Tudingan “anak emas” kembali membayangi langkah Albiceleste. Berawal dari drama babak gugur melawan Mesir dan Swiss, jutaan pencinta bola bersatu menuntut transparansi VAR yang dinilai selalu menguntungkan anak asuh Lionel Scaloni.
WWW.JERNIH.CO – Perjalanan tim nasional Argentina di Piala Dunia 2026 diiringi oleh drama luar biasa yang tidak hanya terjadi di dalam lapangan, tetapi juga di jagat maya. Sebuah gerakan protes masif berupa petisi daring (online) menuntut agar sang juara bertahan, Argentina, dicoret atau diusir dari turnamen paling bergengsi ini.
Hingga pertengahan Juli 2026, laporan yang beredar menyebutkan bahwa petisi tersebut telah ditandatangani oleh lebih dari 6 juta hingga 9 juta orang di seluruh dunia.
Angka fantastis ini menjadikannya salah satu petisi olahraga paling viral yang pernah ada, meskipun belakangan muncul dugaan dari warganet bahwa lonjakan angka tersebut merupakan hasil koordinasi massal atau bahkan hoax sistematis.
Gerakan ini awalnya dipelopori oleh kelompok suporter dari negara-negara yang disingkirkan oleh Argentina di fase gugur.
Gelombang kekecewaan pertama datang setelah laga babak 16 besar di Atlanta. Mesir, yang sempat unggul 2-0, akhirnya harus kalah dramatis dengan skor 3-2 setelah Argentina melakukan comeback di menit-menit akhir. Suporter Mesir (seperti inisiator bernama Nour Osama dan Ibrahim Saad di Change.org) langsung meluncurkan petisi untuk menyelidiki wasit François Letexier dan menuntut tanding ulang.
Kekesalan semakin memuncak ketika Argentina mengalahkan Swiss 3-1 di perempat final lewat babak perpanjangan waktu. Suporter Swiss merasa dirugikan setelah penyerang andalan mereka, Breel Embolo, diganjar kartu merah (kartu kuning kedua) yang dianggap sangat kontroversial.
Aliansi suporter yang merasa “dikecewakan” ini kemudian menyatu dengan jutaan pencinta sepak bola netral yang merasa ada pola tidak sehat dalam kepemimpinan wasit di laga-laga Argentina.
Para penandatangan petisi menyuarakan beberapa poin keberatan yang seragam. Banyak penggemar merasa bahwa FIFA sengaja mengarahkan jalannya turnamen agar Lionel Messi bisa kembali mengangkat trofi di akhir karier internasionalnya. “Mengapa dunia harus bersaing jika pemenangnya sudah ditentukan sejak awal? Tendang Argentina dan beri semua orang kesempatan yang adil,” bunyi salah satu narasi utama petisi tersebut.
Tak sedikit masyarakat yang memandang keputusan VAR dan wasit yang dianggap memihak. Mulai dari penalti yang dianggap terlalu mudah diberikan hingga keputusan kartu merah untuk lawan (seperti pada kasus Breel Embolo dari Swiss), dinilai selalu menguntungkan anak asuh Lionel Scaloni.
Para pendukung petisi menilai bahwa jika FIFA tidak mengambil tindakan tegas atau melakukan evaluasi terhadap kepemimpinan wasit, maka integritas Piala Dunia 2026 sebagai ajang olahraga yang jujur akan rusak sepenuhnya.
Meski petisi daring ini mengumpulkan jutaan dukungan, secara regulasi FIFA tidak memiliki kewajiban hukum atau dasar olahraga untuk mendiskualifikasi suatu tim hanya berdasarkan tuntutan publik di internet. Argentina tetap melenggang ke babak semifinal untuk menghadapi Inggris di Stadion Mercedes-Benz.
Namun, petisi ini sukses memberikan tekanan psikologis yang luar biasa besar bagi skuad Albiceleste serta menaruh sorotan tajam bagi siapa pun wasit yang akan memimpin jalannya laga sisa di Piala Dunia 2026 ini.
Artinya, kelak Piala Dunia 2026 dikenang sebagai ajang FIFA terbesar yang penuh dengan kontroversi dan skandal. Dan, jika Argentina menjadi juara, statusnya tak sepenuhnya “bersih”.(*)
BACA JUGA: [JERNIH PIALA DUNIA 2026] Bursa Judi Dunia, Pasar Taruhan Inggris vs Argentina Mendadak Berbalik
