Di Jepang, misalnya, program yang disebut dengan Program Kyūshoku tidak hanya memberi makan, tetapi juga mengajar-kan pendidikan gizi (Shokuiku). Siswa-siswa terlibat dalam penyajian, pembersihan, melatih kemandirian dan disiplin. Program yang dimulai di awal abad ke-20 ini telah menjadi rujukan bagi banyak negara untuk pelaksanaannya.
Oleh : Bambang Sutrisno*

JERNIH–Betapa perih hati Abdul Halik, anak balitanya yang berusia 2,5 tahun terbaring di ranjang menahan sakit setelah mengonsumsi makanan yang dibagikan dalam rangka Makan Bergizi Gratis (MBG). Untung saja anaknya dapat tertolong setelah dilarikan ke Puskesmas. Drama ini terjadi di Mamuju, ibu kota Provinsi Sulawesi Barat.
Kasus ini bukan yang pertama terjadi di Sulawesi Barat, kejadian ini telah berulang dan menyebabkan kepiluan orang tua melihat putra atau putrinya mengerang kesakitan akibat hidangan yang diberikan tidak memenuhi standar keamanan pangan.
Kronik permasalahan yang dihadapi program MBG bukan hanya terjadi di satu atau dua lokasi, tetapi meliputi banyak daerah dan banyak kejadian. Yang terakhir adalah berita viral video seorang guru di Palu Propinsi Sulawesi Tengah yang memprotes menu MBG yang tidak sesuai dengan anggaran yang disediakan pemerintah. DPRD Palu meminta dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap program MBG.
Meskipun permasalahan dan gugatan terhadap program MBG masih terjadi massif di berbagai platform media, namun tampaknya pemerin-tah bergeming. Program MBG harus jalan terus. Tekad pemmerintah untuk menyediakan makan bergizi bagi ibu dan anak sekolah menjadi harga mati yang tak bisa ditawar.
Dukungan Publik
Survey Lembaga Indo Barometer menyatakan 77,6 persen masyarakat menyatakan setuju dengan program MBG. Program ini didukung karena dalam persepsi masyarakat membantu menurunkan angka stunting, meningkatkan gizi anak, serta menurunkan beban ekonomi orang tua.
Betapa tidak, orang tua yang biasanya harus menyediakan sejumlah dana untuk makanan anak, sekarang berkurang karena dukungan program MBG. Program ini dianggap sebagai suatu langkah strategis mewujudkan generasi cerdas dan sehat dalam menyongsong Indonesia Emas.
Senada dengan hal itu, banyak suara rakyat yang disuarakan oleh politisi juga mendukung sikap ini. Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia dengan tegas menyampaikan bahwa Partai Golkar berkomitmen untuk mendukung program ini sebagai program mulia untuk meningkatkan kualitas SDM Indonesia di masa depan. Muhidin M. Said, salah satu tokoh Partai Golkar menyampaikan bahwa MBG dapat menjadi ladang lapangan kerja baru dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di seluruh Indonesia. Di saat situasi ekonomi sedang tidak menentu, MBG dapat menjadi alternatif lapangan kerja bagi masyarakat.
Ada pandangan lain dari akademisi. Profesor Andreas Dwi Santosa dari IPB misalnya hanya geleng-geleng kepala ketika ditanya tanggapannya terhadap program MBG. “Ini program aneh, menurut saya. Apalagi anggarannya gede sekali. Menghabiskan Rp400 triliun sampai Rp500 triliun per tahun,” kata Andreas. Pandangan seperti ini sangat wajar dan memperlihatkan kritik terhadap program MBG.
Pandangan lebih keras disampaikan Ketua BEM UGM, Tyo Ardiyanto. Dia memberikan akronim baru untuk MBG yakni “Maling Berkedok Gizi”. Ini sebagai kritik atas tidak transparannya anggaran yang digunakan dalam Program MBG serta kasus-kasus keracunan massal terjadi, termasuk di Yogyakarta di mana Tyo bersekolah.
Pengalaman Negara Lain
Sebetulnya, program makan siang bagi siswa ini bukan sesuatu yang baru di dunia. Berbagai negara telah menjalankan program makan siang sekolah dengan pendekatan dan hasil yang beragam. Secara global, program ini diakui sebagai jaring pengaman sosial yang luas, melayani lebih dari 466 juta anak di seluruh dunia.
Di Jepang, misalnya, program yang disebut dengan Program Kyūsho-ku tidak hanya memberi makan, tetapi juga mengajar-kan pendidikan gizi (Shokuiku). Siswa-siswa terlibat dalam penyajian, pembersihan, melatih kemandirian dan disiplin. Program yang dimulai di awal abad ke-20 ini telah menjadi rujukan bagi banyak negara untuk pelaksanaannya.
Finlandia dan Swedia adalah dua negara skandinavia yang sejak Tahun 1948 menyelenggarakan program makan bagi siswa ini. Finlandia memberikan makan siang gratis secara universal untuk seluruh siswa tanpa memandang status ekonomi kepada siswa-siswa di sekolah. Sementara Swedia menggunakan pajak negara untuk menyediakan makan siang gratis bagi siswa usia 6-19 tahun guna menjamin kesetaraan nutrisi.
Di negara berkembang, India sering menjadi salah satu negara yang diberi apresiasi karena menyelenggarakan program makan siang yang disebut Mid-day Meal Program. Program ini menjangkau lebih dari 100 juta siswa. Meskipun program di India menghadapi tantangan terait masalah higienitas dan keamanan pangan, namun pemerintah India telah berkomitmen untuk menjalankan program ini hingga sekarang.
Tiongkok juga menyelenggarakan program yang sama sejak Tahun 2011. Tidak banyak yang tahu bahwa lebih dari 50 juta anak Tiongkok terutama di pedesaan dan daerah-daerah miskin terjangkau program ini. Program yang menyasar kesetaraan fisik anak-anak Tongkok ini sangat mempengaruhi pola makan masyarakat China. Pemuda China saat ini sangat terbiasa dengan makanan bergizi tinggi dan memiliki kesadaran tinggi terhadap perbaikan gizi bagi kesehatan dan produktivitas kerja.
Bank Dunia mengakui bahwa program pemberian makan bergizi ini memiiki pengaruh terhadap kesehatan siswa. Namun di baliknya, Bank Dunia memberikan tekanan agar pemerintah di negara berkembang perlu berhati-hati dengan dampak fiskal yang bakal terpengaruh oleh besarnya dana yang harus disediakan untuk menghela program ini. Bank Dunia juga memberikan catatan kritis terhadap pengaruh program terhadap efektifitasnya dalam menanggulangi stunting. Mengapa? Karena penanganan stunting harus dilakukan saat ibu hamil dan 1000 hari pertama kelahiran.
Sebaliknya Lembaga PBB lainnya yakni World Food Program (WFP) memandang program MBG dengan lebih optimis. Program ini dianggap sebagai investasi jangka panjang. Program ini diprediksi dapat memberikan imbal hasil ekonomi 9 kali lipat dari kondisi saat ini, karena investasi pada sumber daya manusia ini akan berhasil guna dalam waktu satu generasi ke depan.
Perubahan Mindset
Bagaimanapun juga, manfaat dari program ini dapat dilihat bukan hanya mampu memberikan perbaikan gizi dan nutrisi untuk tumbuh kembang anak, namun hasil evaluasi menunjukkan angka partisipasi siswa bersekolah menjadi semakin tinggi dengan adanya program ini. Di beberapa wilayah di Indonesia, tingkat kehadiran siswa ke dalam kelas menjadi semakin meningkat.
Program MBG juga diharapkan mampu menstimulasi pembukaan lapangan kerja baru di masyarakat. Jutaan lapangan kerja akan tercipta, baik dalam bentuk tenaga kerja langsung maupun tidak langsung. Badan Gizi Nasional mencatat, sebanyak 924.424 tenaga kerja langsung terlibat di dapur-dapur MBG di seluruh Indonesia. Selain itu, ada sekitar 68.550 pemasok, yang mencakup koperasi, UMKM, hingga pemasok perorangan lokal. Ini belum ditambah dengan 21.413 mitra dalam rantai pasok dan operasional pelayanan. Belum lagi didukung oleh 32.000 tenaga professional baik ahlli gizi, akuntan, dan orang-orang yang memiliki kemampuan dalam bidang pelayanan dapur MBG. Dengan adanya program MBG, seluruh masyarakat di sekitar dapur dapat terlibat dalam berbagai aktivitas.
Tentu saja manfaat langsung program MBG ini sangat banyak. Bagi anak didik, perut yang terisi dengan nutrisi yang baik pasti akan mampu menyerap materi pendidikan dengan lebih baik. Hasil belajarnya pun dalam jangka panjang akan lebih baik. Program ini juga diharapkan bakal memberi pemahaman yang lebih baik tentang gizi kepada anak dan remaja.
Pembiasaan makan akan memberikan dampak pada generasi baru bangsa Indonesia. Pola makan bergisi dengan pembudayaan makan bergizi dengan asupan protein yang memadai bukan hanya mampu meningkatkan derajat kesehatan generasi muda, namun juga mampu memberikan daya saing SDM pada tingkat internasional.
Di samping efek positif tersebut, tantangan yang dihadapi program juga berbagai rupa. Tantangan yang paling banyak disorot adalah keamanan pangan. Tingginya kasus keracunan yang terjadi sebagaima-na diuraikan di muka menunjukkan bahwa mengelola program ini tidaklah mudah. Kasus-kasus keracunan dan alergi massal menjadi pengingat bahwa pengolahan makanan memiliki kaidah-kaidah standar yang harus dipenuhi dengan baik. Disini juga menjadi pembelajaran bagi semua pihak, baik dapur, staf pelaksana, sampai kepada petugas pelaksana penyediaan makanan.
Isu kedua yang sering menjadi perbincangan adalah tingginya alokasi anggaran yang harus disiapkan untuk program ini. Di Tahun 2026 saja, anggaran BGN sejumlah Rp 335 miliar, menjadi sektor yang mendapat alokasi terbesar dalam APBN.
Pada akhirnya manajemen pengelolaan Program MBG ini harus terus diperbaiki buka hanya untuk mendorong efisiensi, namun juga agar mampu menjadikan program ini sebagai lokomotif perubahan, baik dalam jangka pendek maupun panjang. Program ini harus mampu merubah mindset masyarakat Indonesia menjadi masyarakat maju, modern, dan memiliki daya saing tinggi untuk memberikan kontribusi terbaik bagi dunia. [ ]
*Direktur Riset Balitbang Partai Golkar