Site icon Jernih.co

Era Barisan Peretas Otonom: Agen AI Bobol 85 Akun Pemerintah dalam Empat Hari

Ilustrasi: hacker

JERNIH — Sebuah alarm bahaya baru berbunyi di dunia pertahanan siber global. Kelompok peretas asal Tiongkok dilaporkan sukses membobol 85 akun milik lembaga pemerintah dan menggasak ribuan data pribadi hanya dalam tempo empat hari.

Uniknya, peretasan berskala masif ini dinavigasi hampir secara mandiri (full-autonomous) oleh agen kecerdasan buatan (AI agent) berbasis open-source tanpa campur tangan intensif dari manusia.

Laporan firma keamanan siber Dream yang dilansir PCMag pada Selasa (18/8/2026) mengungkapkan bahwa serangan ini menunjukkan tingkat efisiensi eksploitasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. AI tak hanya menebak kata sandi secara massal, tetapi juga mampu mengeksekusi analisis kerentanan pada aplikasi web pemerintah dalam hitungan hari.

Investigasi Dream mengonfirmasi bahwa penyerang berhasil mencuri 2.564 data kepegawaian beserta basis data pengguna secara utuh.”Penyerang tidak berhenti di target utama. Operasi diperluas ke vendor rantai pasok TI pemerintah, badan keselamatan nuklir, sistem email pemerintah, dan lebih dari 7 perusahaan sektor energi,” terang pihak Dream.

Serangan ini dijalankan melalui framework khusus yang mengombinasikan dua agen AI gratisan berbasis open-source, yakni Hermes dan OpenClaw. Sistem ini dirancang sangat terstruktur dengan membagi peran ke dalam setidaknya delapan “sub-agen” AI yang bekerja secara pararel untuk tugas-tugas spesifik.

Dalam mengeksekusi operasinya, framework peretas memanfaatkan divisi kerja yang sangat rapi di antara sub-agen AI-nya. Agen Pengintaian bertugas memindai kerentanan pada rantai pasok (supply chain), sementara Agen Infiltrasi bergerak mengeksekusi pembobolan dan menebak kata sandi (brute force). Secara simultan, Agen Eksploitasi mengidentifikasi celah dari kesalahan konfigurasi aplikasi web, sebelum akhirnya Agen Pemeta Sasaran memperluas jangkauan serangan hingga ke sektor krusial seperti energi dan keselamatan nuklir.

Temuan paling mengkhawatirkan dari riset ini adalah kemudahan AI melompati sistem pembatas keamanan (safety guardrail)-nya sendiri. Para peretas cukup memanipulasi prompt dengan membingkai instruksi seolah-olah merupakan “uji penetrasi resmi” (penetration testing), yang secara seketika meloloskan perintah serangan sungguhan tanpa terdeteksi sebagai pelanggaran etis oleh model AI.

Jejak digital pada kode program menunjukkan bahwa kampanye intrusi siber ini menyasar entitas pemerintahan di kawasan Asia, khususnya Taiwan. The Financial Times melaporkan bahwa analisis laporan internal peretas ditulis dalam aksara Mandarin Sederhana (digunakan di Tiongkok Daratan), sementara modul analisis target disusun menggunakan aksara Mandarin Tradisional yang lazim dipakai di Taiwan.

Ancaman eksistensial ini mulai memicu langkah drastis dari para pengembang raksasa AI. OpenAI bahkan dilaporkan telah membekukan sementara rencana peluncuran model terbarunya, Astra, setelah pengujian internal menunjukkan model tersebut memiliki kemampuan eksploitasi siber yang terlampau kritis dan berisiko tinggi jika jatuh ke tangan yang salah.

Insiden ini menegaskan bahwa era AI-driven cyber warfare bukan lagi sekadar prediksi fiksi ilmiah, melainkan ancaman nyata yang menuntut perombakan total pada arsitektur pertahanan digital negara.

Exit mobile version