Fenomena Tagar #TACO, Balada “Trump Always Chickens Out” di Tengah Gejolak Global

Dari tarif dagang hingga moncong meriam, tagar #TACO bermetamorfosis dari sekadar istilah ekonomi menjadi ejekan global paling mematikan bagi karier politik Trump.
WWW.JERNIH.CO – Dunia media sosial kembali dihebohkan dengan kreativitas warganet yang tajam dan sarat sindiran. Kali ini, sebuah akronim kuliner bertransformasi menjadi senjata politik yang ampuh: #TACO.
Munculnya tagar ini dari sekadar iseng hingga kemudian meledak. TACO merupakan singkatan dari kalimat sarkastik “Trump Always Chickens Out” (Trump Selalu Menarik Diri/Pengecut). Tagar ini membanjiri platform seperti X, Instagram, hingga TikTok tepat setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan gencatan senjata dalam ketegangan yang melibatkan Iran pada tahun 2026 ini.
Fenomena ini mencerminkan skeptisisme publik terhadap gaya kepemimpinan Trump yang dinilai penuh dengan retorika agresif namun sering kali berakhir dengan langkah mundur yang tiba-tiba.
Meskipun baru meledak secara luas pasca-pengumuman gencatan senjata dengan Iran, istilah TACO sebenarnya memiliki akar sejarah yang cukup spesifik. Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh harian ekonomi bergengsi, Financial Times, pada tahun 2025. Saat itu, para analis Wall Street mulai menggunakan frasa tersebut untuk menggambarkan pola kebijakan perdagangan Trump—khususnya terkait ancaman tarif besar-besaran terhadap mitra dagang AS.
Polanya selalu serupa. Trump mengumumkan kebijakan atau ancaman yang sangat keras (misalnya tarif tinggi atau aksi militer). Kemudian terjadi gejolak di pasar global atau ketegangan diplomatik yang memuncak.
Ujung-ujungnya Trump melakukan negosiasi di menit-menit terakhir dan membatalkan atau melunakkan ancaman aslinya. Para pengamat pasar melihat ini bukan sebagai strategi “Seni Negosiasi” (The Art of the Deal), melainkan sebagai bentuk inkonsistensi yang melemahkan posisi tawar Amerika Serikat di mata dunia.

Keputusan Trump untuk melakukan gencatan senjata dengan Iran menjadi katalisator yang mengubah istilah teknis ekonomi ini menjadi meme budaya pop. Bagi para pendukungnya, langkah ini mungkin dilihat sebagai upaya menjaga perdamaian dunia. Namun bagi para kritikus, ini adalah konfirmasi terbaru dari pola “TACO”.
Para pengguna media sosial ramai-ramai mengunggah foto taco di hari Selasa (mengadopsi tradisi Taco Tuesday) dengan keterangan foto yang menyentil kebijakan luar negeri Trump. Narasi yang dibangun adalah bahwa Trump “menggonggong” sangat keras melalui media sosial dan konferensi pers, namun “takut” saat harus benar-benar menarik pelatuk atau menghadapi konsekuensi nyata dari ancamannya.
Popularitas tagar #TACO menunjukkan betapa cepatnya opini publik bergeser di era digital. Penggunaan humor dan akronim yang mudah diingat membuat kritik politik menjadi lebih aksesibel dan cepat menyebar. Fenomena ini berdampak yakni penyederhanaan isu kompleks, isu geopolitik yang rumit antara AS dan Iran disederhanakan menjadi narasi keberanian vs. ketakutan melalui tagar ini.
Para investor kini mulai memasukkan faktor “TACO” dalam proyeksi ekonomi mereka, berasumsi bahwa ancaman Trump mungkin hanya gertakan belaka.
Bagi lawan politik Trump, tagar ini adalah alat kampanye yang efektif untuk melabeli pemerintahannya sebagai pemerintahan yang tidak stabil dan sulit diprediksi.(*)
BACA JUGA: Gejala Narsistik-Demensia, Apakah Trump Masih Layak Jadi Presiden?






