
Ia pun menyampaikan gagasan kebijakan konkret. Untuk sektor energi bersih, Prof Sanggono mendorong transisi pembangkit listrik fosil ke gas, pembangunan infrastruktur distribusi BBG, serta peralihan kendaraan dari BBM ke BBG. Sementara dalam konteks petrokimia, ia menekankan pentingnya utilisasi gas alam sebagai bahan baku nasional serta kebijakan harga gas agar industri petrokimia Indonesia mampu bersaing secara global.
JERNIH– Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali menorehkan sejarah pada Sabtu, 19 Juli 2025. Dalam Sidang Orasi Ilmiah Guru Besar yang digelar di Aula Barat kampus legendaris itu, empat nama resmi menyandang gelar tertinggi dalam dunia akademik. Di antara keempatnya, nama Prof. Ir. Sanggono Adisasmito, M.Sc, Ph.D mencuri perhatian—bukan hanya karena gagasannya soal energi, tetapi juga karena ikatan keluarga dan rekam jejak panjang kontribusi keilmuan.
Prof. Sanggono yang berasal dari Fakultas Teknologi Industri menyampaikan orasi ilmiahnya yang berjudul “Gas Alam sebagai Sumber Energi Bersih dan Bahan Baku Industri Petrokimia di Indonesia.” Dalam paparannya, ia menegaskan pentingnya gas alam dalam peta energi nasional, tidak hanya sebagai sumber energi transisi yang bersih, tetapi juga sebagai fondasi industrialisasi berbasis petrokimia yang kompetitif secara global.
Orasi Prof. Sanggono menggarisbawahi empat poin strategis gas alam: (1) peran vitalnya dalam transisi energi menuju keberlanjutan; (2) kontribusinya terhadap sektor kelistrikan dan transportasi berbasis NGV; (3) dukungannya terhadap target dekarbonisasi Indonesia; dan (4) keunggulannya sebagai sumber energi yang rendah emisi.
“Gas alam menghasilkan emisi CO₂ yang jauh lebih rendah dibandingkan batubara. Ini adalah pilihan rasional jika kita serius dengan komitmen lingkungan,” ujar Prof Sanggono.
Ia pun menyampaikan gagasan kebijakan konkret. Untuk sektor energi bersih, Prof Sanggono mendorong transisi pembangkit listrik fosil ke gas, pembangunan infrastruktur distribusi BBG, serta peralihan kendaraan dari BBM ke BBG. Sementara dalam konteks petrokimia, ia menekankan pentingnya utilisasi gas alam sebagai bahan baku nasional serta kebijakan harga gas agar industri petrokimia Indonesia mampu bersaing secara global.
Kehangatan Keluarga dalam Sidang Akademik
Yang tak kalah menarik dari prosesi pengukuhan ini adalah kehadiran Prof. drh. Wiku Adisasmito, M.Sc, Ph.D — tokoh publik yang dikenal sebagai ketua Tim Pakar dan juru bicara Satgas Penanganan COVID-19. Ia hadir bukan sebagai akademisi UI semata, melainkan sebagai adik kandung Prof. Sanggono.
“Benar, saya datang sebagai adik yang bangga,” ujar Prof Wiku yang juga dikenal luas karena perannya mendampingi Letjen TNI Doni Monardo saat pandemi menghantam Indonesia.
Prof Wiku mengungkapkan bahwa ayah mereka adalah seorang dokter sekaligus guru di Malang. “Ayah kami sangat sederhana. Ia selalu ingin anak-anaknya menjadi guru. Maka pengukuhan ini bukan hanya kebanggaan akademik, tapi juga penggenapan doa orang tua,” kata suami mantan atlet bulu tangkis nasional, Lilik Sudarwati, itu.
Ia pun memberi apresiasi atas orasi kakaknya. “Materinya sangat relevan dengan tantangan energi Indonesia saat ini. Gas alam adalah kekayaan yang belum sepenuhnya kita kelola secara optimal,” ujarnya.
Tiga Guru Besar Lainnya
Selain Prof. Sanggono, tiga guru besar lainnya turut dikukuhkan dalam sidang yang dibuka oleh Ketua Forum Guru Besar ITB, Prof. Ir. Mindriany Syafila, MS., Ph.D. Mereka adalah:
Prof. Dr. Ir. Toto Hardianto, DEA dari Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara, dengan orasi bertajuk “Pengembangan Bahan Bakar Padat Alternatif untuk Pemenuhan Energi Berkelanjutan di Indonesia.”
Prof. apt. Diky Mudhakir, S.Si, M.Si, Ph.D dari Sekolah Farmasi, dengan topik “Desain Rasional Sistem Penghantaran Nanopartikel Bertarget Intrasel.”
Prof. Ramdhani Eka Putra, S.Si, M.Si, Ph.D dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, yang mengangkat orasi “Serangga: Sekutu yang Salah Dimengerti.”
Pengukuhan keempatnya mempertegas komitmen ITB sebagai salah satu institusi pendidikan tinggi yang terus menumbuhkan tradisi keilmuan kelas dunia di tengah tantangan zaman.
Sementara Prof. Sanggono sendiri, melalui pidatonya, tak hanya menyumbangkan ide besar tentang energi dan industrialisasi. Ia juga mengingatkan, bahwa di balik setiap pengakuan akademik, selalu ada semangat panjang yang berakar dari ketekunan, doa keluarga, dan komitmen pada kemaslahatan bangsa.[ ]