Tiga kali ikut Piala Dunia, perjalanan Kanada tak pernah sampai lolos 16 besar. Gol 1-0 di injury time adalah berkah, sekaligus cara mengirim pulang Bafana Bafana.
WWW.JERNIH.CO – Sejak peluit pertama dibunyikan, Kanada di bawah asuhan Jesse Marsch langsung mengambil inisiatif menyerang. Menggunakan formasi agresif 4-4-2, Kanada mendominasi penguasaan bola dan mencoba membongkar pertahanan lawan lewat kecepatan sayap mereka, Tajon Buchanan dan Liam Millar.
Peluang demi peluang lahir, termasuk sundulan Moise Bombito dan aksi Jonathan David, namun benteng pertahanan Afrika Selatan terlalu kokoh.

Di kubu seberang, pelatih kawakan Afrika Selatan, Hugo Broos, menerapkan strategi defensif yang sangat disiplin dengan formasi 4-2-3-1. Skuad Bafana Bafana memilih bermain sabar, merapatkan jarak antar-lini, dan mengandalkan serangan balik cepat melalui Evidence Makgopa dan Teboho Mokoena. Strategi ini terbukti sukses membuat frustrasi barisan penyerang Kanada sepanjang 90 menit waktu normal.
Ketika pertandingan memasuki masa injury time (menit ke-90+2) dan penonton bersiap untuk babak perpanjangan waktu, momen ajaib itu datang. Berawal dari pergerakan Jacob Shaffelburg di sisi kanan, bola dikirim ke area penalti. Bek Afrika Selatan, Ime Okon, mencoba menyapu bola, namun bola liar justru mengarah ke tepi kotak penalti.
Stephen Eustáquio yang berdiri bebas mengontrol bola dengan dada sebelum melepaskan tendangan voli keras menyusur tanah. Bola meluncur deras ke sudut bawah gawang tanpa bisa dijangkau oleh kiper Ronwen Williams. Skor berubah 1-0 dan Los Angeles Stadium langsung bergemuruh.
Kanada memiliki kedalaman skuad yang sangat baik. Masuknya Alphonso Davies pada menit ke-75 setelah pulih dari cedera hamstring terbukti mengubah jalannya laga dan memecah konsentrasi pertahanan lawan. Kreativitas lini tengah yang dimotori Eustaquio juga sangat hidup.
Penampilan Kanada buruk dalam penyelesaian akhir di depan gawang. Dominasi penguasaan bola hampir terasa sia-sia karena mereka kesulitan mengonversi peluang matang menjadi gol sebelum menit akhir.
Sementara Afrika Selatan bermodal organisasi pertahanan yang luar biasa kompak. Penyelamatan heroik Aubrey Modiba di garis gawang dan ketangguhan kiper Ronwen Williams menjadi bukti seni bertahan kelas atas yang mereka tunjukkan.
Strategi bertahan tak diimbangi menyerang. Serangan balik mereka sering kali terisolasi dan lebih banyak mengandalkan spekulasi tendangan jarak jauh yang tidak terlalu mengancam gawang Maxime Crépeau.
Pemain Terbaik: Stephen Eustáquio
Gelar Player of the Match resmi jatuh kepada sang kapten sekaligus pahlawan kemenangan, Stephen Eustáquio. Gelandang milik FC Porto ini tampil menjadi dirigen permainan yang sempurna, menjaga tempo, dan memberikan ketenangan di lini tengah sebelum akhirnya mengunci kemenangan lewat tendangan voli spektakulernya.
Berdasarkan peringkat dunia sebelum turnamen, Kanada berada di peringkat 40 besar FIFA, sementara Afrika Selatan berada di kisaran peringkat 60-70an FIFA. Perbedaan peringkat ini terlihat dari dominasi permainan Kanada, meski Afrika Selatan memberikan perlawanan yang jauh melebihi angka di atas kertas.
Bagi Kanada, partisipasi di Piala Dunia 2026 merupakan penampilan ketiga mereka sepanjang sejarah setelah edisi 1986 (Meksiko) dan 2022 (Qatar). Pada dua edisi sebelumnya, Kanada selalu babak belur dan langsung gugur di fase grup tanpa mengemas satu kemenangan pun.
Lolosnya Kanada ke babak 16 besar di edisi 2026 ini menjadi sejarah pertama kalinya mereka berhasil menembus babak perdelapan final Piala Dunia. (*)
BACA JUGA: [JERNIH PIALA DUNIA 2026] Ini 5 Syarat Mutlak Jalur Peringkat 3 Terbaik Lolos 32 Besar