Site icon Jernih.co

Zverev dan Cobolli Berebut Takhta French Open 2026

Tanpa Sinner dan Djokovic yang bertumbangan lebih awal, final Tunggal Putra French Open 2026 menyajikan laga tak terduga. Intip perjalanan dominan Zverev dan kejutan magis Cobolli menuju partai puncak!

WWW.JERNIH.CO –  Turnamen French Open 2026 di Stade Roland Garros benar-benar menjadi panggung penuh kejutan. Lapangan tanah liat Paris menyaksikan runtuhnya dominasi para petenis papan atas, membuka jalan bagi lahirnya juara Grand Slam baru di nomor Tunggal Putra.

Pertandingan final mempertemukan unggulan ke-2 asal Jerman, Alexander Zverev, melawan petenis kejutan asal Italia yang menjadi unggulan ke-10, Flavio Cobolli, Minggu 7 Juni 2026.

Roland Garros tahun ini dipenuhi drama kejutan (upset) sejak minggu pertama. Sang juara bertahan Carlos Alcaraz bahkan sudah mundur sebelum turnamen dimulai akibat cedera. Kejutan terbesar terjadi di babak kedua saat petenis nomor satu dunia, Jannik Sinner, ditumbangkan oleh Juan Manuel Cerundolo.

Langkah Sinner disusul oleh legenda hidup Novak Djokovic yang takluk di babak ketiga dari petenis muda Brasil, Joao Fonseca. Tak hanya itu, unggulan utama lain seperti Daniil Medvedev (6) dan Taylor Fritz (7) bahkan langsung angkat koper di babak pertama.

Kedua finalis menunjukkan performa luar biasa, meski dengan skenario semifinal yang jauh berbeda.

Alexander Zverev tampil sangat dominan sepanjang turnamen dengan hanya kehilangan dua set. Zverev menumbangkan Benjamin Bonzi (R1), Tomas Machac (R2), Quentin Halys (R3), Jesper De Jong (R16), dan petenis muda Spanyol Rafael Jodar (QF). Di semifinal, ia mematahkan perlawanan sengit sensasi baru asal Ceko, Jakub Mensik, dengan skor 7-5, 6-2, 3-6, 6-3.

Sementara Flavio Cobolli menjadi kejutan terbesar setelah menyisihkan Andrea Pellegrino (R1), Wu Yibing (R2), dan Learner Tien (R3). Cobolli sempat bermain ketat 4 set melawan Zachary Svajda (R16) sebelum mencetak kemenangan terbesarnya atas unggulan ke-4, Felix Auger-Aliassime, di perempat final. Di semifinal, ia diuntungkan secara fisik setelah kompatriotnya, Matteo Arnaldi, terpaksa mundur (walkover) karena sakit.

Zverev, yang melakoni final Grand Slam keempatnya, mengandalkan servis pertamanya yang mematikan dan pukulan backhand dua tangan yang dianggap salah satu yang terbaik di dunia saat ini. Sebaliknya, Cobolli (24 tahun) membawa energi khas Italia dengan pergerakan lapangan yang lincah, kemampuan bertahan yang solid di clay court, serta pukulan forehand agresif yang penuh putaran (spin).

Sebelum final ini, keduanya sudah pernah bertemu sebanyak 4 kali dengan keunggulan rekor 3-1 untuk Zverev. Di lapangan tanah liat tahun 2026 ini, mereka bahkan saling mengalahkan: Cobolli menang di Munich, sementara Zverev membalasnya dengan dominan di Madrid Open. Bagi Zverev, ini adalah misi menghapus kutukan final Grand Slam, sedangkan bagi Cobolli, ini adalah kesempatan emas menuliskan dongeng terindah dalam kariernya.(*)

BACA JUGA: Mirra Andreeva dan Maja Chwalińska Ciptakan Final Kejutan di Paris

Exit mobile version