Héctor Souto membawa disiplin ekstrem dan High Pressing khas Spanyol ke dalam skuat Garuda. Sukses mempermalukan Jepang dan memutus kutuk 14 tahun tanpa gelar.
WWW.JERNIH.CO – Héctor Souto Vázquez menyalami satu-persatu anak-anak asuhannnya. Layaknya seorang teman saja. Terkecuali buat Ahmad Habibie, sang kiper yang sukses menahan salah satu tendangan penalti Jepang. Untuk Habibie ada sedikit pelukan.
Hector Souto namanya semakin mentereng di telinga pecinta olahraga tanah air. Kendati belum semengkilap Shin Tae-yong, namun ia telah menjelma menjadi pahlawan baru bagi publik futsal Indonesia.
Pelatih asal Spanyol ini baru saja mengukir tinta emas yang akan dikenang dalam sejarah panjang olahraga nasional. Di bawah komandonya, Timnas Futsal Indonesia berhasil menembus partai Final Piala Asia Futsal 2026 setelah menumbangkan raksasa Asia, Jepang, dalam laga semifinal yang dramatis.
Kelihatan sekali Jepang frustasi saat memasuki menit-menit akhir extra time (ET) paruh kedua. Gol yang mestinya bisa mengurangi selisih gagal dieksekusi. Skor berakhir 5-3. Jepang malu, bahkan menangis, sebab mereka adalah juara empat kali Futsal Asia.
Lahir di Chantada, Lugo, Spanyol pada 7 Desember 1981, Héctor Souto membawa genetik futsal “Negeri Matador” yang dikenal sebagai kiblat futsal dunia. Kini, di usianya yang menginjak 44 tahun (per Februari 2026), Souto berada di masa keemasan karier kepelatihannya.
Ia bukan pelatih yang lahir dari sekadar teori di balik meja, melainkan sosok yang tumbuh besar dalam kultur LNFS (Liga Nacional de Fútbol Sala) yang kompetitif. Sejak muda, ia telah mendedikasikan hidupnya untuk memahami dinamika lapangan kayu, menjadikan disiplin dan kecerdasan taktis sebagai fondasi utamanya.
Sebagai Pelatih Kepala Timnas Futsal Indonesia sekaligus Direktur Teknik Federasi Futsal Indonesia (FFI), Souto memikul beban ganda. Ia tidak hanya dituntut memenangkan trofi dalam jangka pendek, tetapi juga meletakkan fondasi kurikulum futsal nasional untuk jangka panjang.
Perannya yang ganda ini menunjukkan betapa besarnya kepercayaan yang diberikan otoritas futsal Indonesia kepadanya untuk merombak total struktur permainan Garuda.
Salah satu alasan mengapa Timnas Futsal Indonesia tampil begitu dominan belakangan ini adalah perubahan filosofi permainan yang dibawa oleh Souto. Ia dikenal sebagai pelatih yang “kaya taktik” dan sangat detail dalam setiap aspek pertandingan.
Strategi utamanya berfokus pada High Pressing dan intensitas tinggi. Souto tidak membiarkan lawan bernapas sejak menit awal; para pemain Indonesia kini didorong untuk menekan lawan langsung di area pertahanan musuh. Contoh nyata dari efektivitas taktik ini adalah saat Indonesia membantai Korea Selatan dengan skor telak 5-0 pada pembukaan Piala Asia, di mana lawan terlihat frustrasi menghadapi tekanan yang tiada henti.
Selain agresivitas saat menyerang, Souto sangat menekankan organisasi pertahanan yang rapat atau disiplin defensif. Di bawah asuhannya, Timnas Indonesia jarang sekali kebobolan melalui kesalahan-kesalahan elementer yang dahulu sering menjadi kelemahan mendasar. Setiap pemain memiliki tanggung jawab posisi yang jelas dalam sistem man-to-man maupun zone defense yang fleksibel.
Tidak berhenti di situ, keunggulan lain dari Souto adalah variasi set-piece. Ia memiliki segudang skema bola mati—mulai dari kick-in, corner kick, hingga free kick—yang sering kali menjadi pemecah kebuntuan ketika permainan terbuka sulit ditembus.
Namun, di balik kecemerlangan taktik tersebut, ada aspek kedisplinan ekstrem yang ia terapkan. Souto dikenal sebagai pelatih yang tegas dan tidak pandang bulu. Ia tidak segan untuk mencoret pemain bintang atau nama besar dari skuad jika dianggap tidak disiplin atau tidak mampu beradaptasi dengan sistem yang ia bangun. Baginya, keutuhan kolektif jauh lebih penting daripada ego individu pemain.
Keberhasilan Souto di Indonesia bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari pengalaman panjang yang ia kumpulkan di berbagai belahan dunia. Di tanah kelahirannya, ia mengasah kemampuan dengan melatih klub-klub mapan seperti Prone Lugo dan Oxipharma Granada.
Puncaknya, ia sempat menangani O Parrulo Ferrol di kasta tertinggi Liga Futsal Spanyol, sebuah pengalaman yang memberinya pemahaman tentang standar futsal level elite dunia.
Petualangannya di Asia Tenggara dimulai saat ia menangani Timnas Vietnam dan Timnas U-20 Vietnam pada periode 2018–2019. Pengalaman inilah yang memberinya pemahaman mendalam tentang karakter fisik dan psikologis pemain Asia, khususnya di kawasan ASEAN.
Sebelum akhirnya didapuk menjadi pelatih Timnas Indonesia, Souto telah membuktikan tajinya di level klub tanah air bersama Bintang Timur Surabaya (BTS). Ia berhasil membawa BTS meraih gelar juara Liga Futsal Profesional Indonesia secara berturut-turut (2021, 2022) serta mencetak sejarah dengan menjuarai Piala AFF Futsal Antarklub 2022.
Dampak instan yang diberikan Souto sejak penunjukannya pada Agustus 2024 sangat luar biasa. Dimulai dengan membawa Indonesia menjuarai ASEAN Futsal Championship 2024 (Piala AFF) setelah mengalahkan Vietnam di final, Souto berhasil mengakhiri dahaga gelar selama 14 tahun. Kesuksesan itu berlanjut dengan raihan Medali Emas di SEA Games 2025, sebuah prestasi yang sangat bergengsi karena berhasil memutus dominasi Thailand yang selama ini seolah tak tersentuh di Asia Tenggara.
Kini, dengan membawa Indonesia ke Final Piala Asia Futsal 2026, Souto telah melampaui ekspektasi publik. Sebagai Direktur Teknik FFI, ia juga tengah merancang kurikulum pengembangan futsal usia dini yang terintegrasi.
Ambisi besarnya jelas: menjadikan Indonesia tidak hanya sebagai penguasa Asia, tetapi juga kontestan yang disegani di Piala Dunia Futsal 2028 mendatang. (*)
BACA JUGA: Kebangkitan Garuda, Menakar Kekuatan Timnas Futsal Indonesia di Panggung Asia dan Dunia 2026
