Depth

Codja Isop, Gang Codja, dan Pekojan

Suatu hari di tahun 1641 Batavia kedatangan serombongan orang berkulit gelap. VOC, kongsi dagang Belanda yang membangun Batavia, membawa mereka dari Pulicat — kota di Pantai Coromandel, India, yang direbut dari Portugis.

Orang Inggris menyebut mereka Mohammedan Clingen. Mohammedan adalah istilah antropologis yang digunakan orang Eropa untuk menyebut pemeluk Islam. Clingen mengacu pada kata ‘keling’, atau hitam. Pendapat lain menyebutkan Clingen mengacu pada Kalingga, kerajaan tempat orang-orang itu berasal.

Orang Belanda di Batavia menyebut mereka Mooren. Situs indischeliterairewandelingen.nl menulis Mooren mengacu pada Mouro, kata dalam Bahasa Portugis untuk menyebut orang beragama Islam.

Di Batavia, rombongon dari Pulicat ini diberi disebut Bataviasche Mooren. Semula, VOC berniat menempatkan mereka bersama orang Arab. Kepolisian Batavia menolak gagasan itu, karena Bataviasche Mooren berbeda dengan Arab, kendati sama-sama beragama Islam.

Akhirnya, VOC menempatkan pendatang dari Pulicat di sebidang tanah tidak jauh dari Parit Amanus Selatan, atau Amanusgracht Zuid. Mereka dipimpin Codja Isop, orang yang dianggap paling berpengaruh di antara mereka.

Di lahan itu Codja Isop membangun jalan permukiman. VOC, untuk mempermudah pembuatan peta tembok luar Batavia, memberi nama Gang Codja. Dalam peta awal abad ke-18 koleksi Kaartcollectie Buitenland Leupe, kawasan tempat Codja Isop dan orang-orangnya bermukim diberi nama Pecodjang.

Adalah Gerrit Vermeulen, dalam De Gedenkwaerdigie Voyagie, yang mengidentifikasi kata Koja berasal dari Codja Isop. Henrik E Niemeijer, dalam Batavia: Masyarakat Kolonial Abad XVII, punya cerita menarik soal kehidupan Codja Isop dan orang-orangnya di pertengahan abad ke-17.

Sebelumnya, Jacques Dumarcay dan Henri Chambert-Loir, dalam Langgar Tinggi di Kampung Pekojan, mengidentifikasi Koja sebagai nama etnis asal Bengali pemeluk Islam. Susan Blackburn, dalam Jakarta: Sejarah 400 Tahun, menulis Orang Koja adalah Moor dari India Barat, lebih tepatnya Pelabuhan Surat di Gujarat.

Tahun 1648, sekitar tujuh tahun setelah bermukim, Codja Isop membangun tempat ibadah yang kini dikenal dengan nama Masjid Al Ansor. Awalnya, tempat ibadah itu bukan masjid, tapi mushola karena saat itu jumlah orang Codja Isop masih sedikit.

Di Batavia, Codja Isop dan orang-orangnya menguasai jalur perdagangan Batavia-Pantai Coromandel. Mereka mengoperasikan kapal-kapal besar, mengangkut budak dan berbagai komoditas ke Batavia.

Sebelum memasuki abad ke-18, Gang Codja berkembang. Sukses Codja Isop dan keluarga, plus orang-orangnya, membangun kehidupan terdengar sampai ke tanah asalnya. Terjadi migrasi dari Pulicat ke Batavia, kendati tidak dalam jumlah besar, sepanjang akhir abad ke-17.

Niemeijer menulis Codja Isop juga dikenal sebagai pembebas budak. Tahun 1666, misalnya, Codja Isop melepas status budak Aly van Coetchin (Cochin) ketika lelaki asal Champa itu meminta ijin menikahi Marian, Muslimah asal India yang tercatat sebagai warga bebas atau bukan budak.

Ada upacara pembebasan yang dihadiri tokoh masyarakat Gang Codja; Mullah Aly bin Hasba, Rabae Moesa, Briom, Doroe Ibnoe Alba, Sech Khamal, Domoer bin Moesa, dan Ibrahim Asendsi. Doroe Ibnoe Alba adalah putra Codja Isop. Codja Isop tidak sekedar membebaskan, tapi juga memberinya sejumlah uang untuk mantan budaknya membangun masa depan.

Setelah menikah, Aly van Coetchin membeli sebidang tanah tepat di samping halaman samping rumah Codja Isop. Marian membuka usaha. Aly bekerja di sebuah perusahaan milik Mardijker bernama Paul Symons.

Aly van Coetchin adalah satu dari sekian puluh budak yang dibebaskan Codja Isop dan menetap di Gang Codja, atau melanjutkan hidup di permukiman lain. Codja Isop melepas budak dengan bekal, yang membuatnya bisa membangun masa depan.

Kisah Codja Isop berakhir sebelum akhir abad ke-17. Setelah VOC mengalahkan Kesultanan Banten, Codja Isop dan orang-orangnya mulai tidak nyaman. Ia khawatir VOC akan membatasi gerakan pemukim beragama Islam.

Bersama Ibnoe Alba, yang mewarisi kepiawaian berdagang, Codja Isop meninggalkan Gang Codja menuju Semarang. Sebagian kecil pemukim Gang Codja memutuskan kembali ke Pulicat, lainnya mencoba bertahan.

Di Semarang, Codja Isop membeli sebidang tanah di wilayah yang saat ini bernama Jl Petolongan, Purwodinatan. Bersama Ibnoe Alba, Codja Isop mendirikan masjid yang diberi nama Masjid Jami Pekodjan. Di tempat inilah keturunan Codja Isop melewati tiga pergantian abad.

Di Batavia, penduduk Gang Codja yang coba bertahan dibuat kelabakan ketika Inggris menaklukan banyak kerajaan di India dan menggebah keluar semua pesaingnya; Prancis, Belanda, Portugis, dan Denmark. Jalur perdagangan India-Batavia, yang selama bertahun-tahun menghidupi pemukim Gang Codja, terputus.

Gang Codja dan Pekodjang, dalam peta Hindia-Belanda abad ke-19 ditulis Pecodjan, meredup. Perlahan-lahan pemukim Pekodjan keluar. Ada yang mengikuti jejak Codja Isop, dengan mencari penghidupan di Semarang atau kembali ke Pulicate. Sebagian kecil mencoba bertahan dengan berjualan kain di Passer Baroe dan Weltevreden, sekarang Gambir.

Situs indischeliterairewandelingen.nl menginformasikan tahun 1809 tidak terdeteksi kehadiran Bataviasche Mooren di Pecodjan. Sebagai gantinya, rumah-rumah di Gang Codja dan sekitarnya dihuni pedagang Arab dari Hadramaut.

Pemerintah Hindia-Belanda membiarkan pengambil-alihan Pecodjan, tidak mencegah eksodus Bataviasche Mooren, yang membuat Batavia kehilangan salah satu etnisnya. Kehadiran Arab dari Hadramaut membuat Pecodjan mengalami perluasan, yang ditandai munculnya Gang Kampung Pecodjan dan Gang Pedjagalan.

Sampai tahun 1938, seperti tertera dalam Batavia Sigai Meisai-Zu atau peta Batavia yang digunakan Jepang sebelum menyerbu Pulau Jawa, nama Gang Codja masih tertera. Sebelum kedatangan Jepang, penulisannya berubah menjadi Gang Kodja. Straatnamen in Batavia Vroeger en Jakarta Nu menginformasikan tahun 1954 Gang Kodja berubah menjadi Jl Pengukiran II.

Namun menurut Bondan Bondan Kanumoyoso, dalam Beyond The City Wall: Society and Economic Development in the Ommelanden of Batavia, 1684-1740, Pecodjan tidak sekedar cerita tentang Muslim dari India dan Arab, tapi juga beberapa etnis lain. Masyarakat Bali, di bawah kepemimimpinan Mochamat Sale, pernah bermukim di sini. Sayangnya, Kampung Bali di Pecodjan — bersama Kampung Buton di Ancolsevaart dan Kampung Bandan di sisi utara kanal yang sama — dihapus.

Kini, sebagai Kelurahan Pekojan, permukiman yang dibangun Codja Isop itu dihuni masyarakat etnis Tionghoa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close