir. Tidak ada tempat untuk mengisolasi orang sakit. Mereka meninggal di rumah dan jenazah mereka diurus langsung oleh anggota keluarga (tanpa protokol aman),” ungkap perwakilan masyarakat sipil lokal, Isaac Nyakulinda, kepada AFP.
Kekhawatiran akan terjadinya ledakan wabah yang lebih luas di kawasan Afrika Tengah kini kian nyata. Varian Bundibugyo—yang pertama kali ditemukan pada tahun 2007—dilaporkan telah melintasi batas negara setelah otoritas kesehatan mengonfirmasi kematian seorang warga negara Kongo di negara tetangga, Uganda.
Manajer Program Darurat MSF, Trish Newport, menyatakan bahwa kombinasi antara lonjakan angka kematian dalam waktu singkat, banyaknya zona kesehatan yang terdampak, serta adanya kasus lintas batas negara merupakan alarm bahaya yang sangat serius.
WHO juga menambahkan adanya “risiko tinggi” penyebaran regional. Mengingat RD Kongo adalah negara berpenduduk lebih dari 100 juta jiwa dengan keterbatasan infrastruktur transportasi dan komunikasi, tantangan logistik diprediksi akan sangat menghambat upaya karantina dan penghentian laju virus. WHO menduga skala infeksi dan penyebaran geografis yang sebenarnya di lapangan jauh lebih besar daripada data yang dilaporkan saat ini.
Kemunculan virus kali ini menandai wabah Ebola ke-17 yang tercatat dalam sejarah RD Kongo. Sebelumnya, pada Agustus tahun lalu, wabah Ebola di wilayah tengah Kongo menewaskan 34 orang sebelum dinyatakan berakhir pada bulan Desember. Wabah Ebola paling mematikan di negara tersebut terjadi pada periode 2018–2020, yang merenggut hampir 2.300 korban jiwa.
Menurut data WHO, virus Ebola yang diyakini berasal dari kelelawar buah ini dapat menyebabkan pendarahan hebat, kegagalan fungsi organ, hingga kematian, dengan tingkat mortalitas historis berkisar antara 25 hingga 90 persen tergantung variannya.
