GREAT Institute lahir untuk menyeimbangkan dominasi wacana negara, terutama dalam konteks demokrasi yang belum matang, dengan memberi ruang bagi pemikiran alternatif.
JERNIH – Jejak lembaga pemikir alias think tank di berbagai negara maju mungkin tak terlihat. Tetapi gagasan-gagasannya justru memberi pengaruh kuat pada kebijakan pemerintahan. Bahkan saking kuatnya gebrakan pemikiran lembaga think tank tersebut sampai berpengaruh luas ke dunia internasional.
Sebutlah Brooking Institutions. Brookings memiliki pengaruh besar pada kebijakan AS dan internasional. Contohnya, selama Depresi Besar, penelitian Brookings membantu memahami penyebab krisis ekonomi, meskipun mereka menentang beberapa kebijakan Franklin D. Roosevelt seperti National Recovery Administration.
Pada 1948, Brookings merancang skema pengelolaan Marshall Plan, yang membantu pemulihan ekonomi Eropa pasca-Perang Dunia II. Selain itu, laporan seperti Presidential Transitions pada 1960 membantu transisi pemerintahan Kennedy dan Nixon.
Di era modern, Brookings memengaruhi kebijakan keamanan nasional pasca-9/11 dan kebijakan perkotaan pada 1990-an. Pemikiran dan penelitian Brookings yang progresif sering dikutip oleh media dan politisi, baik konservatif maupun liberal, menjadikannya think tank paling berpengaruh di dunia menurut Global Go To Think Tank Index Report sejak 2008. Pendek kata, Brooking memberi sumbangsih bagi sepak terjang AS itu sendiri.
Di Inggris ada Chatham House. Chatham House, atau Royal Institute of International Affairs, didirikan pada tahun 1920 di London dan dikenal sebagai salah satu think tank non-Amerika paling berpengaruh di dunia. Misi Chatham House adalah membantu pemerintah dan masyarakat membangun dunia yang berkelanjutan, aman, sejahtera, dan adil. Lembaga ini terkenal dengan “Chatham House Rule,” yang memungkinkan diskusi terbuka dan rahasia untuk mendorong kebebasan berbicara tanpa atribusi langsung kepada pembicara.
Di usia muda kala itu, Chatham House memainkan peran penting dalam kebijakan luar negeri Inggris dan internasional. Selama Perang Dunia II, beberapa anggota kunci Chatham House terlibat langsung dalam pembuatan kebijakan Inggris, memengaruhi strategi perang dan diplomasi. International Affairs dan laporan-laporan lainnya sering menjadi rujukan bagi pembuat kebijakan global.
Australia memiliki Lowy Insitute. Lembaga pemikir idependen ini malah rutin menghasilkan produk-produk pemikiran baru. Sebut di antaranya Asia Power Index, sebuah alat analisis inovatif yang mengukur distribusi kekuatan global di kawasan Asia-Pasifik. Indeks ini mengevaluasi kekuatan negara berdasarkan delapan indikator, termasuk kemampuan militer, jaringan pertahanan, sumber daya ekonomi, hubungan ekonomi, pengaruh diplomatik, pengaruh budaya, ketahanan, dan sumber daya masa depan.
Bahkan Lowy terjun langsung dalam riset. Salah satu yang sangat menarik adalah saat menghasilkan riset yang menghimpun pandangan masyarakat Australia terhadap perubahan tatanan dunia, termasuk persepsi tentang pengaruh China, konflik di Ukraina, dan dinamika di Pasifik.
Baik Brookings dan Chatham maupun Lowy jelas memiliki peran yang sangat penting baik dalam skala nasional maupun global karena mereka menjadi salah satu aktor kunci dalam memproduksi, menyebarkan, dan memengaruhi kebijakan berbasis pengetahuan.
Lembaga think tank independen adalah fondasi penting dalam ekosistem demokrasi modern dan tata kelola global. Dengan menjaga independensi, integritas, dan kapasitas analitik yang kuat, mereka menjadi penjaga akal sehat publik, penyaring kebijakan, dan penyusun peta jalan menuju masa depan yang lebih baik.
Seperti halnya Indonesia di era pemerintahan Prabowo Subianto hadir pula lembaga baru berjuluk GREAT Institute. GREAT yang singkatan dari Global Research on Economics, Advance Technology, and Politics menjadi bagian penting dalam proses pembuatan kebijakan pemerintah.
“Kami tidak hadir untuk ditunggangi siapa pun, melainkan untuk memperkaya opsi kebijakan melalui pendekatan yang ideologis, rasional, dan progresif. Ruang nalar harus diperluas untuk kepentingan rakyat, bukan malah disempitkan,” terang Dr. Syahganda Nainggolan, Ketua Dewan Direktur GREAT Institute.
Bagimana GREAT Institute memainkan perannya dalam dinamika pemerintahan Prabowo dijelaskan oleh Syahganda. “Berposisi sebagai mitra berpikir strategis pemikiran Presiden Prabowo Subianto yang sangat progresif revolusioner dan berpihak kepada kepentingan rakyat Indonesia,” tambahnya.
Dalam perjalanannya GREAT Institute giat melakukan berbagai diskusi dengan bermacam pakar, pemerhati maupun penggiat dari berbagai sektor. Ini semacam wadah yang mengakomodir pemikiran-pemikiran individu yang dikolaborasi menjadi pemikiran kolektif. Pemikiran individu yang datang dari pengalaman (empiris) maupun kajian akademis dari para pelakunya.
Konsep kolaborasi demikian menjadi penting khususnya di tubuh lembaga think tank. Berbeda dengan bila pemikiran tersebut dikelola oleh media maupun lembaga akademik. Bahkan keabsahannya bisa jadi jalan logis sebagai input bagi pemerintah yang menjunjung prinsip demokrasi.
Oleh sebab itu, peran Brookings, Chatham maupun GREAT sejatinya mirip. Sebagai aktor non-negara yang berpengaruh, mereka menjadi bagian penting dari ekosistem kebijakan, berdampingan dengan lembaga legislatif, eksekutif, akademisi, dan masyarakat sipil.
GREAT diset dapat menyeimbangkan dominasi wacana negara, terutama dalam konteks demokrasi yang belum matang, dengan memberi ruang bagi pemikiran alternatif. Di negara berkembang seperti Indonesia yang memiliki cita-cita tinggi, keberadaan GREAT yang independen dapat mengisi kekosongan kapasitas analitik dalam birokrasi.
Lembaga GREAT Institute setidaknya mampu melakukan beberapa peran baru dalam hal;
Penyedia Analisis Berbasis Bukti (Evidence-Based Policy)
Think tank independen menyajikan analisis dan rekomendasi kebijakan yang didasarkan pada riset ilmiah, bukan pada kepentingan politik, bisnis, atau ideologi tertentu. Hal ini memungkinkan pengambilan keputusan publik yang lebih rasional dan objektif.
Menjembatani Dunia Akademik dan Praktik Kebijakan
Banyak hasil penelitian akademik sulit dijangkau atau dipahami oleh pembuat kebijakan. Think tank bertindak sebagai perantara—menerjemahkan ide-ide kompleks menjadi kebijakan yang aplikatif.
Katalisator Wacana Publik
Mereka mendorong debat publik dan diskusi intelektual yang sehat melalui publikasi, forum, seminar, dan media. Ini memperkuat demokrasi deliberatif dengan meningkatkan literasi kebijakan publik.
Pemantau dan Evaluator Kebijakan Publik
Think tank independen memainkan peran penting dalam mengawasi implementasi kebijakan, memberikan kritik konstruktif, dan menawarkan alternatif kebijakan berdasarkan evaluasi objektif.
Sumber Inovasi Kebijakan
Dalam dunia yang berubah cepat, think tank sering menjadi pionir dalam merancang ide-ide baru, baik dalam bidang ekonomi, sosial, politik, teknologi, maupun lingkungan. Termasuk isu-isu yang berkeliaran di setiap masa.
Sebagaimana Brookings di Amerika, Chatham di Inggris, dan Lowy di Australia, kehadiran GREAT di Indonesia menunjukkan bahwa negara demokratis modern membutuhkan pilar-pilar pemikiran yang bebas, jernih, dan visioner. Bukan sekadar lembaga penelitian, tetapi penjaga akal sehat kebijakan nasional. (*)
BACA JUGA: Great Institute: Menyemai Pemikiran sebagai Bekal Menuju Indonesia Emas 2045