Apa yang sebenarnya terjadi pada “Macan Asia” ini? Apakah ini murni karena faktor global, atau ada kerentanan domestik yang selama ini tersembunyi?
WWW.JERNIH.CO – Ekonomi Korea Selatan tengah menghadapi badai yang cukup hebat di awal Maret 2026 ini. Bursa saham mereka, KOSPI, sempat mengalami terjun bebas hingga memicu mekanisme penghentian perdagangan (circuit breaker), sementara mata uang Won terus terperosok ke level terendahnya dalam belasan tahun terakhir.
Pada perdagangan awal Maret 2026, bursa saham Korea Selatan mencatatkan sejarah kelam dengan penurunan harian terdalam. Indeks KOSPI sempat anjlok lebih dari 12%, sebuah angka yang sangat fantastis untuk pasar semaju Korea. Penurunan ini tidak hanya menyerang saham-saham spekulatif, tetapi juga menghantam raksasa teknologi seperti Samsung Electronics dan SK Hynix yang merupakan tulang punggung ekonomi Negeri Gingseng tersebut.
Sejalan dengan rontoknya bursa saham, nilai tukar Won (KRW) juga mengalami tekanan luar biasa. Won sempat menembus angka psikologis 1.500 per Dolar AS, level yang tidak terlihat sejak krisis finansial global 2008-2009. Pelemahan ini menjadikan Won sebagai salah satu mata uang dengan performa terburuk di Asia pada periode ini.
Rontoknya pasar keuangan Korea Selatan tidak disebabkan oleh faktor tunggal, melainkan kombinasi dari beberapa pemicu yang terjadi secara bersamaan. Situasi global memang memegang peranan kunci. Ketegangan yang meningkat antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah telah memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global.
Sebagai negara yang sangat bergantung pada impor minyak untuk menggerakkan industrinya, Korea Selatan sangat rentan terhadap kenaikan harga minyak dunia yang mendekati angka $100 per barel.
Bursa Korea sangat terkonsentrasi pada sektor semikonduktor. Setelah reli panjang yang didorong oleh euforia Kecerdasan Buatan (AI) sepanjang tahun 2025, muncul kekhawatiran global mengenai pelambatan adopsi pusat data AI akibat konsumsi energi yang masif. Ketika sentimen terhadap sektor teknologi mendingin, KOSPI yang bobotnya didominasi Samsung dan SK Hynix otomatis ikut terseret jatuh.
Ada faktor unik yang memperparah jatuhnya Won: fenomena investor ritel Korea yang lebih memilih berinvestasi di bursa AS (Wall Street). Tingginya permintaan Dolar AS dari warga lokal untuk membeli saham luar negeri menciptakan tekanan jual yang konstan terhadap Won. Pemerintah Korea bahkan mengakui bahwa perilaku investor domestik kini menjadi faktor yang sulit dikendalikan oleh kebijakan moneter tradisional.
Perbedaan suku bunga antara Bank of Korea dan Federal Reserve AS yang masih lebar membuat aset-aset berbasis Won menjadi kurang menarik dibandingkan Dolar. Investor cenderung memindahkan dana mereka ke Amerika Serikat untuk mengejar yield yang lebih tinggi dan keamanan aset (safe haven).
Situasi global seperti konflik Timur Tengah dan kebijakan suku bunga AS adalah pemantik apinya. Namun, struktur ekonomi Korea yang sangat bergantung pada ekspor teknologi dan energi impor menjadikannya “lebih mudah terbakar” dibandingkan negara lain.
Selain itu, hilangnya kepercayaan investor lokal terhadap pasar saham dalam negeri—yang lebih memilih memarkir uang mereka dalam Dolar—menunjukkan adanya masalah struktural dalam menarik minat investasi domestik.
Kondisi Korea Selatan seringkali dianggap sebagai indikator kesehatan ekonomi global karena peran mereka dalam rantai pasok teknologi dunia. Melemahnya Won dan KOSPI memberikan sentimen negatif bagi bursa Asia lainnya, termasuk IHSG di Indonesia. Investor cenderung menarik modal dari pasar negara berkembang (emerging markets) saat terjadi ketidakpastian besar di negara industri seperti Korea.
Rontoknya bursa saham dan kurs Won di Maret 2026 ini merupakan pengingat bahwa ketergantungan yang terlalu tinggi pada satu sektor (teknologi) dan ketergantungan energi impor dapat menjadi bumerang saat krisis global melanda.
Pemerintah Korea saat ini tengah berjuang melakukan intervensi pasar untuk menstabilkan Won, namun efektivitasnya masih sangat bergantung pada mendinginnya tensi geopolitik di Timur Tengah.(*)
BACA JUGA: Kutukan Presiden: Mengapa Orang Nomor Satu Korea Selatan Selalu Bernasib Buruk?
