Monte Carlo kembali memakan korban! Mulai dari mogoknya Verstappen di awal laga, hancurnya aspal sirkuit yang memicu Red Flag lama, hingga kutukan rumah Charles Leclerc.
WWW.JERNIH.CO – Balapan Formula 1 Grand Prix Monaco 2026 yang berlangsung di jalanan Monte Carlo sukses menyajikan salah satu balapan paling kacau, dramatis, sekaligus bersejarah dalam beberapa tahun terakhir.
Diwarnai drama bendera merah (red flag), aspal jalanan yang rusak, hingga gugurnya para raksasa F1, sirkuit legendaris ini kembali membuktikan bahwa ia tidak pernah ramah bagi mereka yang lengah.
Drama langsung tersaji bahkan sebelum sirkuit menyelesaikan putaran pertama. Mantan juara dunia, Max Verstappen, yang memulai balapan dari baris depan (posisi kedua) mendapati nasib sial secara instan.
Saat lampu hijau menyala, mobil Red Bull milik Verstappen mengalami masalah teknis yang fatal. Mesinnya mengalami stall (mogok) saat melakukan start, membuatnya kehilangan momentum sepenuhnya dan langsung terpaksa menyudahi balapan (Did Not Finish/DNF) di lap pembuka.

Kehilangan Verstappen di awal laga langsung mengubah peta persaingan dan membuka jalan lebar bagi rival-rival di belakangnya.
Namun, ia bukan satu-satunya korban. Pahlawan lokal sekaligus pembalap Ferrari, Charles Leclerc, harus kembali menelan pil pahit di rumahnya sendiri. Saat berada di posisi perebutan podium di fase akhir balapan, Leclerc kehilangan kendali atas mobilnya dan menabrak pembatas jalan dengan keras di sisa 10 lap terakhir, menambah daftar panjang kutukan sirkuit rumahnya.
Selain itu, Lance Stroll dari Aston Martin juga mengalami kecelakaan di tikungan terakhir yang memicu keluarnya Safety Car.
Salah satu pertanyaan terbesar dari balapan kali ini adalah mengapa terjadi penghentian balapan (stop) yang cukup lama hingga memicu Red Flag. Jawabannya adalah akibat aspal sirkuit jalan raya Monaco benar-benar terkelupas.
Insiden hancurnya permukaan trek ini terjadi di area sekitar tempat Charles Leclerc mengalami kecelakaan fatalnya. Tekanan luar biasa dari mobil-mobil F1 generasi terbaru dengan downforce tinggi membuat beberapa bagian aspal Monte Carlo mulai retak dan terangkat dari dasarnya di sisa 10 lap terakhir.
Mengingat faktor keselamatan pembalap adalah hal utama, ditambah dengan puing-puing mobil Leclerc yang berserakan, Race Director tidak punya pilihan selain menghentikan balapan. Petugas sirkuit membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membersihkan area sirkuit dan memastikan kondisi jalanan kembali aman untuk dilewati dalam kecepatan tinggi saat melakukan prosedur standing restart.
Di tengah semua kegilaan tersebut, sorotan utama tertuju pada pembalap ajaib berusia 19 tahun milik Mercedes: Andrea Kimi Antonelli.
Memulai balapan dari pole position setelah mencetak waktu magis di kualifikasi, Antonelli melakukan start yang sempurna. Saat Verstappen mogok di sampingnya, pembalap muda Italia ini langsung melesat menciptakan jarak aman dari kejaran Lewis Hamilton yang kini membela Ferrari.
Kunci kemenangan Antonelli terletak pada ketenangannya yang luar biasa saat mengelola ban dan mengatasi tekanan mental. Ketika balapan harus dimulai kembali lewat standing restart pasca-insiden Red Flag—situasi yang sangat rawan memicu kesalahan—Antonelli menjaga bannya yang sudah aus (used Soft tyres) dengan sangat matang.
Ia melakukan akselerasi sempurna saat lampu mati, menutup ruang tembak bagi Hamilton, dan mempertahankan posisi terdepan hingga menyentuh garis finis dengan keunggulan lebih dari 6 detik.
Kemenangan ini mencatatkan sejarah baru: Antonelli resmi menjadi pemenang GP Monaco termuda sepanjang sejarah F1 di usia 19 tahun, 9 bulan, dan 13 hari. Ia merayakan kemenangan kelimanya secara beruntun musim ini dengan melompat langsung ke pelabuhan ikonik Monaco (Monaco harbour).
Selain drama di barisan depan, sirkuit Monte Carlo menyajikan berbagai keseruan di sepanjang lintasan. George Russell misalnya, rekan setim Antonelli, George Russell, mengalami hari yang sangat kacau. Sempat melakukan strategi undercut yang apik untuk merebut posisi keempat, Russell terkena penalti 5 detik karena mengebut di pit lane.
Sialnya, tim Mercedes gagal menjalankan penalti tersebut dengan benar saat Safety Car keluar, membuat penaltinya membengkak menjadi penalti Stop-Go yang melemparnya keluar dari zona poin (finis di P12).
Pembalap muda Red Bull lainnya, Isack Hadjar, berhasil menyelamatkan muka timnya dengan mengamankan podium ketiga. Ini menjadi podium perdana yang sangat emosional bagi pembalap Prancis tersebut di sirkuit paling bergengsi.
Perebutan poin terakhir berlangsung brutal. Nico Hulkenberg dijatuhi penalti 10 detik karena memicu tabrakan dengan Carlos Sainz. Sergio Perez yang membalap untuk tim Cadillac sempat finis di posisi ke-10 dan mengira telah mempersembahkan poin perdana bagi timnya, sebelum akhirnya denda penalti pasca-balapan merenggut posisi tersebut dan memberikannya kepada pembalap veteran Aston Martin, Fernando Alonso.(*)
BACA JUGA: Kimi Antonelli Cetak Sejarah di F1 Kanada Lewat Duel Maut Rekan Setim