
Menbud Fadli mengapresiasi langkah cepat Prancis dalam menindaklanjuti lima kesepakatan utama. Kerja sama itu meliputi kolaborasi antarmuseum, penguatan kerja sama perfilman dengan Centre National du Cinéma (CNC), peningkatan kapasitas sineas melalui La Fémis, riset dan pengelolaan koleksi antara Indonesian Heritage Agency (IHA) dan École française d’Extrême-Orient (EFEO), serta kerja sama museum dan warisan budaya antara IHA dan Musée Guimet.
JERNIH–Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, menegaskan kebudayaan sebagai jantung hubungan bilateral kedua negara dalam pertemuan bilateral dan dialog strategis yang digelar akhir pekan lalu. Pertemuan ini menjadi penanda penguatan diplomasi budaya Indonesia–Prancis yang telah terjalin selama 75 tahun.
Diskusi tersebut menegaskan komitmen kedua negara untuk merealisasikan kolaborasi budaya sebagai tindak lanjut nota kesepahaman yang ditandatangani pada Mei lalu. Kerja sama itu mencakup pengelolaan museum, pelindungan warisan budaya, hingga penguatan ekosistem perfilman.
Pertemuan ini merupakan pertemuan lanjutan setelah kedua menteri bertemu di Paris pada Juli lalu dalam forum Strategic Cultural Dialogue, bertepatan dengan kunjungan resmi Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto pada peringatan Bastille Day. Fadli Zon menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Prancis yang menempatkan kebudayaan sebagai pilar utama hubungan bilateral kedua negara.
Dalam pertemuan tersebut Menbud Fadli mengapresiasi langkah cepat Prancis dalam menindaklanjuti lima kesepakatan utama. Kerja sama itu meliputi kolaborasi antarmuseum, penguatan kerja sama perfilman dengan Centre National du Cinéma (CNC), peningkatan kapasitas sineas melalui La Fémis, riset dan pengelolaan koleksi antara Indonesian Heritage Agency (IHA) dan École française d’Extrême-Orient (EFEO), serta kerja sama museum dan warisan budaya antara IHA dan Musée Guimet.
Fadli juga menyoroti penguatan kolaborasi dengan International Alliance for the Protection of Heritage in Conflict Areas (ALIPH). Organisasi ini telah mendukung lebih dari 550 proyek di 55 negara, termasuk pelestarian Masjid Wapauwe di Maluku bersama Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku. Kerja sama dengan ALIPH dinilai relevan, terutama dalam konteks pelindungan warisan budaya dan langkah darurat pascabencana, menyusul bencana alam yang baru-baru ini terjadi di Sumatra.
Di sektor perfilman, kerja sama Indonesia–Prancis ditandai dengan penyelenggaraan Panorama/Retrospective of Indonesian Cinema di La Cinémathèque française, Paris. Program ini merupakan implementasi langsung dari Joint Strategy for Culture serta Letter of Intent kerja sama perfilman dan audiovisual antara Kementerian Kebudayaan RI dan CNC.
Dengan ekosistem perfilman Indonesia yang terus berkembang, peluang co-production bersama Prancis dinilai semakin terbuka, termasuk di bidang film animasi. Fadli menekankan pentingnya memperluas jangkauan penonton film Indonesia, termasuk di kalangan audiens Prancis.
“Saat ini, enam tim sineas Indonesia tengah mengikuti pelatihan daring dan direncanakan melanjutkan program co-production secara langsung di Prancis melalui INA France Lab pada tahun mendatang,” ujar Rachida Dati. Ia menambahkan bahwa ke depan kerja sama perfilman akan difokuskan pada literasi perfilman, penguatan jalur co-production, inkubasi produser, program residensi dan pelatihan teknis, serta peningkatan kehadiran film Indonesia di festival dan platform Prancis, dan sebaliknya.
Pada sektor literasi perbukuan, Menbud Dati menyampaikan bahwa enam judul buku Indonesia telah diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis. Proses tersebut didukung oleh dua penerbit potensial serta National Centre for Books yang turut menanggung pembiayaan penerjemahan.
Sementara di bidang museum dan warisan budaya, Prancis menyambut baik penguatan kerja sama dengan Indonesia melalui Grand Palais. Kolaborasi ini meliputi berbagi keahlian, penyelenggaraan pameran, program edukasi seni untuk anak-anak, serta peluang menghadirkan pameran Prancis ke Indonesia. Di sektor industri budaya dan kreatif, Indonesia juga membuka peluang kolaborasi di bidang seni pertunjukan, musik, desain, wastra, hingga proyek kreatif berbasis situs dan teknologi digital.
Fadli menegaskan komitmen Indonesia untuk terus memperdalam kemitraan budaya dengan Prancis. “Kami mendorong koordinasi yang lebih erat di isu-isu strategis seperti pelindungan warisan budaya, transformasi digital kebudayaan, dan penguatan peran budaya dalam agenda pembangunan berkelanjutan,” kata Fadli.
Usai pertemuan bilateral, Fadli Zon turut menyaksikan penyerahan penghargaan dari Pemerintah Prancis kepada sineas Indonesia Joko Anwar. Joko Anwar menerima penghargaan Chevalier de l’ordre des Arts et des Lettres atau Knight of the Order of Arts and Letters.
“Saya mengapresiasi penghargaan yang diberikan Pemerintah Prancis kepada Joko Anwar. Ini merupakan pengakuan internasional atas kontribusi dan kiprah perfilman Indonesia di tingkat global,” ujar Fadli. Ia menilai penghargaan tersebut penting tidak hanya bagi Joko Anwar, tetapi juga bagi perkembangan perfilman Indonesia secara keseluruhan. [ ]






