Jernih.co

Sungai Cisadane Tercemar, Air Bersih Warga BSD dan Sekitarnya Terdampak

Ini  peringatan keras bagi seluruh pengelola kawasan industri tentang pentingnya memiliki sistem mitigasi bencana yang tidak hanya fokus pada api, tetapi juga pada pencegahan pencemaran lingkungan pasca-kejadian.

WWW.JERNIH.CO –  Bencana bermula pada hari Senin, 9 Februari, saat aktivitas di salah satu gudang penyimpanan bahan kimia industri sedang berlangsung padat. Laporan awal menunjukkan bahwa sekitar pukul 15.30 WIB, percikan api mulai muncul dari area penyimpanan bahan baku. Dalam hitungan menit, api menyambar tumpukan material yang sangat mudah terbakar, menciptakan kolom asap hitam pekat yang membumbung tinggi dan terlihat dari berbagai sudut kota Tangerang Selatan.

Upaya pemadaman menghadapi kendala besar karena karakteristik material kimia yang terbakar. Petugas pemadam kebakaran dari Tangerang Selatan, yang dibantu oleh unit bantuan dari wilayah sekitarnya, harus berjuang melawan panas ekstrem dan risiko ledakan tabung gas industri.

Angin yang bertiup kencang pada sore itu mempercepat perambatan api ke bangunan di sekitarnya. Setelah perjuangan yang berlangsung hingga malam hari, api akhirnya berhasil dikendalikan, namun dampak lingkungan yang jauh lebih besar mulai mengintai saat air sisa pemadaman yang terkontaminasi mulai mengalir ke luar area kawasan.

Bagaimana kebakaran di darat bisa mencemari sungai yang letaknya beberapa ratus meter dari titik api?

Jawabannya terletak pada run-off atau aliran air sisa pemadaman yang bercampur dengan limbah kimia cair. Saat petugas menyemprotkan ribuan liter air untuk menjinakkan api, air tersebut membawa serta lelehan plastik, bahan pelarut (solvent), dan sisa-sisa bahan kimia berbahaya yang bocor dari tangki-tangki yang pecah akibat panas.

Sistem drainase di kawasan BSD Techno yang seharusnya memiliki bak penampung limbah (IPAL) terlampaui kapasitasnya akibat volume air pemadam yang luar biasa besar dalam waktu singkat. Akibatnya, campuran air yang terkontaminasi zat beracun tersebut meluap ke saluran pembuangan luar yang bermuara langsung ke Sungai Cisadane.

Dalam waktu singkat, permukaan sungai yang biasanya berwarna kecokelatan berubah menjadi kehitaman dengan lapisan minyak di atasnya, serta mengeluarkan aroma kimia yang sangat menyengat.

Pencemaran ini seketika melumpuhkan pasokan air bersih bagi warga BSD, Alam Sutera, Serpong, dan wilayah hilir lainnya. Instalasi Pengolahan Air (IPA) milik PDAM setempat terpaksa menghentikan operasionalnya secara total sejak Senin malam karena kadar polutan dalam air baku telah melampaui ambang batas aman untuk diolah.

Indikasi awal laboratorium menunjukkan adanya kandungan logam berat dan senyawa hidrokarbon yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.

Bagi warga, dampak ini terasa sangat nyata dan menyulitkan. Ribuan rumah tangga melaporkan bahwa air dari jaringan pipa mulai berbau tidak sedap dan terasa lengket di kulit. Beberapa warga di permukiman sekitar bantaran sungai mulai mengeluhkan gejala pusing, mual, dan iritasi mata akibat uap kimia dari sungai.

Selain itu, ekosistem sungai mengalami kerusakan fatal; ribuan ikan ditemukan mengambang mati di sepanjang aliran Cisadane hingga ke wilayah Tangerang Kota, menandakan kadar oksigen terlarut (DO) yang anjlok drastis akibat kontaminasi tersebut.

Proses pembersihan Sungai Cisadane diperkirakan akan memakan waktu yang lama. Zat kimia yang mengendap di dasar sungai bersifat persisten, yang berarti mereka tidak akan hilang begitu saja hanya dengan aliran air. Dibutuhkan upaya netralisasi kimia dan pemantauan ketat agar air sungai bisa kembali aman digunakan sebagai bahan baku air minum.

Secara geografis, jalur Sungai Cisadane  dari wilayah BSD (Tangerang Selatan) akan mengalir mengikuti gravitasi ke daerah yang lebih rendah di utara, melewati area Gading Serpong hingga ke Kota Tangerang. Aliran akan melewati kawasan padat penduduk seperti Serpong, Cikokol, hingga ke Bendungan Pasar Baru (Pintu Air Sepuluh). Di wilayah ini terdapat beberapa objek vital.

Di Kabupaten Tangerang (Utara), setelah melewati pintu air, aliran berlanjut ke wilayah Neglasari, Teluknaga, hingga ke daerah Tanjung Burung. Titik akhir aliran berada di Laut Jawa melalui pesisir Tanjung Burung, Kabupaten Tangerang.

Di sisi lain, investigasi sedang dilakukan untuk meninjau kembali standar keselamatan kebakaran dan pengelolaan limbah cair darurat di kawasan industri tersebut.(*)

BACA JUGA: Walhi Desak Mabes Polri Bongkar Kasus Pencemaran Sungai Malili oleh PT CLM

Exit mobile version