CrispyDesportare

Mirra Andreeva dan Maja Chwalińska Ciptakan Final Kejutan di Paris

French Open 2026 bersiap menyambut final paling mengejutkan abad ini. Remaja ajaib Mirra Andreeva (19) akan menantang sang pencipta dongeng dari babak kualifikasi, Maja Chwalińska (24).

WWW.JERNIH.CO –  Panggung Court Philippe-Chatrier bersiap menjadi saksi sejarah baru. Final tunggal putri Roland Garros 2026 menghadirkan kejutan terbesar abad ini. Turnamen yang biasanya didominasi oleh nama-nama besar di peringkat teratas, kini justru mempertemukan dua petenis yang sama sekali tidak diunggulkan di awal turnamen: Mirra Andreeva dan Maja Chwalińska.

Meskipun Andreeva berstatus unggulan ke-8, posisinya di awal musim tidak difavoritkan untuk melaju sejauh ini di tanah liat Paris jika dibandingkan dengan dominasi Iga Świątek atau Aryna Sabalenka dalam beberapa tahun terakhir. Sementara itu, Maja Chwalińska menciptakan dongeng yang jauh lebih ekstrem dengan melaju ke final dari babak kualifikasi.

Mirra Andreeva (19 Tahun, Rusia)

Andreeva adalah remaja ajaib yang sebetulnya sudah lama diprediksi akan menjadi bintang besar. Dilatih oleh legenda tenis Conchita Martínez, petenis berusia 19 tahun ini tampil luar biasa dewasa di Roland Garros 2026.

Andreeva bukanlah unggulan utama (seeded ke-8), tetapi ia berhasil meruntuhkan ekspektasi dengan konsistensi permainan baselinenya yang solid untuk mencapai final Grand Slam pertamanya.

Maja Chwalińska (24 Tahun, Polandia)

Chwalińska adalah definisi sejati dari sebuah “kejutan”. Sebelum turnamen dimulai, ia berada di peringkat 114 dunia dan harus merangkak dari babak kualifikasi. Perjalanannya sangat emosional; ia sempat mundur dari dunia tenis pada tahun 2021 karena berjuang melawan depresi.

Kembali ke performa terbaiknya, ia menjadi petenis kualifikasi pertama dalam sejarah Roland Garros (dan kedua di Open Era setelah Emma Raducanu di US Open 2021) yang berhasil menembus babak final Grand Slam.

Kedua pemain menempuh jalur yang sangat kontras menuju final Roland Garros 2026. Mirra Andreeva menjalani turnamen dengan sangat efisien dan dominan. Ia memulainya dengan kemenangan mudah atas Fiona Ferro, sebelum menghadapi satu-satunya ujian berat di babak kedua di mana ia kehilangan satu-satunya set di seluruh turnamen melawan Marina Bassols Ribera (3-6, 6-1, 6-1).

Setelah bangkit di babak tersebut, petenis muda ini melenggang mulus tanpa cela, menumbangkan Marie Bouzková, Jil Teichmann, dan Sorana Cirstea berturut-turut dalam straight set. Di semifinal, dominasinya berlanjut dengan kemenangan meyakinkan atas unggulan ke-15 Marta Kostyuk (6-1, 6-3) untuk memastikan tempat di partai puncak.

Perjalanan Maja Chwalińska adalah kisah perjuangan panjang yang luar biasa. Ia harus bertanding sebanyak sembilan kali—termasuk tiga pertandingan kualifikasi berturut-turut—hanya untuk mencapai final ini. Begitu masuk ke babak utama, ia langsung menciptakan kejutan terbesar turnamen dengan mengalahkan Zheng Qinwen (Juara Olimpiade Paris 2024) di babak pertama.

Kepercayaan dirinya melonjak setelah menang mutlak atas Elise Mertens (6-4, 6-0) di babak kedua, diikuti dengan pertarungan tiga set yang dramatis melawan unggulan Maria Sakkari, di mana ia bangkit dari ketertinggalan untuk menang di set penentu (1-6, 6-3, 6-6*).

Melewati rintangan Sakkari, Chwalińska menunjukkan mental baja yang tak tergoyahkan. Ia mengalahkan petenis tuan rumah Diane Parry dalam straight set, lalu menundukkan Anna Kalinskaya di perempat final dengan pertarungan ketat (7-6, 6-3). Di semifinal, ia kembali menghadapi perlawanan sengit, kali ini melawan unggulan ke-25 Diana Shnaider.

 Dengan kelelahan fisik yang menumpuk setelah menempuh perjalanan panjang dari babak kualifikasi, Chwalińska tetap mampu tampil taktis dan penuh variasi, menang dengan skor akhir 7-6, 6-4 untuk melengkapi dongeng ajaibnya menuju final tunggal putri Roland Garros 2026.

Pertandingan ini akan menjadi benturan dua gaya yang sangat berbeda. Andreeva akan mencoba mendikte permainan dengan groundstroke kerasnya untuk menekan Chwalińska ke belakang lapangan. Di sisi lain, Chwalińska akan mengandalkan kecerdikan taktisnya—menggunakan slice rendah dan drop shot tiba-tiba untuk merusak momentum agresif Andreeva.

Secara pengalaman di lapangan besar, Andreeva sedikit lebih diunggulkan dan kondisi fisiknya jauh lebih segar karena bermain lebih sedikit gim. Namun, Chwalińska membawa aura “keajaiban” yang sangat sulit dihentikan ketika seorang pemain sudah berada di zona tanpa beban.(*)

BACA JUGA: Edisi ke-125 Roland Garros Dimulai Grand Slam Berhadiah Rp1,26 Triliun

Back to top button