JERNIH – Pemerintah Iran melalui Markas Besar Khatam al-Anbiya secara resmi membantah keterlibatan Republik Islam tersebut dalam serangan terhadap fasilitas desalinasi air di Kuwait. Teheran justru menuding Israel berada di balik insiden tersebut sebagai upaya untuk memicu ketegangan regional.
Juru bicara Markas Besar Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, pada Senin (30/3/2026) menegaskan bahwa serangan itu adalah bukti “niat jahat dan korupsi musuh” yang dirancang untuk mendestabilisasi kawasan Timur Tengah.
Meski membantah serangan di Kuwait, Zolfaghari menekankan bahwa pangkalan militer, personel, dan fasilitas Amerika Serikat, serta infrastruktur keamanan dan ekonomi Israel, tetap menjadi target sah bagi pasukan Iran.
Zolfaghari juga mendesak negara-negara di Asia Barat untuk tetap waspada terhadap upaya adu domba. Ia menyerukan pengakhiran kehadiran militer AS dan Israel di wilayah tersebut, yang dianggapnya sebagai sumber kekacauan dan fitnah terhadap Teheran.
Secara terpisah, Komandan Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Majid Mousavi, menyatakan bahwa Iran akan terus melanjutkan operasi untuk melumpuhkan jaringan radar dan sistem logistik Amerika Serikat.
“Kelumpuhan jaringan radar dan layanan logistik akan terus berlanjut,” ujar Mousavi. Ia mengeklaim bahwa pasukan AS kini tidak memiliki pilihan lain selain menjauh dari perbatasan Iran karena pengawasan intelijen dan serangan berkelanjutan yang dilakukan Teheran.
Mousavi juga menunjuk bukti di lapangan, termasuk puing-puing pesawat sistem peringatan dan kontrol udara (AWACS), pesawat pengisi bahan bakar udara, serta fasilitas AS yang hancur, sebagai hasil dari efektivitas serangan mereka. Ia memperingatkan bahwa target bernilai tinggi lainnya akan segera menyusul untuk diserang.
