Site icon Jernih.co

Ijazah Jokowi: Pasir Hisap di “The Replacements” dan Panggung “Rakyat Bersuara”

Josua mengelak. Andi Azwan memutar topik. Tidak ada jawaban. Tidak ada keberanian untuk berkata “ya” atau “tidak.” Dan dari situ kelihatan jelas: Mereka sedang berada di pasir hisap. Semakin mereka bergerak—dengan dalih baru, alasan baru, teori baru—semakin cepat mereka tenggelam. Karena quicksand bekerja dengan logika yang sama dengan debat yang kehilangan integritas: bukan kebenaran yang diperjuangkan, melainkan pembenaran.

Oleh     :  Geisz Chalifah

JERNIH– Dalam “The Replacements”, Keanu Reeves sebagai Shane Falco memberi jawaban paling jujur ketika pelatih Jimmy McGinty bertanya: “Apa yang paling kalian takutkan?”

Teman-temannya menjawab lebah, ular, hal-hal sepele yang memancing tawa. Tapi Falco menjawab pelan, tanpa senyum: “Quicksand.” Pasir hisap.

Ia lalu menjelaskan: “You’re playing and everything’s going fine… then one thing goes wrong… and then another… pretty soon you’re in quicksand.”  “Kau sedang bermain dan semuanya berjalan baik… lalu satu hal salah… lalu hal lain menyusul… dan tak lama kemudian kau sudah tenggelam dalam pasir hisap. Semakin bergerak, semakin tenggelam.”

Quicksand bukan soal pasir. Quicksand adalah tentang rangkaian kesalahan kecil yang ketika dihadapi dengan kepanikan justru menenggelamkan.

Dan persis itulah yang saya lihat dalam tayangan Rakyat Bersuara bersama Aiman Wicaksono soal ijazah Jokowi.

Minggu sebelumnya, Andi Azwan dengan penuh keyakinan memamerkan “scan asli” ijazah—lengkap dengan legitimasi dari seorang yang mengaku ahli digital bernama Josua. Mereka tampil percaya diri, seolah memegang kartu truf terakhir.

Lalu datanglah malam ketika Roy Suryo—yang sebelumnya tak hadir—membawa ijazah pembanding. Ia tunjukkan hal yang sangat sederhana: emboss dan watermark yang wajib ada pada ijazah asli. Dua elemen dasar yang hilang dari dokumen yang dibanggakan Andi Azwan.

Ketika Aiman bertanya dengan kalimat sesederhana mungkin: “Apakah ini scan asli?” Mendadak studio berubah riuh.

Josua mengelak. Andi Azwan memutar topik. Tidak ada jawaban. Tidak ada keberanian untuk berkata “ya” atau “tidak.”

Dan dari situ kelihatan jelas: Mereka sedang berada di pasir hisap. Semakin mereka bergerak—dengan dalih baru, alasan baru, teori baru—semakin cepat mereka tenggelam. Karena quicksand bekerja dengan logika yang sama dengan debat yang kehilangan integritas: bukan kebenaran yang diperjuangkan, melainkan pembenaran.

Logika, data, dan fakta empiris tentang skripsi, ijazah, dan prosedur akademik sudah menunjukkan arah yang sangat jelas.

Namun ketika seseorang terjebak dalam quicksand keyakinannya sendiri, apa pun bukti yang datang hanya dianggap gelombang kecil yang bisa diabaikan.

Padahal justru gelombang kecil itulah yang menarik tubuh semakin dalam. Seperti kata Falco,“One thing goes wrong… and then another…” —dan tiba-tiba yang tersisa hanya kepala yang masih terlihat, terengah-engah sebelum ikut tertelan.

Dan malam itu, di panggung “Rakyat Bersuara”, kita semua melihat quicksand bekerja. Bukan pada tanah, tapi pada cara sebagian orang berpegang pada sesuatu yang sudah lama tidak lagi bisa berdiri tegak di atas kebenaran. [ ]

Exit mobile version