SolilokuiVeritas

Renungan Deden Ridwan: Surau yang Roboh Itu Bernama Nurani

Aku tiba-tiba terlintas kepada pesan almarhum Prof. K.H. Mustofa Ali Ya’qub, dosenku dan mantan Imam Besar Masjid Istiqlal. Dengan gaya yang khas, lugas dan tanpa basa-basi, beliau pernah mengatakan: haji hanya diwajibkan sekali seumur hidup. Selebihnya, jika seseorang terus berulang kali pergi ke Tanah Suci sementara di sekelilingnya masih banyak persoalan kemanusiaan yang bisa ia bantu selesaikan, maka, meminjam istilah beliau, hajinya bisa berubah menjadi pengabdian kepada setan.

Deden Ridwan

JERNIH– Saudaraku. Suatu pagi beberapa hari lalu, telepon genggamku bergetar. Sebuah pesan masuk dari Ody Harahap, sahabat sekaligus sutradara yang baru saja menuntaskan film “Meja Tanpa Laci”.

“Pak Deden, apakah tidak tertarik bikin film “Robohnya Surau Kami?””

Aku membaca pesan itu beberapa kali.

Pertanyaannya sederhana. Tetapi entah kenapa, ia mengetuk pintu ruang paling tua di kepalaku. Ruang itu tidak pernah dikunci. Aku saja yang terlalu lama membiarkannya berdebu.

“Robohnya Surau Kami”. Cerita pendek karya A.A. Navis itu pertama kali terbit pada 1955. Tujuh dekade lebih telah berlalu. Generasi datang dan pergi. Pemerintahan berganti. Dunia berubah. Namun ada karya tertentu yang justru hadir semakin hidup seiring bertambahnya usia.

Barangkali karena manusia selalu berhadapan dengan persoalan serupa. Wajahnya berganti, kemasannya berubah, tetapi inti masalahnya tetap sama.

Pagi itu aku kembali mengingat Haji Saleh, tokoh yang menjadi pusat gugatan moral dalam cerpen tersebut. Ia merasa telah mengabdikan seluruh hidupnya kepada agama. Ibadah dijalankan dengan tekun. Kewajiban-kewajiban ritual ditunaikan dengan disiplin. Karena itu, ia yakin keselamatan akan menjadi ganjarannya.

Namun ketika tiba di hadapan Tuhan, ia justru mendapati dirinya berada di neraka.

Ia protes. Bukankah sepanjang hidupnya ia rajin beribadah?

Di situlah A.A. Navis meletakkan gugatan yang membuat cerpen ini terus hidup melampaui zaman. Persoalannya bukan pada ibadah, melainkan pada tanggung jawab sosial yang ia abaikan. Haji Saleh sibuk memikirkan keselamatan dirinya sendiri, tetapi tidak merasa terpanggil saat melihat bangsanya hidup dalam kemiskinan, ketidakadilan, dan keterbelakangan.

A.A. Navis melontarkan satire tajam. Sampai hari ini, pertanyaannya masih menggema: apa gunanya sujud panjang, jika hati kita tuli pada luka di sebelah?

Teka-teki itu kembali terngiang ketika memandang negeri ini. Kehidupan keagamaan tampak semakin semarak. Masjid berdiri semakin megah. Jamaah umrah terus bertambah. Kajian agama tumbuh di berbagai tempat. Simbol-simbol kesalehan hadir semakin kuat di ruang publik.

Pada saat yang sama, berita tentang korupsi terus bermunculan. Ketimpangan sosial masih menganga. Banyak orang kecil tetap harus menghadapi hidup sendirian dengan pilihan serba terbatas.

Aku sering bertanya-tanya, mengapa dua kenyataan itu bisa berjalan berdampingan. Masalah hampir serupa pernah muncul dari pengalaman pribadi.

Beberapa tahun lalu, aku diminta membantu membereskan sebuah perusahaan yang sedang limbung. Secara kasat mata, persoalannya tampak mudah dibaca. Penjualan menurun. Utang membengkak. Arus kas tersendat. Semuanya terlihat seperti persoalan bisnis yang lazim.

Namun setelah beberapa waktu berada di dalamnya, aku menemukan sesuatu yang jauh lebih mengkhawatirkan dibanding angka-angka dalam laporan keuangan. Orang-orang masih datang ke kantor tepat waktu. Rapat berlangsung seperti biasa. Target tetap dibahas. Dari luar, semuanya tampak berjalan sebagaimana mestinya. Tetapi ada sesuatu perlahan menghilang.

Suatu sore, ketika memandangi tumpukan laporan di meja kerja, aku akhirnya memahami apa yang sesungguhnya sedang terjadi. Perusahaan ini tidak sedang kekurangan orang pintar. Yang hilang ternyata rasa memiliki.

Masing-masing orang menjalankan tugasnya dengan baik, tetapi tidak lagi merasa menjadi bagian dari tujuan bersama. Hubungan antarbagian terasa kaku. Kepedulian berkurang. Setiap orang sibuk menjaga agendanya sendiri.

Persoalan terbesar ternyata bukan terletak pada sistem. Inti masalahnya ada pada manusia.

Aku lalu mencoba melakukan sesuatu yang sederhana. Setiap menjelang weekend, aku mengadakan kegiatan Jumat Pagi Bersama. Semua karyawan diminta datang lebih awal. Tidak perlu tampil resmi. Cukup membawa pakaian olahraga dan perlengkapan mandi.

Pagi itu kantor berubah menjadi ruang berbeda. Ada yang senam bersama. Ada yang bermain tenis meja. Ada pula yang sekadar bercanda sambil berkeringat. Sesudah itu kami sarapan bersama. Duduk dalam satu lingkaran tanpa sekat jabatan.

Perhatian terhadap karyawan level bawah diperkuat. Kami berusaha lebih sungguh-sungguh mendengar kebutuhan mereka, memerhatikan hak-haknya, serta memastikan setiap orang merasa dihargai sebagai bagian penting dari perusahaan.

Perubahannya memang tidak terjadi dalam semalam. Namun sedikit demi sedikit suasana mulai berubah.

Tawa kembali terdengar. Orang-orang mulai saling mengenal lebih dekat. Percakapan tidak selalu berkisar pada pekerjaan. Kehangatan tumbuh secara alami. Hal yang paling menggembirakan, rasa memiliki mulai muncul kembali.

Orang-orang memandang perusahaan itu bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan rumah bersama yang layak dijaga. Tempat pengembangan diri.

Hasilnya sungguh di luar dugaan. Target-target yang semula tampak berat mulai tercapai. Beberapa bahkan terlampaui. Persoalan yang dulu sulit diselesaikan menjadi lebih mudah karena banyak orang bergerak ke arah serupa.

Pengalaman itu mengajarkanku satu hal: yang pertama diselamatkan bukan bangunan. Bukan organisasi. Bukan sistem. Yang dipulihkan dulu: ikatan kemanusiaan. Penopang utama hidup sebuah komunitas.

Saat mengingat kisah itu, aku tiba-tiba terlintas kepada pesan almarhum Prof. K.H. Mustofa Ali Ya’qub, dosenku dan mantan Imam Besar Masjid Istiqlal. Dengan gaya yang khas, lugas dan tanpa basa-basi, beliau pernah mengatakan: haji hanya diwajibkan sekali seumur hidup. Selebihnya, jika seseorang terus berulang kali pergi ke Tanah Suci sementara di sekelilingnya masih banyak persoalan kemanusiaan yang bisa ia bantu selesaikan, maka, meminjam istilah beliau, hajinya bisa berubah menjadi pengabdian kepada setan.

Kalimat itu terdengar keras. Bahkan provokatif. Tetapi justru di situlah letak tamparannya. Beliau sedang mengingatkan. Agama tidak diukur dari seberapa jauh kaki melangkah ke Makkah. Melainkan seberapa jauh manfaat kehadiran kita dirasakan sesama. Sebab setelah ibadah melahirkan kesadaran spiritual, ukuran berikutnya adalah kepedulian sosial.

Bukankah agama pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan?  Agama juga berbicara tentang hubungan manusia dengan sesama. Tentang kepekaan terhadap penderitaan. Tentang keberanian membela pihak lemah. Tentang kesediaan memikul sebagian beban kehidupan bersama.

Di titik itulah aku sadar. “Robohnya Surau Kami” tidak pernah benar-benar menjadi cerita masa lalu. Cerpen itu terus hidup. Karena berbicara tentang kecenderungan manusia untuk merasa cukup dengan kesalehan pribadi sambil perlahan melupakan tanggung jawab sosial.

Apa yang dibicarakan A.A. Navis sesungguhnya bukan sekadar sebuah surau tua atau seorang penjaganya. Ia sedang berbicara tentang ruang paling sunyi dalam diri manusia. Ruang tempat nurani bersemayam.

Benar. Kiranya memang sudah waktunya karya A.A. Navis itu dihadirkan kembali ke layar lebar. Bukan semata karena ia merupakan karya sastra besar, melainkan karena pertanyaan yang diajukannya belum pernah benar-benar selesai dijawab.

Di tengah zaman yang semakin bising oleh simbol, pencitraan, serta berbagai bentuk kesalehan semu, suara lirih dari surau tua itu justru terasa semakin relevan.

Ketika memikirkan kembali kisah Haji Saleh, pengalaman di perusahaan itu, serta keadaan yang kita saksikan hari ini, aku sampai pada satu kesadaran sederhana: tidak semua keruntuhan diawali oleh bangunan ambruk.

Sering kali keruntuhan dimulai jauh sebelumnya. Saat kepedulian memudar. Saat tanggung jawab berubah menjadi formalitas. Saat manusia berhenti merasa terhubung dengan sesamanya.

Ingat. Bangunan rusak masih bisa diperbaiki. Organisasi bermasalah masih mungkin diselamatkan. Bahkan sebuah bangsa terpuruk selalu memiliki kesempatan untuk bangkit kembali.

Namun nurani tidak selalu memberi tanda ketika ia mulai retak. Ia tidak menimbulkan suara. Ia tidak meninggalkan puing-puing.

Kita tetap beribadah seperti biasa. Tetap bekerja seperti biasa. Tetap menjalani hidup sebagaimana biasanya. Sampai suatu hari, penderitaan di depan mata tidak lagi menggugah hati. Ketidakadilan tidak lagi mengusik pikiran. Kesulitan orang lain lewat begitu saja tanpa meninggalkan jejak.

Itulah sebabnya “Robohnya Surau Kami” terus hidup menembus batas zaman. A.A. Navis sesungguhnya tidak sedang bercerita tentang sebuah surau tua. Ia sedang berbicara tentang manusia. Tentang kita. Tentang kemungkinan paling menakutkan dalam hidup: hilangnya rasa mencintai terhadap sesama.

Ketika menutup kembali pesan dari Ody pagi itu, aku tiba-tiba teringat suasana Jumat Pagi Bersama. Tawa para karyawan. Wajah-wajah yang kembali akrab. Orang-orang kembali merasa menjadi bagian dari rumah bersama.

Saat itulah aku memahami sesuatu. Ya, lawan dari keruntuhan bukanlah kekuatan. Bukan pula kemegahan. Lawan dari keruntuhan adalah kepedulian.

Selama manusia masih mampu merasakan beban orang lain sebagai bebannya sendiri, nurani belum benar-benar roboh. Masih ada jalan pulang. Masih ada kesempatan memperbaiki bagian-bagian yang retak.

Wahai saudaraku, diam sejenak. Warisan terbesar A.A. Navis bukan batu surau yang masih tegak. Tetapi satu gema yang ia titipkan: apakah nurani kita masih berdenyut? Atau sudah mati, terkubur waktu? []

Back to top button