‘ICE Out’: Karpet Merah Golden Globes 2026 Berubah Jadi Mimbar Protes Kekerasan Petugas Imigrasi AS

Aksi selebriti ini membuktikan bahwa Hollywood tetap menjadi “panggung politik” paling berpengaruh di dunia. Kehadiran pesan politik di karpet merah tahun ini menandai kembalinya aktivisme vokal para artis setelah tahun sebelumnya cenderung apolitis.
JERNIH – Di balik gemerlap lampu sorot dan gaun mewah, ajang penghargaan Golden Globes yang berlangsung Minggu malam (11/1/2026) berubah menjadi panggung kecaman keras terhadap kebijakan imigrasi era Donald Trump. Sejumlah bintang papan atas Hollywood memilih menanggalkan netralitas politik mereka dengan mengenakan pin hitam-putih bertuliskan ‘Be Good’ dan ‘ICE Out’.
Aksi ini merupakan bentuk solidaritas atas kematian Renee Good, seorang warga yang tewas ditembak oleh petugas Immigration and Customs Enforcement (ICE) saat berada di dalam mobilnya di Minneapolis, pekan lalu.
Kehadiran pesan politik di karpet merah tahun ini menandai kembalinya aktivisme vokal para artis setelah tahun sebelumnya cenderung apolitis.
- Mark Ruffalo, Wanda Sykes, dan Natasha Lyonne terlihat mengenakan pin tersebut sejak di karpet merah.
- Jean Smart mengenakan pin tersebut tepat di gaunnya saat naik ke panggung untuk menerima penghargaan Aktris Terbaik serial musikal/komedi.
- Ariana Grande juga terlihat mengenakan simbol protes tersebut di dalam aula utama.
Saat ditanya mengenai makna pin tersebut, Mark Ruffalo memberikan pernyataan tajam: “Ini untuk Renee Nicole Good, yang telah dibunuh. Ini untuk orang-orang di Amerika Serikat yang hari ini merasa diteror dan ketakutan,” tegasnya seraya mengkritik kebijakan administrasi saat ini.
Kematian Renee Good pada Rabu lalu memicu gelombang demonstrasi besar di berbagai kota di AS. Di Minneapolis, lokasi penembakan, situasi semakin memanas karena ICE tengah melakukan operasi penegakan hukum imigrasi terbesar dalam sejarah.
Tragedi ini bukan insiden tunggal. Hanya beberapa hari sebelumnya, petugas ICE yang sedang tidak bertugas menembak mati Keith Porter (43) di Los Angeles. FBI kini telah membuka investigasi, namun tuntutan publik agar ada akuntabilitas nyata terus menguat.
“Kita butuh setiap bagian dari masyarakat sipil untuk bersuara. Kita butuh artis dan penghibur kita untuk merefleksikan apa yang sebenarnya terjadi di masyarakat,” ujar Nelini Stamp dari Working Families Power, salah satu penggerak aksi pin tersebut.
Dari Pesan Singkat ke Karpet Merah
Gerakan “ICE Out” ini lahir dari inisiatif akar rumput yang sangat cepat. Ide ini muncul dari pertukaran pesan singkat antara Nelini Stamp dan Jess Morales Rocketto, direktur eksekutif kelompok advokasi Latino, Maremoto.
Mereka menyadari bahwa ajang budaya besar seperti Golden Globes memiliki daya jangkau jutaan penonton yang bisa dimanfaatkan untuk mengekspos isu-isu politik sensitif. Strategi mereka sederhana namun efektif yakni menghubungi jaringan influencer dan aktivis buruh, membagikan pin di pesta-pesta industri menjelang malam penghargaan serta menitipkan pin tersebut ke dalam tas para selebriti dengan pesan personal.
Nelini Stamp merujuk pada momen bersejarah Oscar 1973, ketika Sacheen Littlefeather naik ke panggung atas nama Marlon Brando untuk memprotes perlakuan Hollywood terhadap penduduk asli Amerika. “Ada tradisi panjang di mana pembuat seni mengambil sikap demi keadilan. Kami akan melanjutkan tradisi itu,” tegas Stamp.
Kampanye pin ini diprediksi akan terus berlanjut sepanjang musim penghargaan tahun 2026, memastikan bahwa nama Renee Good dan korban kekerasan petugas imigrasi lainnya tidak terlupakan begitu saja di tengah sorak-sorai perayaan industri film.






