Crispy

Prediksi BMKG Soal Cuaca Ekstrem di Jabodetabek Meleset

JAKARTA – Ingat beberapa waktu lalu Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi cuaca ekstrem di Jabodetabek mulai 5 hingga 15 Januari 2020? Hal itu dinyatakan setelah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), dilanda banjir dan longsor.

Rupanya, sejak 5 hingga 12 Januari 2020, prediksi cuaca ekstrem tersebut tidak nyata. Bahkan Jakarta hanya diguyur hujan dengan intensitas rendah.

Menanggapi hal itu, Ketua BMKG, Dwikorita, menjelaskan prediksi cuaca ekstrem di Jabodetabek dikarenakan, fenomena gelombang atmosfer Madden Julian Oscillation (MJO) atau masuknya aliran udara basah dari arah Samudera Hindia di sebelah timur Afrika, yang bergerak di sepanjang ekuator menuju Samudera Pasifik dan melintas masuk Indonesia.

“Tanggal 3 Januari lalu telah diprediksi BMKG akan terjadi di wilayah Indonesia mulai tanggal 5 sampai 15 Januari 2020, sebagai akibat dari adanya fenomena MJO,” ujarnya di Jakarta, Senin (13/1/2020).

Ia mengatakan, dari prediksi itu, sejak tanggal 5 Januari mulai dari sebelah barat Sumatera Barat melintas hingga mencapai wilayah Sumatera Selatan dan Jawa, yang berakibat memicu pembentukan awan hujan dalam skala besar dan masif.

Akan tetapi, lanjut Dwikora, fenomena MJO mengalami pergeseran wilayah yang disebabkan terbawa angin. Bergeser ke wilayah Indonesia tengah sehingga intensitas hujan di wilayah barat termasuk Jabodetabek berkurang.

“Kemudian (intensitas hujan) menurun mulai 11 Januari karena aliran udara basah tersebut telah bergerak memasuki wilayah Indonesia tengah,” katanya.

Menurut Dwikorita, mulai 11 sampai 15 Januari 2020, diprediksi intensitas hujan meningkat di Kalimantan dan Sulawesi. Karena itu meminta warga di Indonesia tengah mewaspadai cuaca ekstrem tersebut.

“Bukan di Jabodetabek lagi karena aliran udara basah (MJO) sudah bergerak memasuki wilayah Indonesia bagian tengah atau meninggalkan wilayah Indonesia bagian barat termasuk Jabodetabek,” ujar dia.

Walau begitu, pada 9 dan 10 Januari 2020 dampak fenomena MJO masih terasa cukup kuat di Wilayah Indonesia Barat dengan turunnya hujan intensitas sedang di beberapa wilayah. Namun tak separah 31 Desember 2019 hingga 1 Januari 2020 lalu.

“Pengaruh MJO masih cukup kuat di wilayah Jawa. Barangkali TMC (Teknologi Modifikasi Cuaca) cukup efektif mengurangi intensitas hujan pada tanggal 9 sampai 10 Januari khususnya di Jabodetabek,” ujarnya. [Fan]

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close