Jernih.co

[JERNIH PIALA DUNIA 2026] Australia Korban Penalti Disihir Mesir

Kalah kelas dalam drama adu penalti, perjudian menit akhir Australia berujung petaka. Menyusul jejak tragis Belanda dan Jerman, langkah Socceroos harus terhenti di babak 32 besar.

WWW.JERNIH.CO –  Setelah publik sepak bola dunia menyaksikan runtuhnya raksasa Eropa seperti Belanda dan Jerman yang harus angkat koper lebih awal dengan skenario serupa, kini nasib tragis yang sama menimpa satu-satunya perwakilan Asia, Australia. Diunggulkan di atas kertas dan diprediksi bakal melenggang mulus, langkah Socceroos justru terhenti di babak 32 besar setelah ditumbangkan oleh Mesir lewat drama adu penalti yang menyakitkan.

Kegagalan Australia ini terasa jauh lebih getir dibandingkan Belanda atau Jerman. Saat memasuki babak tos-tosan, mentalitas anak asuh Tony Popovic tampak runtuh di bawah tekanan stadion. Australia hanya mampu menyarangkan 2 gol dalam adu penalti, sementara Mesir tampil sangat klinis dan dingin dengan menyapu bersih seluruh eksekusi menjadi 4 gol penalti tanpa cela.

Pertandingan hidup-mati ini digelar di Dallas Stadium (AT&T Stadium), Texas, Amerika Serikat. Sejak peluit pertama dibunyikan, kedua tim langsung memperlihatkan intensitas tinggi. Pada awal babak pertama, Australia sebenarnya menjadi tim yang lebih aktif menyerang dan membuat gebrakan.

Pemuda berbakat Australia, Cristian Volpato, hampir saja memecah kebuntuan lebih cepat andai tendangan jarak jauhnya tidak membentur mistar gawang. Begitu pula pergerakan agresif dari Jordy Bos di sisi sayap yang berkali-kali merepotkan lini pertahanan tim berjuluk The Pharaohs tersebut.

Meski Australia lebih mendominasi peluang awal, Mesir yang bermain lebih taktis justru berhasil mencuri keunggulan terlebih dahulu. Setelah jeda babak pertama, giliran Australia yang menaikkan intensitas serangan demi mengejar ketertinggalan.

Tekanan bertubi-tubi Socceroos akhirnya membuahkan hasil di babak kedua, memaksa pertandingan berlanjut ke babak perpanjangan waktu 2 kali 15 menit. Pada paruh ekstra ini, giliran megabintang Mesir, Mohamed Salah, yang memimpin serangan dan membuat gebrakan di lini pertahanan Australia, meski kedudukan 1-1 tetap tidak berubah hingga menit ke-120.

Dua gol yang tercipta sepanjang waktu normal lahir dari proses yang cukup dramatis. Gol pembuka di menit 13 berawal dari situasi set-piece. Kemelut sempat terjadi saat tendangan pertama berhasil diblok barisan pertahanan Australia.

Namun, Mesir dengan sigap menjaga bola tetap hidup. Karim Hafez kemudian melepaskan umpan silang lambung yang sangat akurat ke dalam kotak penalti. Emam Ashour yang lolos dari kawalan langsung melompat dan melepaskan sundulan tajam ke sudut gawang tanpa bisa dijangkau kiper Patrick Beach.

Australia berhasil menyamakan kedudukan  di menit 55 lewat skema bola mati di sisi kiri pertahanan Mesir. Aiden O’Neill maju sebagai eksekutor dan mengirimkan umpan lambung melengkung yang sangat berbahaya ke area tiang dekat. Bek Mesir, Mohamed Hany, yang berniat menghalau bola dengan kepalanya justru salah mengantisipasi arah datangnya bola, membuat si kulit bundar berbelok masuk ke gawangnya sendiri.

Ketika laga harus ditentukan lewat adu penalti, Tony Popovic sempat melakukan perjudian dengan memasukkan kiper veteran Mat Ryan di menit ke-119. Sayangnya, strategi tersebut gagal meredam ketenangan para algojo Mesir.

Eksekutor pertama Australia, Harry Souttar, gagal menjalankan tugasnya setelah tendangannya meleset. Di sisi lain, empat penendang Mesir—termasuk eksekusi Panenka berdarah dingin dari Mohamed Salah—sukses mengecoh kiper. Ketika penendang muda Australia, Lucas Herrington, juga gagal menceploskan bola, Hossam Abdelmaguid maju sebagai penentu dan sukses mengunci kemenangan 4-2 untuk Mesir, sekaligus mengirim Australia pulang menyusul kegagalan tragis Belanda dan Jerman.

Kekalahan tragis Australia dari Mesir lewat adu penalti di babak 32 besar Piala Dunia 2026 merupakan dampak langsung dari runtuhnya mentalitas dan buruknya kesiapan teknis para pemain. Memikul beban berat sebagai tim yang lebih diunggulkan, para algojo Socceroos justru tampil penuh keraguan dengan bahasa tubuh yang tegang. Akibatnya, kualitas eksekusi penalti mereka sangat minim variasi, berpola monoton, dan kurang bertenaga, sehingga dengan mudah dibaca oleh kiper lawan. Kegagalan penendang pertama seperti Harry Souttar kian meruntuhkan moral sisa penendang lainnya, berbanding terbalik dengan para pemain Mesir yang tampil dingin dan sangat klinis.

Di sisi lain, strategi perjudian pelatih Tony Popovic yang memasukkan kiper veteran Mat Ryan di menit ke-119 justru menjadi bumerang bagi tim. Alih-alih mengintimidasi lawan, pergantian larut malam ini membuat lini pertahanan kehilangan ritme dan menambah tekanan psikologis bagi skuad Australia sendiri. Ditambah lagi dengan komposisi eksekutor yang minim pengalaman sebagai penendang penalti reguler di level klub, Australia akhirnya harus merelakan tiket babak 16 besar karena kalah kelas dalam aspek kematangan mental dan taktis dari Mohamed Salah dan kawan-kawan.

Mesir untuk pertama kalinya lolos ke 16 besar. Tahun 1934 Mesir pernah masuk 16 besar tetapi kalah oleh Hungaria. Sementara pada 1990 di Italia dan 2018 di Rusia, mereka selalu gagal di babak grup. Ini kebangkitan Mesir.(*)

BACA JUGA: [JERNIH PIALA DUNIA 2026] Tangis Tragis Senegal di Tangan Belgia

Exit mobile version