Crispy

Hizbullah, Benteng Baja Lebanon Mimpi Buruk bagi Israel

Dengan disiplin baja dan teknologi rudal yang mampu menjangkau jantung Tel Aviv, kelompok ini menjadi satu-satunya kekuatan yang membuat Israel berpikir seribu kali untuk melakukan invasi.

WWW.JERNIH.CO –  Ditinggal Amerika bergencatan senjata dengan Iran, Israel kini sibuk sendiri menyerang Lebanon. Belum lagi dengan urusan di Palestina plus Gaza. Ini sekaligus memastikan Israel adalah negara yang jauh dari kata damai. Apa pun alasannya, negeri ini memang haus permusuhan.

Dengan Hizbullah misalnya menunjukkan sikap penyulut api peperangan. Yang tentu saja akhirnya menyeret Lebanon pula. Lebanon dan Hizbullah sendiri adalah dua entitas yang kini hampir mustahil dipisahkan saat berbicara tentang geopolitik Timur Tengah.

 Hizbullah bukan hanya sebuah organisasi militer, melainkan sebuah fenomena kompleks yang mencakup partai politik, penyedia layanan sosial, dan kekuatan bersenjata yang sering disebut sebagai “negara di dalam negara”.

Hizbullah, yang berarti “Partai Allah”, lahir dari rahim kekacauan Perang Saudara Lebanon dan invasi Israel ke Lebanon Selatan pada tahun 1982.

Kala itu invasi Israel bertujuan untuk mengusir Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). Namun, pendudukan tersebut memicu perlawanan dari komunitas Syiah di Lebanon Selatan yang merasa terpinggirkan.

Dengan dukungan ideologis dan finansial dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, kelompok-kelompok kecil pejuang Syiah bersatu di bawah bendera Hizbullah. Mereka terinspirasi oleh Revolusi Islam Iran tahun 1979.

Sejak awal, misi utamanya adalah perlawanan (muqawama) untuk mengakhiri pendudukan Israel di tanah Lebanon. Secara ideologis, mereka berkomitmen pada penghancuran negara Israel dan penentangan terhadap pengaruh Barat (terutama AS) di kawasan tersebut.

Di Lebanon, Hizbullah adalah kekuatan politik legal yang memiliki kursi di parlemen dan kabinet. Dukungan utama mereka berasal dari komunitas Muslim Syiah (sekitar 27% hingga 30% populasi Lebanon). Namun, mereka juga menjalin aliansi dengan beberapa faksi Kristen dan Sunni melalui “Blok Kesetiaan pada Perlawanan”.

Popularitas Hizbullah berakar pada jaring pengaman sosial yang mereka bangun. Mereka mengelola rumah sakit, sekolah, dan sistem bantuan pangan di wilayah yang sering kali diabaikan oleh pemerintah pusat, seperti Lembah Bekaa dan pinggiran selatan Beirut (Dahiya).

Berbeda dengan milisi lain yang dilucuti senjatanya setelah perang saudara berakhir pada 1990, Hizbullah tetap dipersenjatai dengan dalih sebagai “kekuatan nasional” yang melindungi Lebanon dari ancaman Israel.

Itulah yang membuat Israel khawatir dan selalu kebakaran jenggot. Hizbullah dianggap sebagai aktor non-negara dengan persenjataan paling canggih di dunia. Kekuatannya jauh melampaui militer resmi Lebanon.

Hizbullah diperkirakan memiliki sekitar 40.000 hingga 50.000 pejuang aktif, dengan jumlah cadangan yang bisa mencapai total 100.000 orang. Unit yang paling ditakuti adalah Unit Radwan, pasukan elit yang dilatih untuk melakukan infiltrasi ke wilayah Israel dan pertempuran jarak dekat.

Hizbullah memiliki lebih dari 150.000 roket dan rudal. Yang membuat Israel sangat khawatir bukan hanya jumlahnya, tetapi akurasinya. Mereka memiliki rudal jarak jauh seperti Fateh-110 yang mampu menjangkau Tel Aviv dengan akurasi tinggi, mengancam infrastruktur vital seperti pembangkit listrik dan bandara.

Pengalaman di Suriah dan Lebanon Selatan membekali mereka dengan penguasaan rudal Kornet, yang mampu menembus tank Merkava kebanggaan Israel.

Hizbullah menguasai medan Lebanon Selatan yang berbukit. Mereka membangun jaringan terowongan bawah tanah yang sangat luas untuk menyimpan senjata dan memobilisasi pasukan tanpa terdeteksi oleh drone atau satelit Israel.

Bagi Israel, Hizbullah adalah ancaman eksistensial yang jauh lebih berbahaya daripada Hamas. Ada beberapa alasan utama mengapa Israel merasa harus melakukan serangan preventif atau destruktif terhadap mereka.

Meskipun Israel memiliki sistem Iron Dome, serangan masif puluhan ribu roket Hizbullah dalam waktu singkat dapat “membanjiri” (saturasi) sistem tersebut, menyebabkan roket-roket tetap jatuh di pusat pemukiman warga.

Israel tidak ingin Hizbullah semakin kuat dengan transfer teknologi dari Iran. Serangan sering kali ditujukan untuk memutus jalur pasokan senjata dari Suriah.  Jika dulu Israel yang selalu menginvasi, kini Israel khawatir Unit Radwan akan melintasi perbatasan dan menduduki wilayah Galilea di utara Israel.

Hizbullah adalah “ujung tombak” Iran di bagian utara Israel. Menyerang Hizbullah dianggap sebagai cara Israel untuk melemahkan pengaruh Iran tepat di depan pintu rumah mereka.

Dengan kata lain Hizbullah telah bertransformasi dari kelompok gerilya kecil menjadi kekuatan militer regional yang tangguh. Di Lebanon, mereka adalah aktor politik yang tak tergantikan sekaligus kontroversial.

Bagi Israel, keberadaan Hizbullah adalah bom waktu yang sewaktu-waktu bisa memicu perang regional skala besar. Ketakutan Israel bukan hanya pada ideologinya, tetapi pada kemampuan teknis Hizbullah yang kini setara dengan tentara reguler negara modern.

Itu baru Hizbullah. Tak terbayang jika Israel bikin ulah lalu mesti berhadapan pula dengan kolaborasi Hamas, Houthi, maupun kelompok seperti Kata’ib Hezbollah dan Harakat al-Nujaba adalah rekan seperjuangan di Irak yang sering berkoordinasi dalam meluncurkan serangan drone atau roket ke pangkalan AS atau wilayah Israel.

Kecuali para pemimpinnya sadar bahwa negeri kecil mereka ingin aman dan damai bersejajar dengan negara di sekitarnya. Jika tetap egois, seumur hidup Israel adalah negeri kacau balau.(*)

BACA JUGA: Hizbullah dan Houthi Gabung Iran Gempur Israel, Beirut dan Haifa Membara

Back to top button