CrispyVeritas

Di Balik Tirai Mossad, Mitos Invicibilitas dan Ketergantungan Mutlak pada Tangan Amerika

Dekapitasi yang melumpuhkan IRGC dan Hizbullah bukanlah murni hasil kecanggihan Mossad, melainkan kombinasi dari “payung” raksasa Washington dan pembusukan internal di dalam aparat keamanan Teheran.

JERNIH – Narasi yang beredar di media pro-Israel saat ini begitu heroik: Mossad, badan intelijen legendaris itu, diklaim sebagai aktor tunggal di balik pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, pada Februari 2026.

Namun, jika kita menyingkap tirai operasional di lapangan, potret yang muncul bukanlah kemenangan mandiri, melainkan sebuah ketergantungan struktural yang mendalam pada teknologi dan intelijen Amerika Serikat.

Para analis militer kini mulai melihat bahwa rentetan serangan “dekapitasi” (pemenggalan struktur pimpinan) yang melumpuhkan IRGC dan Hizbullah bukanlah murni hasil kecanggihan Mossad, melainkan kombinasi dari “payung” raksasa Washington dan pembusukan internal di dalam aparat keamanan Teheran.

Para pakar dari International Institute for Strategic Studies (IISS) mencatat bahwa operasi yang menewaskan Khamenei adalah misi gabungan (joint-mission). Tanpa dukungan CIA, Mossad mungkin akan buta.

Jejak teknis misi ini mengarah langsung ke Langley, Virginia, markas besar CIA. Saat rudal menghantam, drone MQ-9 Reaper milik AS dilaporkan berputar di langit Teheran untuk memberikan koordinat presisi. Sementara itu, penghancuran situs rudal Iran di selatan dilakukan oleh rudal Tomahawk dan pembom B-52 milik Amerika.

Bahkan, keputusan untuk menyerang pada Sabtu (28/2/2026) pagi—mengubah jadwal dari rencana awal di malam hari—diambil setelah CIA mengonfirmasi pola hidup Khamenei dengan tingkat akurasi tinggi. “Netanyahu berhasil menyeret Presiden AS ke dalam konfrontasi militer langsung, sebuah rawa yang selama puluhan tahun dihindari oleh pemerintahan AS sebelumnya,” ujar Mamoun Abu Amer, pakar urusan Israel kepada Al Jazeera.

Keberhasilan Israel menyusup ke jantung Teheran sering kali bukan karena teknologi futuristik, melainkan karena kolaborator lokal. Pembunuhan Ismail Haniyeh di sebuah wisma tamu IRGC pada Juli 2024, misalnya, terjadi karena bom telah diselundupkan ke dalam kamar dua bulan sebelum ia tiba. Ini adalah bukti adanya penetrasi agen tidur di dalam sistem keamanan Iran.

Mossad juga mengeksploitasi keretakan sosial-politik. Mereka meretas kamera lalu lintas di sekitar kediaman Khamenei di Jalan Pasteur selama bertahun-tahun untuk mempelajari gerak-gerik pengawal. Saat serangan terjadi, mereka mengacak (jamming) menara seluler setempat agar pengawal tidak bisa menerima peringatan.

“Mossad jarang mengandalkan operatifnya sendiri. Mereka menggunakan proksi asing dengan kewarganegaraan ganda atau memanfaatkan faksi oposisi internal yang bersedia bekerja sama karena alasan ideologis atau pemerasan,” tambah Abu Amer.

Ironisnya, saat Israel memproyeksikan citra tak terkalahkan, “rumah” mereka sendiri ternyata sangat rapuh. Hingga April 2024, lebih dari 30 warga Israel ditangkap karena menjadi mata-mata Iran. Banyak dari mereka direkrut hanya melalui pesan Telegram sederhana dan dibayar via PayPal.

Jaringan mata-mata sewaan ini berhasil memfilmkan situs-situs sensitif seperti pangkalan udara Nevatim dan markas intelijen Glilot. Koordinat inilah yang kemudian digunakan Iran untuk meluncurkan serangan balasan rudal balistik mereka, menghancurkan ilusi bahwa masyarakat Israel tidak dapat ditembus.

Meskipun serangan “dekapitasi” ini terlihat brutal dan efektif, banyak pakar memperingatkan bahwa ini hanyalah kemenangan taktis jangka pendek. Sejarah mencatat daftar kegagalan Mossad yang memalukan, mulai dari kegagalan pembunuhan Khaled Meshaal di Amman tahun 1997 hingga terbongkarnya 26 agen Mossad oleh polisi Dubai pada 2010.

Kini, meskipun pimpinan Iran dan Hizbullah banyak yang tewas, keamanan jangka panjang Israel tetap tidak terjamin. “Netanyahu mengklaim serangan 2025 akan mengamankan Israel selama beberapa generasi. Namun, delapan bulan kemudian, wilayah tersebut kembali dilanda perang, roket tetap menghujani Israel, dan Hizbullah terbukti masih tangguh di darat,” kata Abu Amer.

Pembunuhan demi pembunuhan memang memberikan kepuasan sesaat bagi publik Israel, namun secara strategis, hal itu justru menyeret Israel ke dalam konflik yang tidak mungkin bisa mereka menangkan sendirian tanpa bantuan militer total dari Amerika Serikat.

Back to top button