Jernih.co

Membongkar Gang Langgar, Kampung Sindikat Narkoba Beromzet Ratusan Juta

Dikenal sebagai kawasan padat penduduk yang bersahaja, Gang Langgar di Samarinda Seberang ternyata menyimpan rahasia kelam. Rupiah ratusan juta per hari beredar. Organisasinya terstruktur.

WWW.JERNIH.CO –  Kota Samarinda, Kalimantan Timur, kembali menjadi sorotan nasional setelah Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri bersama jajaran Kepolisian Daerah (Polda) Kaltim melakukan operasi besar-besaran untuk membongkar salah satu episentrum peredaran narkoba paling masif di wilayah tersebut.

Kawasan yang dikenal sebagai “kampung narkoba” ini terletak di Gang Langgar, Jalan Sultan Hasanuddin, RT 08, Kelurahan Baqa, Kecamatan Samarinda Seberang.

Selama bertahun-tahun, wilayah padat penduduk ini bertransformasi menjadi benteng pertahanan para bandar narkoba. Melalui jaringan yang sangat terorganisir, kelompok ini berhasil mengendalikan pasar gelap narkotika di Samarinda dengan sistem pengamanan berlapis yang sangat sulit ditembus oleh aparat penegak hukum.

Bukan hanya dikenal tempat transaksi biasa, sindikat di Gang Langgar mengelola bisnis haram ini secara terstruktur layaknya sebuah perusahaan atau pangkalan militer mini. Modus utama yang mereka gunakan adalah mempekerjakan puluhan mata-mata atau pengawas lapangan yang dijuluki sebagai “Sniper”.

Berdasarkan penyelidikan kepolisian, jumlah sniper yang berjaga di setiap sudut dan pintu masuk gang mencapai 22 orang pada siang hari, dan membengkak menjadi 31 orang pada malam hari.

Para pengawas lapangan ini dibekali dengan alat komunikasi Handy Talky (HT) dan memanfaatkan kode tangan khusus. Tugas utama mereka adalah memantau pergerakan orang asing, mengarahkan pembeli, serta memberikan peringatan dini (early warning) kepada para bandar di dalam jika ada pergerakan aparat keamanan.

Penjualan dilakukan secara terbuka namun teratur melalui loket-loket khusus di dalam gang yang dijaga ketat agar pembeli tidak langsung berhadapan dengan bandar besar.

Komoditas utama sekaligus tunggal yang menjadi primadona perputaran uang di kampung narkoba ini adalah narkotika jenis sabu (metamfetamin). Paket-paket sabu tersebut dikemas secara eceran mulai dari paket kecil hingga paket sedang (yang sering disebut oleh jaringan mereka sebagai sistem “amplop”). Polisi menyita puluhan paket plastik klip bening berisi sabu siap edar dengan berat bervariasi dari tangan belasan tersangka yang berhasil diamankan.

Sindikat ini dikelola dengan pembagian peran (division of labor) yang sangat rapi. Ada yang bertindak sebagai penyedia barang/bandar yang menyuplai sabu dalam jumlah besar ke dalam area kampung.

Lalu ada penjual/kasir loket. Tugas mereka melayani langsung para pengguna atau kurir kecil yang datang membeli. Di sisi pengelola uang ada pengumpul uang yang bertanggung jawab atas aliran dana tunai harian hasil penjualan.

Kemudian sniper alias pengawas Mereka inilah yang mengamankan wilayah luar dan memandu konsumen masuk ke lokasi transaksi.

Manajemen yang terstruktur dan sistem perlindungan wilayah dari warga lokal yang cenderung tertutup terhadap orang luar membuat bisnis haram ini sukses bertahan hingga kurang lebih 4 tahun sebelum akhirnya diruntuhkan oleh tim gabungan kepolisian.

Skala peredaran narkoba di Gang Langgar tergolong sangat masif untuk ukuran tingkat kelurahan. Dari hasil interogasi dan pelacakan arus keuangan, perputaran uang di kampung narkoba ini menyentuh angka yang fantastis.

Dalam satu hari, satu “amplop” besar sabu dapat dipecah dan menghasilkan uang belasan hingga puluhan juta rupiah. Secara akumulatif, omzet penjualan dari seluruh loket di kampung narkoba ini diperkirakan mencapai Rp150 juta hingga Rp200 juta per hari. Jika dikalkulasikan dalam sebulan, perputaran uang dari bisnis haram di satu kawasan gang ini bisa menyentuh angka miliaran rupiah.

Penggerebekan besar-besaran yang berujung pada penangkapan 11 hingga 13 anggota sindikat ini menjadi pukulan telak bagi jaringan narkoba di Kalimantan Timur. Meski demikian, kepolisian menegaskan bahwa pembersihan kawasan rawan seperti Samarinda Seberang akan terus dilakukan secara berkelanjutan demi memutus mata rantai ketergantungan narkotika di masyarakat.(*)

Exit mobile version