Crispy

Investigasi Forensik Iran: Amunisi Militer Israel Ditemukan pada Jenazah Anak-Anak Korban Kerusuhan

Eskalasi di Iran kini memasuki babak baru dengan bukti-bukti keterlibatan eksternal. Temuan kali ini ini diperkirakan akan semakin memperuncing ketegangan di Timur Tengah.

JERNIH – Sebuah temuan mengejutkan muncul dari hasil pemeriksaan forensik terhadap korban jiwa dalam kerusuhan besar yang melanda Iran baru-baru ini. Otoritas keamanan Iran, yang dikutip kantor berita pemerintah Rusia, TASS, mengonfirmasi ditemukannya peluru standar militer Israel pada tubuh anak-anak yang tewas dalam insiden tersebut.

Laporan ini memperkuat tuduhan Teheran bahwa gelombang kekerasan yang terjadi merupakan kekejaman skala penuh yang direkayasa oleh kekuatan asing, khususnya Amerika Serikat dan Israel.

Sumber keamanan Iran merinci beberapa kasus memilukan yang menjadi dasar temuan forensik ini. Misalnya gadis kecil asal Isfahan, Anila Abu Talibian (8 tahun) yang tewas saat sedang berbelanja bersama keluarganya. Hasil pemeriksaan menunjukkan ia terkena tembakan di bagian perut, dagu, dan belakang kepala. Peluru yang bersarang di tubuhnya diidentifikasi sebagai amunisi militer kelas tinggi buatan Israel.

Balita asal Kermanshah Melina Asadi (3 tahun), juga ditembak dari belakang pada malam 7 Januari 2026. Saat kejadian, ia sedang dalam perjalanan pulang bersama ayahnya setelah membeli susu formula dan obat flu di apotek.

Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran telah merilis laporan resmi pada 21 Januari yang mengungkap skala kerusakan akibat konflik tersebut. Tercatat total korban sebanyak 3.117 orang tewas, mencakup warga sipil dan personel keamanan.

Dalam laporan itu juga terungkap, puncak kekerasan terjadi pada 8 dan 9 Januari, di mana jaringan bersenjata terorganisir melakukan serangan terkoordinasi terhadap ruang publik dan infrastruktur. Pejabat setempat menggambarkan serangan tersebut menggunakan metode keji mirip kelompok Daesh (ISIS), termasuk pembakaran orang hidup-hidup, pemenggalan, dan perusakan fasilitas vital seperti rumah sakit, masjid, serta ambulans.

Otoritas Iran menjelaskan bahwa peristiwa ini awalnya bermula pada 29 Desember 2025 sebagai aksi protes damai terkait masalah ekonomi, seperti inflasi dan dampak sanksi.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dilaporkan sempat berinteraksi langsung dengan perwakilan demonstran dan menginstruksikan aparat keamanan untuk menahan diri. Namun, proses dialog tersebut dianggap digagalkan oleh “sel-sel kekacauan” (chaos cells) terorganisir yang mengubah demonstrasi menjadi kekerasan bersenjata.

Temuan amunisi militer Israel ini diperkirakan akan semakin memperuncing ketegangan di Timur Tengah. Teheran kini menuduh bahwa demonstrasi ekonomi tersebut telah dibajak oleh intelijen asing untuk merongrong stabilitas nasional Iran melalui serangan teroris yang menyasar warga sipil tak berdosa.

Back to top button