Jernih.co

Pete Hegseth, Si Radikalis Bertato di Kursi Kekuasaan Amerika Serikat

Dengan tubuh penuh tato simbol penjagalan abad pertengahan dan otak yang dipenuhi narasi kebencian murni terhadap Islam, ia tidak datang untuk diplomasi—ia datang untuk memuaskan fantasi ‘Perang Suci’-nya.

WWW.JERNIH.CO – Penunjukan Pete Hegseth sebagai Sekretaris Departemen Perang (istilah yang kini mulai sering digunakan menggantikan Departemen Pertahanan di era pemerintahan Trump kedua) telah memicu gelombang kekhawatiran global.

Mantan pembawa acara Fox News dan veteran Garda Nasional ini tak bisa disangkal merupakan simbol dari pergeseran radikal kebijakan luar negeri AS yang kini lebih bernuansa ideologis dan religius.

Lahir pada tahun 1980, Hegseth adalah lulusan Universitas Princeton dan Harvard. Ia memiliki rekam jejak militer sebagai perwira infanteri yang pernah ditugaskan di Guantanamo Bay, Irak, dan Afganistan. Pengalaman tempur ini membentuk pandangan dunianya yang hitam-putih.

Sekembalinya ke AS, ia memimpin organisasi veteran konservatif sebelum akhirnya menjadi wajah populer di media melalui perannya sebagai komentator politik.

Analisis terhadap tulisan-tulisan Hegseth, terutama dalam bukunya yang berjudul American Crusade (2020), menunjukkan bahwa ia tidak melihat Islam sebagai sekadar agama, melainkan sebagai ancaman eksistensial bagi peradaban Barat.

Hegseth sering kali menyamakan Islam dengan “Islamisme” tanpa pemisahan yang jelas. Baginya, sejarah adalah pertarungan panjang yang belum selesai antara Kristen Barat dan Islam. Ia memandang migrasi Muslim ke Eropa sebagai “invasi” yang bertujuan menumbangkan budaya Barat melalui konsep hijrah yang ia tafsirkan secara menyimpang sebagai penaklukan non-kekerasan.

Kebenciannya kepada Islam bersifat menyeluruh. Lihat perspektifnya terhadap Syiah.  Ia memandang Iran sebagai musuh bebuyutan yang harus dihadapi dengan kekuatan militer maksimal. Ia secara terbuka mendukung serangan agresif terhadap Teheran.

Juga bagaimana ia melihat Sunni. Meskipun banyak sekutu AS berlatar belakang Sunni, Hegseth tetap menaruh kecurigaan mendalam, menganggap bahwa radikalisme adalah inti dari ajaran tersebut yang sewaktu-waktu dapat berbalik melawan AS.

BACA JUGA: NYT: AS Bertanggung Jawab atas Pemboman Taman Kanak-kanak di Iran

Salah satu poin paling provokatif dari sosok Hegseth adalah koleksi tato di tubuhnya yang sering dikaitkan dengan supremasi kulit putih dan ekstremisme agama.

Umpamanya salib Yerusalem, sebuah tato besar di dadanya ini merupakan simbol kuno dari Perang Salib abad ke-11. Meskipun Hegseth berkilah bahwa itu hanyalah simbol Kristen, para pakar militer dan kelompok hak sipil menilai penggunaan simbol ini dalam konteks modern sering digunakan oleh kelompok nasionalis Kristen radikal.

Kemudian tulisan “Deus Vult” (Tuhan Menghendakinya). Tato di lengannya ini adalah seruan perang tentara salib saat merebut Yerusalem. Karena tato-tato inilah, Hegseth dikabarkan sempat dilarang bertugas dalam pengamanan pelantikan Presiden Joe Biden pada 2021 karena dianggap memiliki kecenderungan ekstremis.

Di dalam negeri, sosoknya sangat memecah belah. Kritik terhadapnya mencakup beberapa aspek krusial. Sebut saja soal ketidaklayakan profesional pada sosok Hegseth.  Kritikus berpendapat bahwa mengelola departemen dengan anggaran miliaran dolar dan jutaan personel memerlukan pengalaman manajerial yang jauh melampaui kapasitas seorang komentator TV.

Ia juga menghadapi tuduhan perilaku tidak pantas di masa lalu, termasuk laporan tentang konsumsi alkohol berlebih dan tuduhan pelecehan seksual yang ia bantah keras.

Hegseth secara terbuka menyatakan akan memecat para jenderal yang mendukung program keberagaman (DEI) di militer, yang menurutnya membuat militer AS menjadi “lemah dan kewanitaan.”

Tentu saja respon negatif juga datang dari komunitas Muslim-Amerika dan aktivis hak asasi manusia. Mereka melihat pengangkatannya sebagai lampu hijau bagi diskriminasi sistemik dan kebijakan luar negeri yang berlandaskan sentimen agama daripada kepentingan geopolitik yang rasional.

Kehadiran Hegseth di puncak kekuasaan militer AS menandakan era di mana diplomasi mungkin akan dikesampingkan demi konfrontasi ideologis. Dengan retorika “Perang Suci” yang sering ia gaungkan, dunia kini menatap cemas pada potensi konflik baru yang dipicu oleh sentimen pribadi seorang pemimpin yang merasa dirinya sedang menjalankan mandat suci di medan perang modern.

Alasan mengapa publik begitu geram adalah karena Hegseth tidak lagi menyembunyikan fobia-nya di balik jargon politik yang sopan.

Ia secara terbuka merendahkan nilai-nilai kemanusiaan dalam Islam, menganggap jutaan orang sebagai target sah hanya karena keyakinan mereka. Tato “Deus Vult” di lengannya bukan sekadar seni kulit; itu adalah pernyataan perang terhadap siapa pun yang tidak sejalan dengan visinya.

Banyak warga AS sendiri yang merasa jijik karena ia dianggap menghancurkan citra militer yang seharusnya profesional menjadi alat balas dendam pribadi yang fanatik. Dengan model pemimpin yang sangat kontroversial semacam ini, Amerika memang tengah membuka pintu permusuhan kepada banyak pihak. Dan, Pete Hegseth adalah sang bom waktu di jantung pertahanan Amerika.(*)

BACA JUGA: Pemerintahan Trump Gunakan Meme dan Video untuk Memoles Duka dan Kekejaman Perang di Iran

Exit mobile version