JERNIH — Kabar duka kembali menyelimuti dunia sepak bola internasional. Penjaga gawang asal Palestina, Saleem Al-Ashqar, dilaporkan tewas akibat tembakan tank militer Israel di wilayah Al-Qarara, sebelah timur laut Khan Younis, Gaza Selatan, pada Rabu lalu. Tragedi ini menambah panjang daftar atlet yang menjadi korban dalam gempuran yang terus menargetkan komunitas olahraga di wilayah tersebut.
Berdasarkan keterangan dari Asosiasi Sepak Bola Palestina (PFA) kepada media The New Arab, peristiwa memilukan itu terjadi saat Al-Ashqar sedang mengendarai sepeda miliknya. Pemain berusia 32 tahun tersebut tengah dalam perjalanan untuk mengisi ulang tabung gas kebutuhan rumah tangganya.
Nahas, wilayah yang dilewatinya mendadak dihujani tembakan hebat dari tank militer Israel yang bersiaga di sekitar lokasi. Sebuah peluru nyasar bersarang tepat di bagian perutnya.
Al-Ashqar sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat. Namun, pemeriksaan medis menunjukkan adanya pendarahan internal yang sangat parah serta kerusakan luas pada organ lambung, usus, hati, hingga pankreasnya.
“Terlepas dari upaya keras tim medis, keterbatasan fasilitas rumah sakit yang parah—diperburuk oleh runtuhnya sektor kesehatan Gaza akibat perang—membuat pendarahan internal tersebut mustahil dikendalikan. Al-Ashqar mengembuskan napas terakhir sekitar dua jam setelah tiba di rumah sakit,” ungkap juru bicara PFA, Dima Youssef.
Meninggalkan Istri yang Sedang Hamil
Meninggalnya Al-Ashqar menyisakan kepedihan mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. Sang kiper diketahui baru saja melangsungkan pernikahan lima bulan lalu, dan sang istri saat ini tengah mengandung anak pertama mereka. Sebagai satu-satunya anak laki-laki di keluarganya, Al-Ashqar juga meninggalkan tujuh orang saudara perempuan.
Sepanjang karier profesionalnya di lapangan hijau, Al-Ashqar dikenal sebagai kiper tangguh yang pernah membela beberapa klub top di Jalur Gaza, seperti Khadamat Khan Younis, Al-Aqsa, dan Al-Masdar.
Ungkapan duka dan kecaman pun mengalir deras dari berbagai belahan dunia, termasuk dari Club Deportivo Palestino, klub sepak bola asal Chile yang didirikan oleh para imigran Palestina sejak tahun 1920-an.
“Deportivo Palestino sangat menyesali kepergian Saleem Al-Ashqar, penjaga gawang Palestina berusia 32 tahun yang pernah membela panji Khadamat Khan Younis dan kehilangan nyawanya di tangan tentara Israel. Kami hancur melihat peristiwa seperti ini terus terjadi. Kami menuntut keadilan dan perdamaian,” tulis pernyataan resmi klub asal Chile tersebut.
Tewasnya Saleem Al-Ashqar menambah kelam catatan hitam dunia olahraga di Palestina. Sejak pecahnya perang, total ada 1.009 insan olahraga Palestina yang gugur, di mana 567 di antaranya merupakan pemain sepak bola. Salah satu nama besar yang juga tewas sebelum Al-Ashqar adalah Suleiman al-Obeid, yang ditembak mati tentara Israel saat berusaha mengambil bantuan kemanusiaan pada Agustus tahun lalu.
Ekosistem sepak bola dan olahraga Palestina secara umum dinilai telah terdampak secara sistematis oleh militer Israel. Mulai dari penangkapan para pemain, perusakan kantor klub, hingga penghancuran total lapangan, stadion, dan fasilitas latihan di seluruh Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023.
Mirisnya, serangan-serangan bersenjata oleh militer Israel ini terus terjadi di berbagai sudut Jalur Gaza, meskipun perjanjian gencatan senjata telah resmi ditandatangani pada 10 Oktober 2025 lalu. Sejak kesepakatan damai tersebut diteken, tercatat sedikitnya 1.053 orang tewas dan sekitar 3.400 lainnya luka-luka akibat pelanggaran yang terus berulang.
