Mirra Andreeva benar-benar tak terbendung di final French Open 2026. Bikin lawan mati kutu dengan puluhan unforced error, bintang muda ini langsung diserbu pelukan emosional sang pelatih.
WWW.JERNIH.CO – Sejarah baru saja tercipta di atas tanah liat Paris. Babak final tunggal wanita French Open 2026 yang berlangsung di Lapangan Philippe-Chatrier menyajikan akhir yang emosional sekaligus dominan dari bintang muda berbakat. Di usianya yang baru menginjak 19 tahun, petenis unggulan ke-8, Mirra Andreeva, berhasil merengkuh trofi Grand Slam pertamanya setelah menundukkan petenis kejutan asal Polandia, Maja Chwalińska.
Pertandingan final ini berjalan cukup tidak seimbang. Sejak awal laga, Andreeva benar-benar berada di atas angin dan sangat diunggulkan. Berstatus sebagai pemain peringkat 8 dunia, Andreeva menunjukkan kelas yang berbeda dibandingkan Chwalińska, sang petenis kualifikasi peringkat 114 dunia yang kelelahan setelah menjalani sembilan laga berat demi mencapai final.
Laga puncak ini diselesaikan dengan cepat hanya dalam 2 set langsung, dengan skor akhir 6-3, 6-2. Sepanjang pertandingan, angin kencang hingga 29 mph sempat menyulitkan kedua pemain. Namun, konsistensi Andreeva sukses mendikte permainan.
Salah satu penentu tidak seimbangnya laga ini adalah banyaknya kesalahan sendiri dari sang lawan. Maja Chwalińska tercatat melakukan 29 kali unforced error, berbanding 26 unforced error dari Andreeva. Chwalińska yang biasanya tampil rapi justru kerap mati sendiri akibat kelelahan fisik dan tekanan mental yang masif.
Momen emosional pecah sesaat setelah pukulan backhand cross-court Andreeva memastikan gelar juara. Merayakan kemenangan terbesar dalam kariernya, Andreeva langsung menghampiri boks timnya. Begitu emosionalnya momen tersebut, Andreeva sampai dipeluk oleh pelatihnya yang merupakan legenda tenis, Conchita Martinez, sebanyak dua kali.
Bagi Andreeva, ini merupakan kemenangan Grand Slam yang pertama dalam kariernya di level senior. Sebelum menembus final dan juara pada tahun 2026 ini, pencapaian terbaiknya di panggung Grand Slam adalah mencapai babak semifinal di turnamen yang sama, French Open, pada tahun 2024 lalu.
Salah satu sorotan paling menarik saat upacara penyerahan trofi adalah jaket hitam yang dikenakan Andreeva. Jaket tersebut bertuliskan “I want to thank myself” (Saya ingin berterima kasih kepada diri saya sendiri).

Tulisan ini bukan sekadar gaya-gayaan, melainkan kutipan yang kini menjadi trademark atau ciri khas Andreeva. Ia mengaku terinspirasi dari pidato terkenal musisi legendaris Snoop Dogg (“I want to thank me”). Namun, untuk kemenangannya di Paris, kalimat ini memiliki makna emosional yang jauh lebih dalam.
Dalam speech kemenangannya di atas panggung, Andreeva menjelaskan secara terbuka, “Terakhir, namun tidak kalah pentingnya, saya juga ingin berterima kasih kepada diri saya sendiri karena telah percaya pada diri saya sendiri. Selalu memberikan 100% kemampuan saya bahkan ketika situasi terasa sangat sulit.”
“Mencoba setiap hari untuk menjadi pribadi dan pemain yang lebih baik. Percaya bahwa saya bisa melakukan ini. Saya telah bertarung melawan begitu banyak ‘iblis’ di dalam diri saya sendiri, dan hanya saya yang tahu betapa beratnya beberapa minggu terakhir ini,” terusnya.
Meskipun pencapaian Andreeva luar biasa, ini bukanlah rekor wanita termuda sepanjang sejarah yang pernah menjuarai French Open (Roland Garros). Rekor mutlak petenis wanita termuda yang menjuarai turnamen ini masih dipegang oleh Monica Seles, yang menjadi juara pada tahun 1990 di usia yang sangat belia, yaitu 16 tahun 6 bulan.
Kendati demikian, Andreeva tetap mengukir rekor prestisius tersendiri. Di usia 19 tahun, ia tercatat sebagai juara wanita termuda di Roland Garros sejak Monica Seles memenangkan gelar ketiganya secara berturut-turut pada tahun 1992. Kemenangan ini sekaligus menegaskan dominasi generasi baru yang siap menguasai takhta tenis dunia.(*)
BACA JUGA: Mirra Andreeva dan Maja Chwalińska Ciptakan Final Kejutan di Paris