Crispy

Gol Spektakuler Rizki Ridho Menangkan Puskas Award 2025

Kendati prestasi PSSI jeblok sepanjang 2025, namun gol Rizki Ridho cukup bisa jadi obat pelipur lara sepak bola Indonesia. Ini juga berkat kekuatan voting dari penggemar.

WWW.JERNIH.CO –  Dunia sepak bola internasional kembali mencatat sejarah baru. Dalam malam penganugerahan The Best FIFA Football Awards 2025 yang digelar di Zurich, Swiss, nama Rizki Ridho menggema di panggung tertinggi FIFA. Bek sekaligus kapten Timnas Indonesia itu resmi dinobatkan sebagai pemenang FIFA Puskas Award 2025, penghargaan prestisius untuk gol terindah dunia.

Kemenangan ini untuk pertama kalinya dalam sejarah, pemain asal Indonesia—bahkan Asia Tenggara—berhasil membawa pulang trofi Puskas Award. Sebuah momen yang menandai babak baru bagi sepak bola nasional dan mengangkat nama Indonesia ke panggung global.

Gol yang mengantarkan Ridho ke puncak penghargaan tercipta dalam laga krusial Kualifikasi Piala Dunia 2026. Berawal dari keberanian membaca permainan di lini belakang, Ridho melakukan intersepsi bersih di area pertahanannya sendiri. Alih-alih membuang bola, ia justru melesat maju, menggiring bola melewati tiga pemain lawan dengan ketenangan dan kepercayaan diri luar biasa.

Aksi tersebut ditutup dengan sentuhan magis: sebuah tendangan first-time volley melengkung dari luar kotak penalti yang meluncur sempurna ke pojok atas gawang. Gol yang bukan hanya menentukan hasil pertandingan, tetapi juga memikat jutaan pasang mata karena kombinasi teknik, keberanian, dan insting sepak bola tingkat tinggi—terutama dari seorang bek tengah.

FIFA Puskas Award merupakan penghargaan tahunan yang diberikan kepada pesepak bola pria atau wanita yang mencetak gol paling indah secara estetika dalam satu tahun kalender. Penghargaan ini didirikan pada 20 Oktober 2009 atas inisiatif mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter, dan dinamai Ferenc Puskás—legenda sepak bola Hungaria dan Real Madrid yang terkenal dengan gol-gol spektakulernya pada era 1950-an.

Pemenang pertama Puskas Award adalah Cristiano Ronaldo pada 2009, lewat gol tendangan jarak jauh ikoniknya saat membela Manchester United melawan FC Porto di Liga Champions. Sejak saat itu, Puskas Award menjadi simbol bahwa keindahan sepak bola melampaui statistik, posisi bermain, maupun kasta liga.

Tahun 2025 sendiri dikenal sebagai salah satu edisi paling kompetitif. Rizki Ridho harus bersaing dengan deretan nama besar dari liga-liga top Eropa. Di antara para finalis adalah Santiago Montiel dari Independiente dengan gol salto spektakuler, Lamine Yamal dari Barcelona lewat curling shot kaki kiri di laga El Clasico, serta Declan Rice dari Arsenal melalui tendangan keras jarak 35 meter. Namun, kombinasi aksi individu, konteks pertandingan, serta dukungan masif publik global—terutama dari suporter Indonesia—membuat gol Ridho unggul dalam penilaian panel FIFA dan fan voting.

Dalam pidato singkatnya setelah menerima trofi, Ridho menyampaikan pesan yang menyentuh. Ia menegaskan bahwa penghargaan tersebut bukan hanya miliknya, melainkan milik seluruh rakyat Indonesia yang terus memberikan dukungan tanpa henti. Pernyataannya menjadi simbol kepercayaan diri baru: bahwa pemain Indonesia mampu bersaing dan diakui di level tertinggi dunia.

Kemenangan ini juga memiliki makna historis lain. Rizki Ridho tercatat sebagai pemain bertahan pertama yang memenangkan Puskas Award. Ia sekaligus menjadi pemain Asia ketiga yang meraih penghargaan ini, mengikuti jejak Mohd Faiz Subri (Malaysia, 2016) dan Son Heung-min (Korea Selatan, 2020). Sebuah bukti bahwa keindahan gol bukan monopoli penyerang, dan bahwa mimpi besar bisa lahir dari siapa saja, di posisi mana saja.(*)

BACA JUGA: PSSI dan Reformasi Setengah Hati, Ketika Kenyamanan Dipertahankan

Back to top button