Crispy

Doa, Ayat Suci, dan Retorika Keagamaan dalam Perang Israel/AS vs Iran

  • Iran menamakan salah satu rudalnya Kgyber Shiken artinya pemecah Khyber, merujuk pada peran Ali bin Abi Thalib menaklukan benteng Yahudi di utara Madinah.
  • Tepat sebelum Paskah Yahudi, PM Netanyahu menyamakan perang melawan Iran dengan kisah kelangsungan hidup bangsa Israel dari Firaun.

JERNIH — Abaikan saling klaim sukses saling menghancurkan Israel/AS dan Iran, dan sempatkan melihat sisi lain konflik ini, yaitu bagaimana retorika keagamaan digunakan dengan cara tak biasa dan intensif, dengan simbol-simbol tiga agama monoisitik; Yudaisme, Kristen, dan Islam, berebut untuk saling mendominasi.

Simbol-simbol itu muncul sebagai komponen wacana dan praktik pihak-pihak yang terlibat konflik. Pernyataan dan pesan politik, bahkan sifat beberapa operasi, sering merujuk pada simbol dan makna keagamaan dalam konteks konfrontasi militer.

Simbolisme Keagamaan Muslim Syiah

Penggunaan simbol keagamaan terlihat jelas dalam wacana Iran, terutama dalam pernyataan resmi dan penamaan senjata yang digunakan. Pejabar Iran sering kali mengutip ayat suci dalam konteks perang, untuk membingkai konfrontasi dalam narasi yang melampaui dimensi politik ke cakrawala ideologis lebih luas. Tujuannya, menarik sentimen Muslim; Syiah atau bukan.

Ali Larijani, mantan ketua Dewan Keamanan Nasional Iran yang terbunuh, menggunakan kutipan keagamaan — termasuk yang berkaitan dengan Imam Hussein — yang berbunyi; “Aku tidak melihat kematian sebagai apa un selain kebahagiaan, dan hidup bersama para penindas sebagai kesengsaraan.”

Di antara ayat-ayat Al Quran yang dipublikasikan Larijani sebelum terbunuh adalah; “Dan Kami akan membalas orang-orang yang bersabar dengan pahala yang sebaik-baiknya atas apa yang mereka lakukan.”

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatolah Mojtaba Khamenei meningkatkan unggahan ayat-ayat Al Quran di platform X. Di antaranya; “Betapa banyak kelompok kecil telah mengalahkan banyak kelompok dengan izin Allah, dan Allah bersama orang-orang yang sabar,” dan “Jika Allah menolongmu, kamu tidak akan memiliki pemenang.”

Selain ayat-ayat dan doa-doa keagamaan, Ayatolah Mojtaba juga menyebut tokoh-tokoh penting dalamIslam, serta menyeru untuk ‘memperbaiki hati’ dan ‘memperkuat tekad’ dalam wacana yang menghubungkan keteguhan militer dengan iman religius.

Ini meluas sampai ke penamaan senjata. Pada 2 Maret, Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan pengenalan rudal Khyber Shiken ke medan perang. Kgyber Shiken artinya pemecah Khyber, merujuk pada peran Ali bin Abi Thalib — sahabat Rasulullah Muhammad SAW paling dipuja Muslim Syiah — menaklukan Benteng Khaibar di utara Madinah.

Selama Ramadan, sebelum Malam Lailatul Qadar, seruan untuk shalat dan perohonan agar mempercepat kedatangan Imam Mahdi muncul. Imam Mahdi adalah imam ke-12 dalam kepercayaan Syiah, nama aslinya Muhammad bin al-Hasan al-Mahdi yang lahir tahun 868 di Samarra dan diyaini ghaib sepuluh tahuh kemudian dan masih hidup. Seruan ini berkaitan dengan kepercayaan perang saat ini dapat membuka jalan bagi kedatangannya.

Shalat di Gedung Putih

Jauh dari Iran, di Gedung Putih — dalam adegan yang luar biasa — Presiden AS Donald Trump dikelilingi sejumlah pemuka agama, yang diantaranya meletakan tangan di bahu sang presiden saat doa-doa semakin intensif.

Selama Pekan Suci, atau hari-hari terakhir Jesus Kristus sebelum disalib menurut kepercayaan Kristen, Gedung Putih menerima delegasi agama dalam perayaan yang bersifat spiritual.

Platform digital menyebarkan klip video yang diunggah di saluran YouTube pemerintahan Trump sebelum dihapus, yang menunjukkan seorang pendeta evangelis membacakan doa yang berbunyi: “Bapa, Engkau telah membangkitkan Donald Trump, Engkau telah mempersiapkannya untuk saat seperti ini, dan kami berdoa, Bapa, untuk memberinya kemenangan.” Klip tersebut, sebelum dihapus, memicu kritik luas di media sosial.

Selama acara Paskah di Gedung Putih, Paula White Cane — penasihat agama Presiden AS Donald Trump — menyamakan jalan hidupnya dengan kisah-kisah keagamaan Yesus Kristus.

“Trump telah membayar harga yang belum pernah dibayar orang lain,” katanya, dan menambahkan bahwa “dia telah dikhianati, ditangkap, dan dituduh secara tidak adil. Pola ini ‘akrab’ dan menggemakan narasi keagamaan.

Selama konferensi pers, Menteri Perang AS Pete Hegseth menyerukan doa untuk tentara AS yang ditempatkan di Teluk ‘dalam nama Yesus Kristus,’ yang memicu kritik bahwa Pete Hegseth mengabaikan keragaman agama di dalam militer.

Hegseth dikenal karena sering mengutip dari Alkitab. Pada konferensi yang sama, ia mengutip sebuah bagian dari Kitab Mazmur yang dikaitkan dengan nabi Daud: “Terpujilah Tuhan, batu karangku, yang mengajar tanganku untuk berperang dan jari-jariku untuk berperang.” Sejak berkuasa, ia telah menyelenggarakan doa di Pentagon, yang pertama bagi seorang menteri pertahanan AS.

Ia juga mengatakan kepada CBC bahwa ia sedang melawan “ekstremis agama yang berupaya memperoleh kemampuan nuklir sebagai persiapan Armageddon” – sebuah referensi kepada konsep alkitabiah tentang pertempuran akhir zaman antara kebaikan dan kejahatan.

Yayasan Kebebasan Beragama Militer AS (MRFF) mengumumkan pada 3 Maret 2026 bahwa mereka telah menerima lebih dari 200 pengaduan dari personel militer dari berbagai cabang angkatan bersenjata – termasuk Marinir, Angkatan Udara, dan Angkatan Luar Angkasa – yang menuduh komandan mereka menggunakan retorika Kristen ekstremis untuk membenarkan perang melawan Iran.

Organisasi hak-hak sipil Muslim, Council on American-Islamic Relations (CAIR), mengutuk penggunaan retorika ini oleh Pentagon, menggambarkannya sebagai ‘berbahaya’ dan ‘anti-Muslim’.

Dari ‘Perisai Yudas’ menjadi ‘Raungan Assad’

Sejak awal perang melawan Iran, Israel telah mengubah nama kampanye militernya dari “Perisai Yudas” menjadi “Raungan Singa”, sebuah pilihan yang membawa konotasi simbolis yang mendalam dalam tradisi keagamaan Yahudi.

Dalam teks-teks Alkitab, singa sangat terkait dengan suku Yehuda, salah satu suku Israel, dan merupakan simbol kekuatan, kedaulatan, dan kepemimpinan. Dengan demikian, nama tersebut membangkitkan citra kekuatan dahsyat yang menunjukkan kehadirannya, dan beririsan dengan wacana Israel yang menggambarkan perang melawan Iran sebagai pertempuran eksistensial untuk melindungi keamanan nasional.

PM Benjamin Netanyahu telah meningkatkan penggunaan referensi Tanakh dalam retorikanya sejak pecahnya perang pada 28 Februari, menggunakan simbol-simbol keagamaan untuk membingkai konfrontasi. Misalnya, tepat sebelum Paskah, ia menyamakan perang di Iran dengan kisah kelangsungan hidup bangsa Israel dari Firaun.

Ia sebelumnya mengutip Taurat, membandingkan Iran dengan musuh kuno dalam Taurat, yaitu orang Amalek, yang dikenal dalam tradisi Yahudi sebagai ‘kejahatan mutlak’. Netanyahu dan pejabat Israel lainnya sebelumnya menggunakan istilah ‘Amalek’ untuk merujuk pada warga Palestina di Gaza selama perang di Gaza setelah serangan Hamas di selatan negara Yahudi pada 7 Oktober 2023.

Dalam adegan penting lainnya, Mike Huckabee — duta besar Washington untuk Tel Aviv — mengatakan kepada komentator konservatif Amerika Tucker Carlson, selama wawancara pada bulan Februari bahwa “tidak apa-apa” bagi Israel untuk mengambil alih “sebagian besar Timur Tengah” karena hal itu dijanjikan kepadanya dalam Taurat.

Konflik geopolitik dan geostrategis atau apa?

Terlepas dari meningkatnya kehadiran simbolisme dan wacana keagamaan, banyak peneliti dan analis percaya bahwa apa yang kita saksikan bukanlah konflik keagamaan semata, karena Timur Tengah terperangkap dalam persaingan hegemoni antara kekuatan global, aktor regional, dan blok ideologis. Mereka berpendapat bahwa persaingan ini dapat menyebabkan munculnya agama sebagai katalis, yang digunakan untuk mensakralkan kepentingan geopolitik.

Meskipun para analis percaya bahwa membingkai konflik dalam bentuk keagamaan ini bertujuan untuk memobilisasi opini publik, mendapatkan dukungan, dan menjelekkan pihak lain, perang regional—pada intinya—bukanlah konflik keagamaan, melainkan persaingan antara kekuatan regional dan global.

Doa, ayat-ayat, dan kitab suci: Bagaimana simbol-simbol keagamaan digunakan dalam perang yang sedang berlangsung di Timur Tengah?

Back to top button