- Sentimen pasar energi berubah 180 derajat setelah Iran menjamin keamanan lalu lintas di Selat Hormuz, jalur yang memasok 20% minyak dunia.
- Risiko utama adalah jika gencatan senjata ini gagal bertahan. Jika konflik kembali meletus, kita akan kembali ke kondisi awal.
JERNIH – Ketegangan yang membara di Timur Tengah akhirnya menunjukkan tanda-tanda pendinginan. Kesepakatan gencatan senjata sementara selama dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran yang diumumkan Presiden Donald Trump pada Rabu (8/4/2026) langsung memicu reorientasi besar-besaran di pasar keuangan global.
Langkah diplomatik ini tidak hanya membuka kembali urat nadi energi dunia di Selat Hormuz, tetapi juga mengubah peta kekuatan aset safe haven dan pasar ekuitas secara drastis. Sentimen pasar energi berubah 180 derajat setelah Iran menjamin keamanan lalu lintas di Selat Hormuz—jalur yang memasok 20% minyak dunia.
Harga minyak mentah WTI (West Texas Intermediate) anjlok tajam lebih dari 16% hingga 18% ke level US$94 per barel. Sementara Brent merosot ke kisaran US$90–US$92 per barel.
Penurunan ini merupakan respons langsung atas penghentian serangan AS. Trump menilai proposal damai 10 poin yang diajukan Iran sebagai dasar negosiasi yang sangat layak. Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, mengonfirmasi pihaknya akan berkoordinasi secara teknis di lapangan untuk memastikan pasokan energi kembali lancar.
Uniknya, emas tidak ikut turun bersama minyak. Sebaliknya, logam mulia ini justru melesat karena pelaku pasar melihat gencatan senjata sebagai peluang stabilitas jangka panjang. Harga emas spot menguat 1,98% ke level US$4.798,2 per troy ounce (sekitar Rp2,62 juta per gram). Para analis teknikal memprediksi jika harga bertahan di atas US$4.800, target psikologis berikutnya adalah US$5.000 per ons.
Meredanya konflik memberi harapan bahwa Federal Reserve (The Fed) tidak perlu lagi menaikkan suku bunga secara agresif untuk melawan inflasi akibat harga energi, yang pada gilirannya menurunkan biaya peluang memegang emas.
Pasar saham merespons dengan euforia. Investor yang sebelumnya menarik diri dari aset berisiko kini kembali melakukan aksi beli. Dow Jones Futures melonjak lebih dari 900 poin sementara S&P 500 terkerek naik lebih dari 2%.
Di sisi lain, posisi Dolar AS sebagai satu-satunya safe haven selama perang mulai goyah seiring kembalinya minat investor ke pasar saham dan obligasi.
Senior Market Analyst Pepperstone, Michael Brown, mengingatkan bahwa fokus kini bergeser dari perang ke pemulihan ekonomi. Jika harga energi stabil, bank sentral kemungkinan besar akan menganggap inflasi kemarin bersifat sementara dan tidak akan melakukan pengetatan moneter yang mencekik pertumbuhan.
Namun, Brown memberikan catatan kritis. “Risiko utama adalah jika gencatan senjata ini gagal bertahan. Jika konflik kembali meletus, kita akan kembali ke kondisi awal: minyak melambung, Dolar menjadi satu-satunya tempat aman, dan saham serta logam akan kembali terkapar.”
