Jernih.co

[JERNIH PIALA DUNIA 2026] Saat Kepongahan Mengubur Kejayaan Sepak Bola Argentina

Dari panggung kejayaan menuju cemoohan dunia. Di balik rentetan trofi dan dominasi taktik, timnas Argentina kini terperosok dalam krisis etika—diwarnai aksi brutal Leandro Paredes, investigasi khusus FIFA, hingga petisi 12 juta orang yang menolak aksi provokasi mereka. Benarkah era kelicikan ‘viveza criolla’ resmi berakhir di era kamera VAR?

WWW.JERNIH.CO –  Sepak bola Argentina berada di persimpangan jalan yang sangat paradoksal. Di satu sisi, La Albiceleste menikmati salah satu era paling bergemilang trofi dalam sejarah mereka—diawali dengan gelar Copa América 2021, Trofi Finalissima 2022, mahkota Piala Dunia 2022 di Qatar, hingga Copa América 2024. Bahkan dalam perhelatan Piala Dunia 2026, Argentina kembali menunjukkan determinasi tinggi dengan menembus partai puncak sebelum akhirnya dikalahkan Spanyol 0-1 lewat babak perpanjangan waktu.

Namun, di balik rentetan prestasi mengagumkan tersebut, muncul gelombang antipati dan kritik pedas dari publik global yang kian tak terbendung. Citra sepak bola Argentina bergeser dari representasi seni mengolah bola yang indah menjadi simbol provokasi, ketidakdisiplinan, dan dugaan hak istimewa (privilege) di lapangan hijau.

Budaya Cancha dan Aksi Kasar

Akar krisis citra ini tidak tumbuh begitu saja. Salah satu pemantik utama kemarahan publik internasional adalah ulah para pemainnya sendiri di luar dan di dalam lapangan. Publik tentu masih mengingat insiden nyanyian bermuatan rasisme yang diunggah oleh Enzo Fernández saat perayaan juara Copa América 2024.

Nyanyian yang menyasar para pemain keturunan Afrika di timnas Prancis tersebut tidak hanya memicu kecaman dari Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) dan rekan setimnya di Chelsea, tetapi juga menelanjangi kurangnya sensitivitas etis di tubuh skuad.

Laga final Piala Dunia 2026 melawan Spanyol mempertegas budaya kekerasan ini. Pertandingan yang berjalan tensi tinggi diwarnai aksi tekel taktis yang membahayakan lawan. Cristian Romero menjadi sorotan utama setelah pelanggaran keras beruntun yang luput dari kartu merah direct, sementara Rodrigo De Paul kerap melakukan provokasi fisik tanpa bola untuk memancing emosi pemain muda Spanyol.

Di dalam lapangan, tradisi viveza criolla—istilah lokal Argentina untuk tindakan cerdik atau “kelihaian” memanfaatkan celah aturan—sering kali melampaui batas fair play. Gaya bertanding yang cenderung agresif, provokasi berlebihan terhadap lawan dan wasit, hingga selebrasi yang konfrontatif membuat simpati netral perlahan luntur.

Era itu sudah berakhir. Tidak ada lagi kelicikan dan kecurangan seperti yang sering mereka pertontonkan dan seolah-olah tak terdeteksi. Ratusan kamera (bahkan sorotan kamera penonton) merekam itu semua dan dengan mudah publik mencermati siapa yang benar dan siapa yang provokator.

Sorakan dan Aksi Arogansi

Kekecewaan publik memuncak bukan hanya saat peluit panjang berbunyi, melainkan pada tragedi memalukan pasca-pertandingan. Penjaga gawang Emiliano “Dibu” Martínez kembali melakukan tindakan provokatif dengan menolak mengalungkan medali perak secara hormat dan melemparkan gestur mengejek ke arah tribune pendukung Spanyol.

Sesaat setelah pertandingan usai di Stadion MetLife, Leandro Paredes mengamuk di luar permainan. Ia terlibat adu dorong dengan Eric Garcia dan melayangkan kontak fisik, ayunan tangan ke arah pemain muda Spanyol, Gavi. Aksi brutal di luar batas permainan ini membuat wasit mengganjar Paredes dengan kartu merah langsung pasca-laga (luar lapangan)—sebuah pemandangan langka yang mencoreng panggung tertinggi sepak bola dunia.

Situasi makin keruh ketika beberapa pemain senior, termasuk Marcos Acuña dan Nicolás Otamendi, terlibat konfrontasi fisik di lorong stadion (tunnel) dengan staf kepelatihan Spanyol serta mengintimidasi wartawan di mix zone. Tindakan ini menyempurnakan potret ketidakdewasaan sikap skuad Argentina saat menerima kekalahan, sekaligus mencoreng reputasi ajang terbesar di dunia tersebut.

Buntut dari kebrutalan pasca-pertandingan ini, FIFA secara resmi menunjuk Jaksa Disiplin dan Etik khusus untuk mengusut dugaan pelanggaran Kode Disiplin yang dilakukan Leandro Paredes, Nahuel Molina, serta jajaran ofisial Argentina. Ancaman sanksi berat berupa skorsing jangka panjang dan denda kini membayangi mereka.

Puncak dari frustrasi publik sepak bola dunia meledak pada turnamen Piala Dunia 2026. Perjalanan Argentina menuju final diwarnai serangkaian keputusan wasit dan penggunaan Video Assistant Referee (VAR) yang dianggap sangat kontroversial.

Di Laga babak 16 besar vs Mesir umpamanya,  Argentina tertinggal 0-2 sebelum membalikkan kedudukan menjadi 3-2 secara dramatis. Keputusan menganulir gol Mesir melalui intervensi VAR serta dugaan pelanggaran terhadap Mohamed Salah sebelum proses gol penentu Argentina memicu protes keras dari Federasi Sepak Bola Mesir dan pelatih Hossam Hassan.

Kritik mengarah pada narasi bahwa kepemimpinan wasit cenderung melunak saat berhadapan dengan nama besar seperti Lionel Messi. Data statistik menunjukkan rasio pelanggaran dibanding kartu kuning Argentina kerap lebih longgar dibandingkan tim-tim besar lain seperti Inggris.

Reaksi publik mencapai skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Gerakan daring melalui situs petisi seperti argentinaout.com berhasil mengumpulkan lebih dari 12 juta tanda tangan yang menuntut agar Argentina didiskualifikasi atau diberi sanksi tegas. Meski petisi tersebut tidak memiliki kekuatan hukum formal bagi FIFA, angka tersebut menyuarakan krisis legitimasi moril yang dihadapi La Albiceleste.

Harga Sebuah Dominasi

Mencuatnya fenomena ini menunjukkan bahwa sepak bola Argentina sedang mengidap “sindrom kebal sanksi” (sense of impunity). Dukungan fanatik dalam negeri dan keberadaan ikon-ikon besar dunia menciptakan benteng defensif yang mengabaikan kritik eksternal. Setiap kritik terhadap integritas mereka sering kali ditangkis oleh jajaran pelatih maupun federasi (AFA) sebagai “rasa iri” atau “prasangka buruk” terhadap kesuksesan mereka.

Keberhasilan mempertahankan level kompetitif tertinggi tidak bisa dipungkiri. Secara taktis dan bakat, Argentina adalah raksasa. Namun, ketika batas antara ketangguhan mental dan tindakan tidak sportif terus dikaburkan, prestasi tersebut akan selalu dibayangi catatan kaki kemarahan publik. Tanpa adanya pembenahan sikap, reformasi etika dari AFA, serta kontrol emosi para pemainnya, Argentina berisiko memenangi piala di lapangan tetapi kehilangan penghormatan dari dunia sepak bola.

Kepongahan itulah yang membalikkan Argentina jadi cemoohan dunia. Tangis Messi dan jutaan rakyat Argentina adalah sanksi yang mereka harus terima atas semua kesombongannya.(*)

BACA JUGA: [JERNIH PIALA DUNIA 2026] Cetak Biru Mahakarya Spanyol, Meramu Darah Muda Menjadi Monster Baru

Exit mobile version