Site icon Jernih.co

Puisi Senin Pagi

Ijazah di tangan meliuk bagai cermin bisu, memantulkan wajah-wajah belia yang tertahan di luar pintu kesempatan.

Pintu korporasi memajang cermin ajaib yang menuntut jejak pengalaman pada telapak kaki yang baru belajar merangkak.

Syarat-syarat magis bertaburan di lembar lowongan, memagari kesempatan dengan benteng absurditas yang menolak akal sehat.

Saat gerbang kerja akhirnya terbuka, jatah keringat hanya dihargai kepingan perunggu yang menguap sebelum paruh bulan.

Di dalam perut kota yang serakah, sesendok nasi dan sepetak atap menjadi kemewahan yang menelan seluruh daya hidup.

Dari balik mimbar, janji sembilan belas juta lapangan kerja pernah bergema bagai surga, namun kini menjelma debu hampa.

Para penentu kebijakan sibuk menata singgasana, membiarkan suaranya menguap tanpa rasa tanggung jawab atas luka rakyat.

Badai ekonomi menghantam tanpa ampun, memaksa gedung-gedung usaha memuntahkan ribuan pekerja ke jalanan melalui gelombang PHK.

Bahkan benteng BUMN yang digadang sebagai pengayom ikut menjelma serigala, memotong uang kompensasi dan mengabaikan regulasi.

Janji perlindungan hukum yang tertulis tebal di atas kertas resmi berubah menjadi asap tipis saat berhadapan dengan kekuasaan.

Hari Senin mengetuk pintu bagaikan algojo, menyeret langkah-langkah lesu kembali ke medan laga yang sarat ketegangan.

Bunyi alarm dan sesak napas di transportasi umum menjadi simfoni horor yang menyambut terbitnya fajar pekan baru.

Di lorong-lorong pabrik dan koridor kantor, para buruh terus memeras otak demi menyambung napas di tengah ancaman pemecatan yang mengintai.

Keringat dan air mata anak bangsa mengalir menjadi pelumas mesin-mesin raksasa yang tak pernah mengenali rasa iba.

Sepanjang garis khatulistiwa yang elok ini, pencari kerja dan pekerja bertahan menenun asa di atas kain yang kian terkoyak. (*)

Exit mobile version