Crispy

Sumber Kekayaan Calon Presiden Angola, Isabela Dos Santos, Diduga dari Korupsi

LUANDA—Di tengah menguatnya peluang Isabela dos Santos, putri mantan presidebn Angola untuk ikut kontestasi pemilihan presiden negara itu, muncul Rui Pinto, penulis situs Football Leaks, membuka sebundel besar dokumen. Isinya membuka bagaimana perempuan terkaya di Afrika itu memperoleh kekayaannya dengan cara busuk.

Menurut laporan BBC, dokumen-dokumen tersebut menunjukkan bagaimana Dos Santos memperoleh kekayaannya.  Namun Dos Santos membantah seluruh tuduhan itu. Di saat yang sama Rui Pinto maju ke pengadilan melalui pengacaranya, William Bourdon.

“Pengungkapan ini harus memungkinkan agar penyelidikan baru diluncurkan. Jadi, dengan demikian, bisa membantu dalam memerangi impunitas atas kejahatan keuangan di Angola maupun di dunia,” kata Bourdon kepada BBC.

Bourdon, yang juga merupakan pimpinan Badan Perlindungan Pengungkap Fakta Afrika (PPLAAF), sebuah kelompok advokasi yang berbasis di Paris. Ia  mengatakan, kliennya bertindak untuk kepentingan umum.

Menurut laporan dari BBC, dokumen-dokumen itu menunjukkan bagaimana putri mantan Presiden Angola Jose Eduardo dos Santos dan suaminya diizinkan untuk membeli aset negara yang berharga, dalam serangkaian kesepakatan yang mencurigakan.  Dari sana mereka membangun kekayaan senilai 2 miliar dolar AS.

Putri mantan presiden itu telah menjadikan Inggris sebagai rumahnya dan memiliki properti mahal  di pusat kota London. Saat ini dos Santos sudah berada dalam penyelidikan tindakan kriminal oleh pihak berwenang di Angola. Asetnya di negara itu telah dibekukan.

Jaksa Agung Helder Pitta Gros mengungkapkan, tuduhan itu berkaitan dengan waktu ketika dia menjabat sebagai ketua perusahaan minyak negara Sonangol. Dos Santos berujar, tuduhan terhadap dirinya sepenuhnya palsu dan bahwa ada perburuan yang bermotivasi politik oleh pemerintah Angola.

Siapakah Isabel dos Santos?

BBC, dengan mengutip Majalah Forbes menulis, Isabel dos Santos adalah putri tertua mantan presiden Jose Eduardo dos Santos. Ia menikah dengan kolektor seni dan pengusaha Kongo, Sindika Dokolo. Selain itu, ia mengenyam pendidikan di Inggris, yang menjadi tempat tinggalnya saat ini. Menurut laporan itu, ia merupakan perempuan terkaya di Afrika, dengan kekayaan sekitar 2 miliar dolar AS, memiliki saham di perusahaan minyak dan telepon seluler dan sekian banyak bank, sebagian besar di Angola dan Portugal

Gerard Ryle, direktur international Consortium of Investigative Journalists (ICIJ) mengatakan kepada BBC, “Kebocoran materi ini untuk PPLAAF, dan pada gilirannya kepada mitra media ICIJ, memberikan bukti tak terbantahkan tentang kesengsaraan yang tidak perlu ditimpakan pada rakyat jelata Angola,” kata Ryle.  “Dokumen-dokumen itu berasal dari warga negara yang baik,  yang melakukan hal yang benar untuk publik.”

Tim Panorama BBC serta kantor berita lainnya, menerbitkan pemberitahuan pada awal bulan ini. Sementara situs Football Leaks  adalah situs yang diluncurkan Rui Pinto pada 2015 untuk mengungkap dugaan korupsi yang terjadi di dunia sepakbola. Situs itu menyediakan jutaan dokumen dan lebih dari 3,4 terabyte informasi kepada beberapa kantor media dalam konsorsium Investigative Collaborations (EIC) Eropa.

Pada tahun lalu, menurut laporan BBC, jaksa penuntut umum di Prancis mengatakan, mereka telah bekerja sama dengan Pinto dalam penyelidikan mereka sendiri, menggunakan bahan yang disediakan olehnya. Rui Pinto saat ini tinggal menunggu persidangan di Portugal. Dia menghadapi 90 tuntutan kriminal dan diperkirakan akan diadili tahun ini. Rui Pinto dituduh melakukan penipuan komputer, melakukan pemerasan dan pelanggaran lainnya.

Bourdon yang merupakan pengacara hak asasi manusia senior di Prancis, mengatakan dirinya telah mewakili kasus Edward Snowden, Julian Assange, Hervé Falciani dari Swiss Leaks dan Antoine Deltour dari Lux Leaks. Dia berjanji untuk membela Pinto jika ada tindakan hukum di masa depan atas kebocoran Dos Santos, yang juga dikenal sebagai Kebocoran Luanda. [BBC]

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close