Crispy

Bencana Banjir Merusak 520 Manuskrip Aceh, Mengancam Jejak Sejarah Serambi Mekkah

JERNIH — Tinta-tinta tua yang mengabadikan pemikiran hebat dari Abad Pertengahan di tanah Aceh itu kini tampak muram. Lembar demi lembar kertas berumur ratusan tahun, yang menjadi saksi bisu kejayaan intelektual Serambi Mekkah, sempat tak berdaya saat diterjang luapan banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh akhir November lalu.

Tak kurang dari 520 manuskrip kuno yang tersebar di tangan warga, lembaga, hingga instansi pemerintah terkontaminasi air dan lumpur. Bencana alam tak sekadar merusak fisik kertas, tetapi juga mengancam ingatan sejarah yang tersimpan di dalamnya.

Namun, harapan belum sepenuhnya padam. Di tengah keterbatasan, napas penyelamatan berembus dari sebuah tempat di Banda Aceh. Di balik dinginnya ruangan restorasi, jemari para ahli berpacu dengan waktu. Langkah cepat langsung diambil oleh Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) Aceh bekerja sama dengan UIN Ar-Raniry, Balai Pelestarian Kebudayaan, hingga Perpustakaan Nasional.

Setiap lembaran kertas lapuk yang basah dan saling menempel dibersihkan dengan ketelitian ekstra tinggi. Pengeringannya tak bisa sembarangan; butuh alat khusus dan perlakuan penuh kehati-hatian agar serat-serat naskah kuno tersebut tidak runtuh begitu saja saat dibuka kembali.

“Naskah-naskah yang telah kami inventarisasi tersebut akan dilakukan restorasi sesuai dengan tingkat kerusakan. Restorasi yang kami lakukan ini bagian dari menyelamatkan berbagai dokumen bersejarah,” tutur Ketua Manassa Aceh, Hermansyah, di Darussalam, Banda Aceh.

Dari ratusan koleksi yang terdampak, tim penyelamat telah memetakan skala prioritas. Untuk 100 manuskrip utama mendapatkan penanganan konservasi menyeluruh akibat dampak banjir. Sedangkan 50 manuskrip pilihan mendapatkan perbaikan dan pembuatan kembali sampul (cover) yang rusak. Sayangnya sebagian kecil naskah sayangnya tak lagi dapat diselamatkan karena kerusakan fisik yang terlanjur parah.

Bagi Hermansyah—yang juga dosen filologi di UIN Ar-Raniry—setiap lembar naskah kuno adalah benteng pengetahuan. Bencana alam memperlihatkan betapa rentannya ingatan masa lalu jika tidak dijaga bersama.

Penyelamatan ratusan manuskrip ini bukan sekadar urusan menambal kertas hancur atau menjilid ulang sampul yang terlepas. Ini adalah perjuangan melawan kelupaan. Butuh dukungan sumber daya manusia yang terampil, alat khusus, hingga anggaran yang berkesinambungan agar proses restorasi tidak terhenti di tengah jalan.

Sebab, jika lembaran-lembaran naskah kuno itu hancur permanen, bukan cuma fisiknya yang hilang—melainkan juga jejak intelektual, kebudayaan, dan kebijaksanaan para leluhur Aceh yang seharusnya diwariskan kepada generasi mendatang.

Back to top button